Elohim Ministry umum MENIMBUN BARA API PERTOBATAN

MENIMBUN BARA API PERTOBATAN



Renungan harian Jumat, 25 September 2026

Ayat utama: Roma 12:20-21, “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” … “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

Shalom, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Minggu lalu kita belajar tentang mengampuni. Kita mengampuni karena terlebih dahulu telah menerima pengampunan dari Tuhan. Mengampuni berarti memilih untuk tidak hidup dalam kepahitan dan menyerahkan pembalasan kepada Allah. Namun, firman Tuhan membawa kita selangkah lebih jauh. Kekristenan bukan hanya mengajarkan tidak membalas kejahatan, tetapi juga mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan.

Roma 12:20 berkata, Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” Apa maksud “menimbun bara api”? Apakah ini berarti kita harus melakukan sesuatu yang menyakiti orang yang telah menyakiti kita? Tentu bukan.

Ini adalah ungkapan kiasan yang harus dipahami dalam konteks keseluruhan Roma 12:19-21.

1. JANGAN MEMBALAS KEJAHATAN DENGAN KEJAHATAN

Ketika seseorang menyakiti kita, respons yang paling mudah adalah membalas. Kita merasa, “Kalau dia menyakiti saya, saya juga akan menyakitinya.” Jika seseorang mempermalukan kita, kita ingin mempermalukannya kembali. Jika seseorang berbicara buruk tentang kita, kita tergoda untuk membicarakan keburukannya.

Namun firman Tuhan mengajarkan jalan yang berbeda. Paulus berkata agar kita tidak mengambil pembalasan bagi diri sendiri, melainkan menyerahkannya kepada Allah. Kemudian ia memberikan contoh yang sangat konkret: jika musuh kita lapar, berilah makan; jika haus, berilah minum. Ini bukan berarti kita membenarkan kejahatan atau membiarkan orang terus melakukan tindakan yang salah. Mengampuni juga bukan berarti mengabaikan keadilan atau membiarkan tindakan yang membahayakan. Tetapi kita tidak membiarkan kejahatan orang lain mengubah hati kita sehingga kita ikut melakukan kejahatan. Kita mungkin tidak mampu mengendalikan apa yang dilakukan orang lain. Namun kita dapat memilih bagaimana kita merespons.

Kejahatan dibalas kejahatan menghasilkan kejahatan.
Kejahatan tidak dibalas berarti kita tidak meneruskannya dan netral.
Tetapi kejahatan dibalas dengan kebaikan berarti kita memilih memutus rantai kejahatan.

2. “MENIMBUN BARA API” BERKAITAN DENGAN DAMPAK KEBAIKAN

Ungkapan “menimbun bara api di atas kepala” bukan perintah untuk menyakiti musuh. Paulus justru menggunakan gambaran tersebut setelah berbicara tentang memberi makan dan memberi minum kepada orang yang memusuhi kita. Bara api menjadi gambaran tentang sesuatu yang dapat membangkitkan kesadaran, rasa malu atas kesalahan, dan dorongan untuk berubah. Jadi, kebaikan yang kita lakukan dapat menjadi kesaksian yang menyentuh hati orang yang berbuat jahat kepada kita.

Tujuannya bukan, “Saya berbuat baik supaya dia merasa malu.” Motivasinya bukan balas dendam yang dibungkus kebaikan. Sebaliknya, kita melakukan kebaikan karena kita telah mengalami kebaikan dan kasih Allah. Di sinilah letak kekuatan kesaksian orang percaya. Ketika seseorang membalas kebencian dengan kasih, kepahitan dengan pengampunan, dan kejahatan dengan kebaikan, orang lain dapat melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam hidupnya.

Paulus menutup pemikirannya dengan kalimat yang sangat kuat: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” Jadi, kemenangan orang percaya bukanlah ketika kita berhasil membalas orang yang menyakiti kita. Kemenangan terjadi ketika kejahatan tidak berhasil menguasai hati kita.

3. KITA DAPAT MENGAMPUNI KARENA KITA SENDIRI TELAH DIAMPUNI

Mengapa kita harus melakukan hal yang begitu sulit? Karena kita pernah berada di posisi yang sama: kita adalah orang berdosa yang membutuhkan pengampunan Allah.

Roma 5:10 mengingatkan bahwa ketika kita masih menjadi seteru, kita diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya. Artinya, sebelum kita belajar mengasihi musuh, kita terlebih dahulu harus mengingat bagaimana Allah mengasihi kita ketika kita masih jauh daripada-Nya. Kita tidak mengampuni karena orang lain selalu layak menerima pengampunan kita. Kita mengampuni karena Kristus telah lebih dahulu mengampuni kita.

Kita juga tidak melakukan kebaikan karena orang yang menyakiti kita sudah berubah. Kita melakukan kebaikan karena kehidupan kita telah diubah oleh Kristus.

Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan hanya: “Apakah orang yang menyakiti saya sudah bertobat?” Tetapi juga: “Apakah pertobatan saya kepada Kristus sudah terlihat melalui cara saya memperlakukan orang yang menyakiti saya?”

Kebaikan kita tidak menjamin bahwa orang lain pasti bertobat. Pertobatan adalah pekerjaan Tuhan di dalam hati seseorang. Tetapi melalui kebaikan, kita dapat menjadi kesaksian hidup tentang kasih dan pengampunan yang telah kita terima.

Refleksi Renungan

Kita perlu melihat kembali bagaimana kita merespons orang yang pernah menyakiti, mengecewakan, atau memusuhi kita. Kita mungkin sudah berhenti membalas, tetapi apakah hati kita benar-benar telah menyerahkan persoalan itu kepada Tuhan? Ketika kesempatan untuk berbuat baik muncul, apakah kita masih memilih menjauh karena kepahitan, atau kita mau melakukan kebaikan sebagai wujud kasih Kristus? Kita dahulu adalah orang berdosa yang membutuhkan pengampunan, dan Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah. Karena itu, biarlah pertobatan kita tidak hanya terlihat melalui perkataan dan kegiatan rohani, tetapi juga melalui cara kita mengasihi orang yang sulit kita kasihi.

Kesimpulan

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, “menimbun bara api” bukanlah ajaran untuk membalas dendam secara terselubung. Roma 12:20-21 justru mengajarkan kita untuk menghentikan rantai kejahatan dengan melakukan kebaikan. Kita tidak membalas karena pembalasan adalah hak Tuhan. Kita berbuat baik bukan karena kejahatan itu benar, tetapi karena kita tidak mau kejahatan menguasai hati kita. Pertobatan bukan hanya sesuatu yang kita katakan; pertobatan juga terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang yang telah menyakiti kita.

Hikmat Hari Ini

Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan, karena kita telah terlebih dahulu mengalami kasih dan pengampunan Kristus.

Doa Merespons Firman Tuhan

Tuhan Yesus, kami bersyukur karena ketika kami masih berdosa dan jauh dari-Mu, Engkau telah terlebih dahulu mengasihi, mengampuni, dan mendamaikan kami dengan Allah. Ajarlah kami untuk tidak hidup dalam kepahitan dan keinginan membalas, tetapi berikan kami hati yang mampu mengampuni dan melakukan kebaikan bahkan kepada mereka yang menyakiti kami. Mampukan kami menyerahkan pembalasan kepada-Mu dan memilih jalan kasih, supaya melalui kehidupan kami orang lain dapat melihat perubahan yang Engkau kerjakan di dalam diri kami. Biarlah pertobatan kami bukan hanya terlihat dalam perkataan, tetapi nyata dalam sikap, tindakan, dan cara kami memperlakukan sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Rangkuman Materi EFF
Budi Wahono

JOIN GRUP RENUNGAN HARIAN

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan
atau Klik tombol dibawah ini :

Anda juga bisa mengikuti saluran Renungan Harian Kristen Elohim.id di WhatsApp dengan klik tautan berikut:
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7dcZJL7UVRcABBMw1f

Atau klik tombol dibawah ini >>>

1 thought on “MENIMBUN BARA API PERTOBATAN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *