Elohim Ministry youth TOXIC POSITIVITY

TOXIC POSITIVITY



Renungan Harian Youth, 9 Agustus 2025

Toxic positivity adalah istilah yang mengacu pada situasi saat seseorang mendorong orang yang sedang susah untuk melihat sisi baik dari kehidupan, TANPA pertimbangan akan apa yang dirasakan orang tersebut, dan TANPA memberi kesempatan baginya untuk meluapkan perasaannya. Contohnya, “Jangan menyerah”, “Kamu masih lebih beruntung dari yang lainnya”, “Kamu hanya perlu berpikir lebih positif”. Ini tentu adalah kata-kata yang baik, namun ucapan demikian sering DISAMPAIKAN DENGAN MENGABAIKAN PERASAAN SESUNGGUHNYA dari orang yang sedang bermasalah, seolah perasaan negatif yang dialami dan ingin diungkapkan mereka tidaklah penting bagi lawan bicaranya.

Padahal Tuhan ijinkan kita untuk merasakan segala emosi dalam diri kita, sedih, senang, kecewa, marah, protes, kesal, bahkan ratapan kita. Ayub pun bisa ngedumel sama Tuhan, dia ungkapkan segala rasa yang dia rasakan karena kehilangan anak, harta, sakit, Ayub ungkapkan semua dengan jujur ke Tuhan dan gak ada yang ditutupi. 

Daud, seorang raja dan pahlawan yang gagah perkasa. Meskipun ia tidak pernah kalah perang, diurapi Nabi Samuel sejak muda, ditakuti musuh-musuhnya dan dipuja rakyat Israel, namun dalam Mazmur 22 Raja Daud secara jujur menyatakan kegundahan hatinya. Ia merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan dan tidak menolong dia (Mazmur 22:1-2), dia putus asa, gentar dan takut (ayat 15 VMD Kekuatanku sudah hilang seperti air yang telah dicurahkan ke tanah. Tulang-tulangku sudah berserakan. Keberanianku telah hilang). 

Kerapuhan dan air mata adalah bagian dari perjalanan iman. Mulailah bersikap jujur terhadap diri sendiri dengan membuka diri untuk berproses di dalam kasih karunia Allah. 

Mari, belajar dari Raja Daud! Ketika sedang mengalami penderitaan dan kesulitan, datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur. 

MATIUS 11:28

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Tuhan tidak hanya menciptakan manusia dengan emosi, tetapi juga menawarkan kasih, penghiburan, dan pemulihan saat manusia sedang mengalami kesedihan, kekhawatiran, atau penderitaan. 

Ungkapkanlah seluruh kegundahan dan kekuatiran kita kepada-Nya, sebab Ia memberi kelegaan dan ketenangan bagi mereka yang merasa lelah dan terbebani, Dia juga mengerti bahasa tetesan air mata kita. Sebaliknya, ketika kita melihat orang lain yang sedang kesusahan dan menderita, COBALAH UNTUK TERLEBIH DULU MENYELAMI KEGUNDAHAN HATINYA, DAN SELALU MEMBERIKAN KESEMPATAN UNTUK MELUAPKAN PERASAANNYA. Mendengar dengan hati bukan hanya dengan telinga.  Mengertilah bahwa ada saat untuk duduk bersama dalam diam dan tangisan tanpa kata-kata, sebab itu jauh lebih berarti daripada ribuan kata-kata nasihat. 

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).

Firman Tuhan mendorong kejujuran dalam menghadapi diri sendiri dan orang lain. Berpura-pura bahagia ketika sedang merasa sedih adalah bentuk ketidakjujuran yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab.

Meskipun memiliki pikiran positif adalah hal yang baik, toxic positivity dapat berbahaya. Firman Tuhan mengajarkan untuk menerima emosi negatif dengan jujur, mencari pertolongan Tuhan dan orang lain dalam menghadapi kesulitan, serta belajar strategi mengatasi masalah yang sehat. 

Jadi, bagaimana respon kita supaya tidak menjadi seorang pelaku toxic positivity? 

  1. Cepat mendengar, lambat berbicara (Yakobus 1: 19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;)
    Ketika membantu orang lain, penting untuk memberikan ruang bagi mereka untuk merasakan dan mengekspresikan emosi negatif. Dengarkan dengan empati, akui perasaan mereka, dan jangan mencoba untuk langsung memberikan solusi atau menghibur dengan cara yang terkesan meremehkan
  2. Dengar perasaan orang lain, belajar untuk berempati. Belajar untuk mendengar dengan hati bukan hanya dengan telinga, apalagi mulai membandingkan karena semua orang punya kisahnya masing-masing, jangan banding-bandingkan. 
  3. Menunjukkan Kasih dan Empati, Bukan Menghakimi
    Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Ini menunjukkan pentingnya empati dan penerimaan terhadap perasaan orang lain, bahwa setiap perasaan yang muncul dalam diri seseorang adalah valid, yang perlu dilakukan adalah mencari tau alasan munculnya perasaan tersebut. 

BAGAIMANA SIKAP KITA supaya tidak terjebak dalam Toxic Positivity? 

  1. Menerima Emosi yang muncul, Bukan Menyangkalnya
    Mazmur 139: 23 Selidikilah aku ya Allah, selamilah hatiku, ujilah aku dan ketahuilah pikiranku
    Mengajarkan kita untuk jujur di hadapan Tuhan tentang perasaan kita. Jangan menyangkal rasa sakit, kemarahan, atau kekecewaan, tetapi akuilah dan bawa itu kepada Tuhan. Jujur dengan segala perasaan dalam diri, agar bisa mengelolah dengan tepat. 
    Jika merasa sedih, jangan memaksakan diri untuk selalu bahagia. Terima kesedihan itu sebagai bagian dari proses pemulihan dan carilah kekuatan dari Tuhan.  
    Mazmur 34: 19 (VMD) TUHAN dekat kepada orang yang mengalami kekecewaan. Ia menyelamatkan mereka yang putus asa.
  2. Menyadari Bahwa Pertumbuhan Rohani Melibatkan Proses. 
    Filipi 4: 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku
    Menghadapi tantangan dan emosi negatif adalah bagian dari pertumbuhan iman. Jangan merasa bersalah jika Anda sedang berjuang. Hadapi dengan iman dan percayalah bahwa Tuhan akan menyertai dan memberikan kekuatan untuk dapat melaluinya. Carilah komunitas yang sehat dan mendukung, di mana Anda bisa berbagi perjuangan dan bertumbuh bersama dalam iman.
  3. Mengembangkan Perspektif yang Seimbang
    1 Tesalonika 5: 18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
    Mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dalam segala hal. Namun, bersyukur bukan berarti menolak kenyataan bahwa kita juga bisa merasa sakit atau sedih. Seperti yang Daud alami, dia ungkapkan semua yang dia rasakan, tapi tetap ujungnya dia memuji nama Tuhan dan mengucap syukur.
    Berdoa untuk hikmat dan kekuatan dalam menghadapi tantangan, dan percayalah bahwa Tuhan akan menolong Anda untuk melihat situasi dengan perspektif yang benar. 

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

EYC 09082025-YDK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *