Renungan Harian Youth, Kamis 20 Februari 2025
Efesus 5:1-2, Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu.
Seorang ayah mengajak putri kecilnya bermain dan berjalan-jalan di taman kota. Sang ayah berkata lembut, “Nak, pegang tangan ayah ya.. Ikuti langkah ayah.” Tanpa ragu, si gadis kecil menggenggam erat tangan ayahnya. Matanya berbinar penuh kepercayaan, senyumnya merekah penuh kegembiraan. Ia tahu selama mengikuti ayahnya, dirinya akan aman dan bahagia.
Begitulah gambaran sederhana yang mendalam tentang bagaimana kita dipanggil untuk “manut” atau taat dalam mengikuti Tuhan Yesus. Dalam Efesus 5:1-2, Rasul Paulus mengajak kita untuk menjadi “penurut-penurut Allah” yang taat kepada-Nya. Ketaatan kepada Tuhan bukanlah beban, melainkan respons cinta seorang anak kepada Bapa yang mengasihinya. Sama seperti gadis kecil yang dengan penuh sukacita mengikuti ayahnya, kita juga dipanggil untuk mengikuti Tuhan dengan keyakinan dan kasih. Paulus ingin agar kita menjadi penurut-penurut Allah. Penurut bisa diartikan sebagai follower (pengikut) atau initater (peniru).
Allah yang adalah kasih, sehingga kita sebagai penurutNya juga harus mengikuti dan meniru kasihNya.
Apa saja syarat untuk menjadi penurut Allah?
Pertama, paham akan identitas sebagai anak terkasih. Ketaatan kepada Allah merupakan ungkapan cinta yang tulus, bukan kewajiban yang membebani. Kita sadar telah dikasihi Allah, membuat ketaatan menjadi respons alami dan penuh sukacita terhadap kasih-Nya.
Ketaatan menuntut tanggung jawab dan penyerahan penuh/total. Jujur, tidaklah mudah bersikap taat sebab harus tunduk dan menuruti peraturan. Yesus sebagai Anak tunggal Bapa menjadi teladan sempurna dalam ketaatan. Di dalam pergumulan-Nya di Taman Getsemani, Yesus berdoa sampai tiga kali, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini daripada-Ku tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
Harus diakui, tidaklah enak bagi daging untuk menaati perintah Tuhan apalagi dituntut penyerahan penuh kepada-Nya. Namun yakinlah ketaatan berbuah keberhasilan; sebaliknya, ketidaktaatan mem-bawa kepada kegagalan. Untuk itu belajarlah kepada Tuhan dalam kerendahan hati.
Kedua, meneladani karakter Allah. Menjadi penurut Allah berarti meneladani karakter-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kita dipanggil untuk mencerminkan sifat-sifat Allah, terutama kasih-Nya yang tanpa syarat. Kasih Kristus, yang rela berkorban untuk kita, harus menjadi panduan dalam setiap tindakan kita. Dengan meniru sifat-sifat Allah, kita dapat hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Tuhan sudah mendemonstrasikan kasih-Nya maka bila kita mengalami kasih-Nya hidup kita diubahkan untuk mampu meneladani apa yang telah dikerjakan oleh-Nya. Jika tidak, kita akan bersikap seperti murid-murid-Nya.
Bagaimana sikap kita menghadapi orang-orang yang keras kepala dan suka mela-wan? Teladani Guru kita yaitu Yesus Kristus dalam memperlakukan para murid-Nya. Sekali Ia mengampuni, Ia tidak pernah mengungkit-ungkit masa lalu mereka.
Kasih itu harus dapat dirasakan dan dinikmati; kasih Kristus sudah sempurna bagi kita hendaknya kita mau meneladani Dia.
Ketiga, hidup dalam kasih. Ini bukan hanya tentang merasakan kasih, tetapi tentang tindakan nyata yang merefleksikan kasih Kristus. Hidup dalam kasih berarti mengasihi sesama dengan cara yang sama seperti Kristus mengasihi kita, dengan pengorbanan, kemurahan hati, dan kesediaan untuk memaafkan. Setiap tindakan kita harus mencerminkan kasih Kristus yang menjadi panduan dalam berinteraksi dengan orang lain.
Seperti apakah wujud kasih yang murni yang diharapkan oleh Paulus agar kita lakukan? Dalam ayat yang ke-3 hingga yang ke-7, disebutkan bahwa kita perlu mengasihi dengan kasih yang bebas dari segala macam isyarat dan amoral. Perbuatan-perbuatan buruk yang disebutkan pada ayat yang 3-7 sudah tidak pantas lagi kita lakukan karena kita sudah percaya dan mengaku percaya pada Tuhan Yesus. Karena kita sudah memberi hidup baru dan menjadi penurut-penurut Allah yang lebih baik lagi.
Dengan menghidupi kasih Kristus, kita menjadi anak-anak terang di tengah-tengah kegelapan. Terang Kristus yang bercahaya atas kita justru tampak jelas saat kita menghadapi persoalan untuk menelanjangi tempat-tempat tersembunyi yang memalukan (Ef. 5:13-14).
Memahami panggilan untuk menjadi penurut Allah mengajarkan kita untuk meresapi kasih yang telah diberikan Allah kepada kita dan menjadikannya sebagai dasar dalam ketaatan kita. Kita juga diundang untuk mengikuti Tuhan Yesus dengan sukacita dan keyakinan, mengetahui bahwa Dia akan membimbing kita melewati segala tantangan hidup. Ketaatan yang didorong oleh kasih dan teladan Kristus, akan membuat hidup kita menjadi cerminan hidup dari kasih Allah yang sejati.
Ketika Allah menyelamatkan kita, maka la tidak hanya membenarkan diri kita, melainkan la juga meminta kita hidup kudus. Jika tidak demikian, maka anugerah keselamatan tak lebih hanya anugerah murahan belaka.
Maka jadilah penurut-penurut Allah, yang meneladani setiap teladan Tuhan dan mengerjakan dengan penuh kasih segala sesuatu yang dituliskan dalam firman Tuhan untuk kita kerjakan.
Tetap semangat, Tuhan Yesus Memberkati
RM – SCW
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan