Renungan Harian Youth, Selasa 17 Oktober 2021
Syalom rekan-rekan semuanya, kiranya Tuhan memberkati kehidupan kita semuanya
Kolose 3:23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Istilah budak korporat sering kali terdengar dalam percakapan milenial dan gen z. Istilah ini merujuk pada individu atau kelompok yang berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Menurut KBBI, budak korporat berasal dari kata “budak” yang berarti antek atau jongos, dan “korporat/korporasi” yang berarti perusahaan atau badan usaha. Istilah ini biasa digunakan sebagai julukan bagi seseorang yang rela mengabdikan hidupnya di perusahaan tempat ia bekerja.
Istilah budak korporat (asal kata dari corporate) merupakan istilah yang populer digunakan para kawula muda yang bekerja sebagai bawahan dalam suatu perkantoran ataupun perusahaan. Mereka Disebut sebagai budak korporat karena harus bekerja hari Senin sampai Jumat, dengan jam kantor dari pagi hingga malam.
Hidup sebagai budak korporat dikatakan melelahkan, tapi juga menguntungkan.
Lelah karena fisik yang harus terus bekerja dengan jam kerja yang ada, tapi untung karena mempunyai pendapatan yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadi. Setiap kita yang saat ini sedang bekerja atau berusaha dapat dikatakan sebagai budak korporat. Kita bekerja di bawah pimpinan orang lain ataupun berusaha atas pimpinan diri sendiri.
Budak korporat sendiri awalnya sebuah lelucon atau candaan anak muda yang merasa bahwa dirinya dieksploitasi oleh perusahaannya sendiri. Pada hakikatnya, hanya orang-orang itu sendiri yang tahu, apakah betul dirinya sudah menjadi budak perusahaan, dengan tingkat kontribusi yang melebihi batas wajar.
Budak korporat biasanya cenderung patuh pada perintah atasan. Mereka rela lembur, pulang kerja dan rapat sampai larut malam demi mempertahankan pekerjaannya di perusahaan tersebut.
Kata “budak” bukan kata yang asing bagi kita. Menariknya, di dalam Alkitab pun seringkali disebutkan mengenai budak. Di surat Kolose, kita dapat menemukan nasihat yang Rasul Paulus berikan kepada orang-orang yang hidupnya sebagai budak atau hamba. Paulus mengingatkan para hamba yang merupakan orang Kristen untuk menjadi hamba yang berbeda dengan dunia. Sebagai hamba yang telah ditebus dalam Kristus, ia mengingatkan bahwa pekerjaan yang dilakukan bukan lagi pekerjaan yang berfokus kepada manusia.
Segala pekerjaan yang dilakukan seharusnya dilakukan dengan sepenuh hati dan berfokus kepada Allah.
Dalam konteks kehidupan di masa sekarang ini, setiap kita diingatkan untuk tidak bekerja semata-mata demi tuan mereka di dunia, melainkan bekerja dengan sungguh demi Tuhan yang telah menyelamatkan mereka. Saya yakin ayat emas yang kita baca adalah ayat familier yang sering kita dengar. Bekerja sepenuh hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Namun, marilah kita juga ingat bahwa pekerjaan yang kita lakukan saat ini, merupakan pekerjaan yang Tuhan berikan bagi setiap kita. Oleh karena pekerjaan ini adalah pemberian dari Tuhan maka marilah kita berusaha kerja dengan sepenuh hati dan berfokus hanya kepada Allah.
Yuk kita sama-sama belajar jadi budak korporat yang memuliakan Tuhan. Bukan lagi budak korporat yang bekerja demi atasan maupun pendapatan yang memuaskan, tapi menjadi budak korporat yang bekerja dengan sungguh demi kemuliaan nama Tuhan.
Ada beberapa karakter yang harus ada ketika kita menjadi seorang pekerja yang memuliakan Tuhan
1. Ketulusan Hati, ketulusan hati adalah kunci untuk memuliakan Allah dalam pekerjaan kita. Apapun pekerjaan yang kita lakukan, baik besar maupun kecil, lakukan dengan sepenuh hati. Ingatlah bahwa kita bekerja bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk Tuhan.
2. Integritas dalam Tindakan, Integritas adalah prinsip penting dalam memuliakan Allah dalam pekerjaan kita. Berperilaku jujur, adil, dan baik, meskipun tidak ada yang melihat. Allah melihat hati kita dan tindakan kita. Ketika kita bekerja dengan integritas, kita mencerminkan karakter-Nya kepada dunia.
3. Kerja dengan Keahlian dan Kecermatan, Allah memberikan kita berbagai bakat dan keterampilan. Menggunakan keahlian dan kecakapan yang Dia anugerahkan kepada kita adalah cara memuliakan-Nya. Ketika kita bekerja dengan sebaik-baiknya, kita sedang mengembangkan talenta yang Tuhan anugerahkan bagi kita
Kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi pekerja yang memuliakan Allah.
Setiap tindakan kita dalam pekerjaan seharusnya mencerminkan nilai-nilai Kristen. Jadilah teladan dalam kejujuran, ketulusan hati, dan integritas. Lewat cara kerja kita yang sungguh-sungguh untuk Tuhan, maka Tuhan dipermuliakan dan kita bisa mengenalkan Yesus kepada mereka yang belum mengenal-Nya. Pekerjaan kita adalah dari Tuhan. Bekerjalah sepenuh hati bagi Tuhan.
Amin. Tuhan Yesus Memberkati
RM – DOT