Elohim Ministry youth Firman Penciptaan

Firman Penciptaan



Renungan Harian Youth, Senin 02 Februari 2026

Kejadian 1:1-3, Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

Kita sudah masuk di bulan kedua di tahun 2026, dan memang kesan tahun baru itu masih terasa yaa.  Tahun baru sering datang dengan resolusi dan semangat baru, tetapi realitas dunia justru terasa semakin tidak tenang. Berita dalam satu bulan ini dipenuhi ketegangan geopolitik, ancaman perang, ketidakstabilan ekonomi global, dan dinamika di berbagai negara, termasuk Indonesia. Ada banyak gejolak yang terjdi diluar sana dan tentu kita pasti bertanya-tanya, kok begini ya, kok begitu yaa.. bagaimana dengan hari esok, dan bagaimana kondisi saya di masa depan. Seakan-akan pikiran kita dipenuhi dengan ketidakpastian.

Rekan-rekan youth, kita perlu kembali ke Kejadian pasal satu. apa yang menjadi berita utama di dalam kitab Kejadian 1, dari sini kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah; apa yang menjadi tujuan Allah ketika mengerjakan penciptaan; sehingga kita akan dituntun pada sudut pandang yang benar menurut tujuan yang Allah kerjakan bagi dunia ini.  

Setelah membaca bagian awal dari bacaan utama kita hari ini, maka kita menemukan bahwa Kitab Kejadian tidak dibuka dengan tips hidup sukses atau cara bertahan di tengah krisis. Yang pertama kali dinyatakan adalah siapa yang menciptakan dunia dan siapa yang menciptakan alam semesta. Karena itu, hari ini ada tiga poin utama. Pertama, memahami yang kacau menjadi teratur. Kedua, Ciptaan boleh dinikmati, tetapi tidak boleh disembah. Boleh dinikmati, tetapi tidak boleh menjadi pusat hidup. Ketiga, Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita. Dialah Yesus Kristus. Mari kita renungkan sejenak dengan sederhana tentang tujuan Tuhan bagi manusia melaui kisah penciptaan!

1. Melalui firman yang kacau menjadi teratur

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kalimat ini menegaskan satu hal yang mendasar, inisiatif ada pada Allah. Hidup kita dan seluruh alam semesta bukan hasil kekacauan, bukan kebetulan, dan bukan sesuatu yang acak. Semuanya dimulai dari Tuhan. Karena Tuhan yang memulai, maka ada maksud dan tujuan di dalamnya. Allah menciptakan bukan dengan cara yang sembarangan, tetapi melalui firman. Dalam Kejadian 1:3 tertulis, berfirmanlah Allah. Ketika Allah berfirman, kekacauan berubah menjadi keteraturan. Yang gelap menjadi terang, yang kosong menjadi terisi, yang kacau menjadi tertata.Firman Allah memiliki kuasa untuk mengubah dan menata. Banyak orang hari hari ini mengalami kekacauan batin karena yang memenuhi pikiran adalah berita, ketakutan, dan suara manusia. Jika yang direnungkan adalah kondisi dunia atau pendapat orang tentang diri kita, tidak mengherankan kecemasan dan overthinking terus menguasai. Masalahnya bukan kurang informasi, tetapi hidup yang tidak ditundukkan kepada firman Tuhan.
Jika kita tidak menyadari siapa yang berfirman pertama, hidup akan dikendalikan oleh suara suara lain. Karena itu pusat hidup harus kembali kepada Tuhan, dan yang perlu terus direnungkan adalah firman Nya. Firman itulah yang membawa keteraturan, ketenangan, dan damai di tengah dunia yang goyah.

2. Ciptaan boleh dinikmati, tetapi tidak boleh disembah. Boleh dinikmati, tetapi tidak boleh menjadi pusat hidup.

Perhatikan Kejadian 1 ayat 4, 10, 12, 18, 21, dan 25. Ada satu frasa yang terus diulang: “Allah melihat bahwa itu baik”. Bahkan di ayat 31 kita membaca, maka Allah melihat segala sesuatu yang dijadikanNya itu sungguh amat baik. Ini bukan sekadar pengamatan, tetapi deklarasi ilahi. Allah menyatakan bahwa ciptaan Nya itu baik.
APA MAKNA DARI ciptaan itu baik. Untuk apa Tuhan menciptakan segala sesuatu itu baik.  Supaya ciptaan itu dinikmati oleh Dia dan juga oleh manusia. Kita mungkin ingat, mukjizat pertama Yesus terjadi di sebuah pesta pernikahan. Itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak anti perayaan. Ia menghargai pernikahan, persekutuan, dan sukacita. Ketika Yesus mengubah air menjadi anggur, Ia menunjukkan kuasa Nya atas ciptaan dan menyatakan bahwa Ia bersukacita atas dunia yang Ia ciptakan. Yesus tidak datang untuk mematikan dunia materi, melainkan untuk menebus dan memulihkannya. Rasul Paulus menulis bahwa segala sesuatu halal, tetapi tidak semuanya berguna.  Injil mengajarkan untuk menikmati dunia sebagai ciptaan Allah, tetapi tidak menjadikan dunia itu Tuhan. Di sinilah seseorang bisa bekerja dengan sungguh sungguh tanpa menjadikan pekerjaan sebagai berhala. Bisa membangun masa depan tanpa menggantungkan identitas dan harga diri pada pencapaian. Iman yang benar menolong seseorang untuk menaruh harapan pada yang kekal tanpa mengabaikan kehidupan saat ini. Orang percaya bisa menikmati tanpa melekat, bisa kehilangan tanpa hancur, dan bisa diberkati tanpa memberhalakan berkat.

3. Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita. Dialah Yesus Kristus

Kita seringkali mengambil waktu untuk menikmati apa yang orang sebagai me time; healing; liburan atau mungkin hanya sekedar berdiam diri tanpa melakukan rutinitas yang kita kerjakan. Ada momen ketika kita duduk diam, memandang pemandangan itu, dan muncul rasa kagum yang sulit dijelaskan. Hidup terasa indah, seolah hati sedang ditenangkan. Namun perasaan itu tidak bertahan lama. Ketika rutinitas kembali, tekanan hidup muncul lagi. Stres datang kembali. Pertanyaannya, mengapa manusia mengalami hal seperti ini. Adam dan Hawa diciptakan dalam kondisi yang sungguh amat baik.
Di sinilah muncul konsep benediction. Kata ben berarti baik, diction berarti kata. Benediction adalah kata kata baik dari Allah. Pada waktu Allah menciptakan alam semesta, Ia mengucapkan kebaikan. Pada waktu manusia diciptakan, manusia hidup di bawah kata kata baik Allah. Namun ketika dosa masuk, manusia kehilangan benediction itu. Alkitab berkata bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Yang hilang bukan hanya moralitas, tetapi kata baik dari Allah, perkenanan Allah, afirmasi ilahi.Manusia berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbagai cara. Dengan pengakuan, pencapaian, prestasi, kekayaan, relasi, bahkan pelayanan. Kita berpikir nilai diri akan muncul jika berhasil, jika dihargai, jika dipuji, jika dicintai. Kita mengejar sukses karena kita sedang mencari kata baik itu. Kita sedang mencari benediction. Masalahnya, ketika benediction itu dicari dari hal hal yang rapuh, hasilnya tidak pernah cukup. Kepuasan itu selalu sementara. Kekosongan itu selalu kembali.

Lalu apa solusinya. Jawabannya muncul dengan jelas di dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil Yohanes. Kitab ini dibuka dengan kalimat yang sangat mirip dengan kitab Kejadian. Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama sama dengan Allah. Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi. Namun Firman itu tidak tinggal jauh di surga. Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita. Dialah Yesus Kristus. Yesus menjalani kehidupan yang seharusnya dijalani oleh Adam dan Hawa. Kehidupan yang seharusnya dijalani oleh kita semua. Ia hidup sempurna. Ketika Ia dibaptis dan keluar dari air, langit terbuka, Roh Kudus turun seperti merpati, dan terdengar suara dari surga. Inilah Anak Ku yang Kukasihi, kepada Nyalah Aku berkenan. Untuk pertama kalinya sejak Taman Eden, seorang manusia kembali menerima benediction dari Allah.   Di dalam Kristus, kita kembali mendengar suara itu. Inilah anak Ku yang Kukasihi. Kepada Nyalah Aku berkenan. Perkenanan itu bukan berdasarkan pencapaian, kekayaan, atau keberhasilan, tetapi berdasarkan apa yang Kristus telah lakukan. Itulah identitas anak anak Tuhan. Kemuliaan yang hilang dipulihkan. Gambar Allah yang rusak diperbarui. Roh Kudus melahirbarukan kita sehingga kita hidup sebagai ciptaan baru. Barang siapa ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang.

    Rekan-rekan youth, disinilah cara pandang tentang kehidupan kita dibaharui. Dengan melihat tujuan Allah dalam memandang ciptaan-Nya, renungan ini mendorong kita untuk melakukan pekerjaan baik dan mengerjakan setiap bagian pelayanan kita dengan melihat Kembali bahwa kita ada dalam perkenanan Allah yang sempurna.

    Yang dibutuhkan bukan prestasi, melainkan perenungan akan benediction yang telah diterima. Injil mengajarkan untuk beristirahat, baik dalam keberhasilan maupun kegagalan. Hal yang sama berlaku dalam setiap area hidup.

    Hikmat Hari Ini

    Ketika firman Tuhan menjadi pusat hidup kita, kekacauan berubah menjadi keteraturan, ketakutan digantikan oleh damai, dan identitas kita diteguhkan di dalam Kristus.

    Amin, Tuhan Yesus Memberkati

    EYC 31012026 RM-YDK

    Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
    Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
    Kirim ke 0895-1740-1800
    Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *