Kisah Para Rasul 4 – Keberanian dalam Penganiayaan
Setelah menyembuhkan orang lumpuh, Petrus dan Yohanes ditangkap dan diinterogasi oleh Mahkamah Agama. Namun, dengan berani mereka memberitakan bahwa keselamatan hanya ada dalam nama Yesus. Karena tidak menemukan kesalahan, mereka dilepaskan. Jemaat pun berdoa bersama dan dipenuhi Roh Kudus. Mereka hidup dalam satu hati dan satu jiwa, berbagi milik dengan sukacita.
Kesimpulan:
Meskipun menghadapi ancaman, para rasul tetap bersaksi dengan berani. Nama Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Gereja mula-mula memberi teladan dalam kesatuan dan keteguhan iman.

Kisah Para Rasul 5 – Kepalsuan dan Kuasa Allah dalam Jemaat
Ananias dan Safira mati karena berbohong kepada Roh Kudus. Kuasa Allah semakin nyata melalui mujizat yang dikerjakan oleh para rasul. Banyak orang percaya kepada Tuhan. Namun, para rasul kembali ditangkap. Malaikat Tuhan membebaskan mereka, dan mereka terus memberitakan Yesus. Petrus menyatakan bahwa lebih penting taat kepada Allah daripada manusia.
Kesimpulan:
Tuhan menuntut ketulusan dan ketaatan mutlak. Ia menyertai mereka yang setia meski dalam penganiayaan. Kuasa dan keberanian untuk bersaksi datang dari ketaatan kepada Allah, bukan takut akan manusia.
Kisah Para Rasul 4–5 memperlihatkan keberanian para murid dan kekudusan yang Allah kehendaki dalam jemaat-Nya. Iman kepada Yesus memberi kekuatan menghadapi tekanan, dan hidup dalam kebenaran membawa kuasa dan kesaksian yang kuat.
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)