Elohim Ministry umum MELIHAT Yang Tak Terlihat 

MELIHAT Yang Tak Terlihat 



Renungan harian Jumat, 28 Februari 2025

Iman adalah sarana untuk dapat “melihat” dunia yang tidak kelihatan, Inilah fungsi iman kita yang sebenarnya.

Dengan iman kita melihat dunia rohani, sedangkan dengan pancaindera kita mengenal dunia jasmani yang kasatmata. Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa iman adalah “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” ( Ibrani 11:1 ), Dengan iman kita menyadari adanya dunia rohani sehingga kita dapat belajar untuk bersandar kepada pertolongan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, tujuan hidup kita adalah untuk “membuka mata” agar dapat melihat yang tidak terlihat

Ibrani 11:1-2 berkata, Iman adalah jaminan atas segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan. Sebab, oleh iman merekalah orang-orang pada zaman dulu memperoleh pujian.

Hal yang diperhitungkan bukan apakah kita menerima Allah, tetapi apakah Allah menerima kita. Merupakan suatu kesalahan besar untuk berfikir bahwa Allah akan menerima kita hanya karena kita menerima Dia.

IMAN: MELIHAT YANG TIDAK TERLIHAT

“Iman adalah jaminan atas segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan.”

Memang tidak mudah menerjemahkan teks naskah Yunaninya secara memuaskan, tetapi ide umumnya sudah cukup jelas. Di sini dikatakan bahwa iman ialah “jaminan atas segala sesuatu yang kita harapkan”. Apa yang kita harapkan? Roma 8:24-25 menyediakan jawabannya:

Sebab, kita diselamatkan di dalam pengharapan. Akan tetapi, pengharapan yang terlihat bukan lagi pengharapan, sebab siapakah yang berharap atas sesuatu yang sudah dilihatnya? Akan tetapi, jika kita mengharapkan sesuatu yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Menurut definisi, pengharapan berkaitan dengan hal–hal yang tidak kita lihat.

Jika kita mengharapkan untuk dapat bertemu dengan seorang kawan baik, dan kita tidak melihatnya sampai saat pertemuan. NAMUN Jika ia sudah bersama kita, tentunya kita tidak lagi mengharapkan kedatangannya. Kita mengharapkan sesuatu yang tidak kelihatan, dan kita menunggu “dengan tekun”.

Paulus berkata, Kami tidak memperhatikan hal-hal yang kelihatan, melainkan hal-hal yang tidak kelihatan. Sebab, hal-hal yang kelihatan adalah sementara sedangkan hal-hal yang tidak kelihatan adalah kekal. (2Korintus 4:18).

Hal–hal yang kelihatan bersifat sementara. Segala hal yang kita lihat di sekitar kita adalah hal yang sifatnya sementara. Tidak satu pun dari hal–hal tersebut yang akan bertahan selamanya. Tubuh jasmani kita pun bersifat sementara. Sejalan dengan pertambahan usia, rambut kita akan semakin memutih atau menipis. Wajah kita mendapatkan “hiasan” garis–garis di dahi dan tempat lainnya, kaum wanita mungkin ada yang kurang menyukai hiasan tambahan ini!

Tidak ada yang kekal dari segala yang terlihat oleh mata kita. Kefanaan hal–hal fisik merupakan fakta yang tak dapat dibantah. Akan tetapi, jika kita memiliki iman, kita mengarahkan perhatian kita bukan kepada hal–hal yang kelihatan (sementara), tetapi kepada hal–hal yang tak kelihatan (kekal). Hal–hal yang tidak kelihatan, yang tidak nampak oleh mata jasmani kita, adalah kekal.

OLEH IMAN, ABRAHAM MELIHAT APA YANG TIDAK KELIHATAN

Oleh iman, Abraham ketika dipanggil Tuhan, taat untuk pergi ke suatu tempat yang akan diberikan sebagai milik pusakanya. Dan, ia berangkat, walaupun tidak tahu ke mana ia akan pergi. (Ibrani 11:8). Abraham tidak tahu ke mana ia harus pergi ketika ia melangkah dalam ketaatan kepada panggilan Allah.  Ketika ia menaati firman Allah kepadanya, Allah lalu menyuruhnya untuk pergi ke Kanaan, suatu tempat yang tidak pernah dilihat Abraham, suatu tempat yang asing baginya.

Lebih dari itu, riwayat Abraham menunjukkan bahwa ia memulai perjalanan dengan iman tanpa mengetahui sebelumnya apa yang menjadi destinasi akhirnya. Disebutkan bahwa “, ia berangkat, walaupun tidak tahu ke mana ia akan pergi”. Ini sesuai dengan pernyataan di Kejadian 12:1 di mana Tuhan berkata kepada Abraham, “Keluarlah dari negerimu… dan, pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu”. Pada waktu perintah ini diberikan, destinasi akhirnya masih belum diberitahukan.

Ini berarti Abraham harus melangkah dengan iman, ditunjukkan hanya satu tahap pada satu waktu. Kalau imannya gagal di tengah jalan, ia tidak akan pernah sampai ke “tempat yang akan diberikan sebagai milik pusakanya” Dalam kenyataannya, apa yang terpendam jauh di lubuk hati Abraham adalah hal yang kekal, … menantikan sebuah kota yang mempunyai fondasi, yang perancang dan pembangunnya adalah Allah. (Ibrani 11:10).

MEMANDANG KEPADA YESUS

Ibrani 12:2 mengatakan, “Biarlah mata kita tertuju pada Yesus, sang pencipta dan penyempurna iman kita, yang demi sukacita yang telah ditetapkan baginya, rela menanggung salib dan mengabaikan kehinaan salib itu. Dan, sekarang, ia duduk di sebelah kanan takhta Allah.”

Ayat ini menghimbau orang-orang percaya untuk menjalani hidup mereka terus menerus dengan “mata yang tertuju kepada Yesus” Akan tetapi, di mana Yesus sekarang? Kita tak dapat melihatnya sekarang karena IA duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ayat ini tidak masuk akal jika “mata yang tertuju” menunjuk kepada mata jasmani. NAMUN ini berkaitan dengan mata rohani.

Setiap orang Percaya dipanggil kepada ketekunan iman untuk terus menerus memandang kepada Yesus

Tuhan Yesus Memberkati

Budi Wahono

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *