Renungan Harian Youth, Senin 01 Juli 2024
Sebagai seorang muda yang kenal dengan banyak orang; yang tentu di dalamnya kita melihat dan meperhatikan banyak situasi yang terjadi di sektar kita. Adakalanya dan bahkan seringkali kita bisa saja memiliki dendam. Ini merupakan suatu perasaan yang sangat berbahaya jika kita memaklumi keberadaan perasaan kita dan membiarkan hal ini terus bertumbuh di dalam diri kita.
Dendam atau Revenge itu berasal dari kata kerja bahasa latin yaitu Vindicare —> yang berarti membalas, menuntut dan menghukum. Dari sini juga berasal kata “vindictive” dalam bahasa Inggris, ingin membalas dendam. Menurut artikel dalam Journal of Personality and Social Psychology, “Dendam adalah emosi negatif yang diarahkan kepada orang lain atau kelompok yang dianggap telah melakukan kesalahan atau ketidakadilan terhadap individu tersebut” (Smith, A., Haynes, K., Lazarus, R., & Pope, L)
Dapat disimpulkan dendam itu adalah suatu perasaan emosi atau marah yang disimpan karena telah dilukai oleh seseorang, dan tentunya kita ingin membalas perasaan luka tersebut pada orang tersebut. Berharap orang tersebut terluka dan merasan apa yang kita rasakan, bahkan lebih. Padahal kenyataan yang makin terluka adalah diri kita, bukan orang tersebut. Dendam yang membawa petaka.
DENDAM KESUMAT adalah dendam yang teramat dalam hingga menimbulkan kebencian dan rasa ingin membalas kembali kepada orang tersebut.
Kisah Alkitab dalam Markus 6:17-27 adalah tentang “Yohanes Pembaptis dibunuh karena dendam Herodias kepadanya”. Herodias menaruh dendam kepada Yohanes Pembaptis karena dia dan Herodes Antipas ditegur oleh Yohanes perkara Herodes menikahi istri saudaranya sendiri yaitu Herodes Filipus. Herodias menaruh dendam dan ingin membunuh Yohanes, namun Herodes Antipas segan untuk membunuh Yohanes dan memilih untuk memenjarakannya. Namun, Herodias menunggu waktu yang tepat untuk dapat mewujudkan rasa dendamnya, ketika ulang tahun Herodes dan diadakan pesta untuk merayakannya. Lalu tampilah anak Herodias yaitu Salome dan dia menari dihadapan Herodes serta para tamunya. Hal ini menyukakan hati Herodes dan dia berniat memberi hadiah apapun yang diminta oleh Salome, bahkan separuh kekuasaan kerajaannya. Salome berdiskusi dengan ibunya yaitu Herodias, dan inilah moment yang ditunggu Herodias. Dia menyuruh Salome untuk meminta kepala Yohanes Pembaptis sekarang juga. Sedihlah hati Herodes, namun karena dia sudah terlanjur berjanji dihadapan para tamunya diwujudkanlah keinginan Salome dan terwujudlah rasa dendam Herodias kepada Yohanes Pembaptis.
Mengapa orang bisa menaruh dendam sebegitu dalamnya? Jika kita belajar dari kisah dendam Herodias! Maka kita akan menemuakan hal-hal berikut:
- Ego dan Harga Diri.
Tentunya Herodias merasa harga dirinya dihancurkan oleh Yohanes Pembaptis. DIa adalah seorang anak dari Raja dari Kerajaan yang bernama Nabatea. Sedangkan Yohanes dianggap adalah warga biasa kelas bawah, tidak sebanding dengan dia. Kritik Yohanes sama halnya menjatuhkan wibawanya dan egonya sebagai seorang ratu. Rasa egonya dan harga diri yang dianggap dirusak oleh Yohanes Pembaptis membuat Herodias begitu dendam kepada Yohanes Pembaptis. Selain itu kematian Yohanes Pembaptis sudah dirancang sedemikian rupa, dia sadar akan kelemahan suaminya yaitu Herodes. Dia menunggu moment yang tepat untuk dapat mewujudkan rasa dendamnya. Pada akhirnya rasa dendamnya dapat terbalaskan melalui permintaan Salome kepada Herodes untuk dipenggalnya kepala Yohanes Pembaptis dan ditaruh di atas tempayan. Bagi Herodias ini adalah pembalasan dendam yang pada akjhirnya dapat diwujudkan menjadi sebuah hidangan penutup. - Natur Manusia adalah berbuat dosa
berdosa memang sering dianggap sebagai sifat dasar manusia. Bahkan bayi yang baru berusia setahun pun bisa menunjukkan kemarahan meskipun belum diajari. Ini menunjukkan bahwa emosi negatif seperti marah dapat muncul secara alami dalam diri manusia sejak usia dini. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami terhadap perilaku berdosa atau negatif. Nature manusia memang keberdosaan, namun sifat pendendam ini juga dibentuk oleh beragam faktor. Faktor polah asuh keluarga, pengaruh pergaulan atau lingkungan, apa yang dia konsumsi untuk sisi emotionalnya. - Ketidakmampuan Untuk Mengampuni
Menyimpan dan memelihara ini terjadi karena faktor ketidakmampuan untuk mengampuni. Ketika kita disakiti oleh seseorang wajar jika kita marah pada saat itu, namun ada dua pilihan pada waktu tersebut. Apakah kita akan hidup dalam kemarahan tersebut, atau yasudah meninggalkan rasa amarah tersebut dan melepaskan pengampunan. Menurut jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Journal of Social Psychiatry and Psychiatry Epidemiology disebutkan kalau menyimpan dendam dapat menempat seseorang mengalami resiko serangan jantung dan darah tinggi. Tidak berhenti di situ, menyimpan dendam dan kemarahan dapat berdampak bagi kesehatan mental. Gangguan kecemasan, mengalami depresi, mengalami panic disorder dan menurunnya kesehatan imun.
Rekan-rekan youth, setelah melihat hal-hal yang menyebabkan seseorang memiliki dendam, kita harus lebih waspada lagi dengan hal ini. Dan sebagaI orang yang percaya kepada Tuhan, kita percaya Tuhan merindukan kita untuk hidup di dalam kasih dan terus berjuang untuk menguasai diri kita dari hal-hal yang tidak berkenan di hadapan-Nya. oleh karena itu, mari kita belajar setidaknya ada 3 Cara Menghilangkan Dendam Agar Hidupmu Lebih bahagia!
- Menerima yang namanya keberadaan rasa sakit hati
Langkah pertama adalah menyadari tentang keberadaan rasa sakit hati atau luka yang dibuat oleh orang lain kepada diri kita. Tidak mengerjakan yang namanya denial atas perasaan tersebut. Belajar dari kisah Daud yang mana dia sangat terbuka dan menerima perasaan sakit tersebut. Dalam menghadapi rasa sakit hati, penting untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Menerima bahwa perasaan ini adalah bagian dari pengalaman manusiawi dapat membantu kita memahami bahwa kita tidak sendirian dalam perasaan ini. Sadarilah bahwa merasakan rasa sakit adalah langkah awal untuk membebaskan diri dari beban dendam yang merugikan. - Pengampunan, lepaskan masa lalu dan arahkan pandanganmu kedepan!
Mengampuni bukan berarti melupakan atau mengabaikan kesalahan yang telah dilakukan kepada kita, melainkan melepaskan rasa sakit itu atas hidup kita. Dengan melepaskan dendam dan rasa sakit di masa lalu, kita membebaskan diri kita dari beban yang menghalangi kita untuk berkembang dan bergerak maju.
“To be a Christian means to forgive the inexcusable because God has forgiven the inexcusable in you.” C.S. Lewis (Menjadi seorang Kristen berarti mengampuni hal yang tidak dapat dimaafkan, karena Tuhan telah mengampuni hal yang tidak dapat dimaafkan dalam diri Anda)
Matius 6:14-15: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
- Izinkan Tuhan memperbaharui dan memulihkan hatimu
Perbedaan ajaran kekristenan dengan konsep menghilangkan dendam secara umum adalah pada pelibatan Tuhan di dalamnya. Tanpa Tuhan dilibatkan disana semua akan menjadi sia-sia, karena hanya Tuhan yang dapat benar-benar memulihkan hati kita secara sempurna. Usaha manusia untuk menghilangkan dendam sering kali terbatas dan tidak sempurna. Tanpa Tuhan, kita mungkin merasa sulit untuk melepaskan rasa sakit dan memaafkan sepenuhnya. Tuhan adalah sumber kasih yang tak terbatas. Ketika kita mengizinkan Tuhan bekerja dalam hati kita, Dia memberikan kasih dan kedamaian yang melampaui segala pengertian
Rekan-rekan youth, Hanya Tuhan yang memiliki kekuatan untuk memperbaharui hati kita sepenuhnya. Dalam Mazmur 51:10, Daud berdoa, “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.” Ini menunjukkan bahwa kita membutuhkan campur tangan Tuhan untuk memperbaharui hati dan pikiran kita.
Jangan sampai rasa dendam yang ada pada kita menjadi penghalang bagi kita untuk bertumbuh dan maju di dalam Tuhan.
Fokuslah pada perbuatan baik yang didasari oleh kasih Allah kepada kita.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
EYC 29062024-YDK