Elohim Ministry youth HATI YANG SUCI

HATI YANG SUCI



Renungan Harian Youth, Selasa 22 Agustus 2023

Matius 5:8, Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Yuri Gagarin, seorang astronot Rusia. Dia orang pertama yang mengadakan perjalanan keruang angkasa pada tahun 1961. Setelah dia Kembali ke bumi, dia mengatakan bahwa dia tidak melihat Tuhan dimanapun. Dengan kata lain, dia mau katakan tidak ada Tuhan.  Seakan-akan dia telah mencari Tuhan sampai ke luar angkasa dan dia tidak menemukan jejak Tuhan yang Nampak menurut pandangannya.  Lalu bagaimana cara yang tepat untuk melihat Tuhan?

Rekan-rekan youth, Tuhan itu ada walau tidak kelihatan secara fisik. Karya tanganya jelas terlihat.  Ayat hari ini mengatakan, hanya orang yang suci hatinya yang dapat melihat Tuhan. Ucapan bahagia keenam dari Yesus adalah mengenai kesucian hati. Ucapan ini menyinggung kehidupan orang-orang di dunia ini yang lebih mementingkan penampilan luar tetapi mengabaikan apa yang ada di dalam.

Penampilan luar mereka dipoles dengan kepura-puraan. Nampak baik dan bernilai positif, tetapi di dalamnya sebetulnya busuk.

Matius 5:8, menggunakan kata katharos untuk menggambarkan hati yang suci dalam motif dan yang menunjukkan pikiran tunggal, pengabdian tak terbagi dan integritas spiritual.  Secara harfiah katharos “Suci” berarti bersih secara fisik atau murni dan memiliki arti tidak kotor (bebas dari kotoran), murni, tanpa noda, bebas dari campuran najis atau bebas dari pemalsuan.  Secara kiasan katharos digunakan dalam arti ritual tentang makanan yang dinyatakan tidak tercemar dan dapat diterima (bdk. Roma 14:20).Dalam arti moral atau spiritual, katharos (Suci) berarti bebas dari keinginan yang rusak atau perbuatan salah (dosa dan rasa bersalah). Katharos harus bebas dari campuran, sehingga menyampaikan gagasan yang asli, tidak bersalah atau tidak berdosa. Berbahagialah orang yang suci hatinya, adalah mereka yang memiliki integritas, yang hatinya tidak terbagi.   

Hati yang suci adalah hati yang murni. Tidak ada kepalsuan dan kemunafikan, memancarkan ketulusan dari dalam hati. Apa yang terpancar dari dalam akan terpancar ke luar.  Orang-orang seperti ini dikatakan akan mendapat kebahagiaan karena akan melihat Allah. Mereka akan mengalami sorga di bumi.

Sekalipun fisiknya di bumi tapi dapat melihat Allah di Sorga bertakhta di dalam imannya.

Keempat Kitab Injil memberikan banyak contoh kisah kemunafikan manusia. Yesus banyak mengkritik kehidupan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Bagi mereka, kesucian berkutat pada persoalan bagaimana memenuhi begitu banyak peraturan. Seperti peraturan Sabat, makan makanan najis, larangan makan bersama orang-orang najis, yaitu orang non Yahudi, dan berbagai peraturan lainnya. Mereka terjebak ke dalam legalisme, kesucian tampak dari penampilan. Peraturan yang diterapkan mereka begitu baku dan memberi beban yang berat kepada orang lain. Ironisnya, mereka sendiri tidak bisa melakukannya. Mereka tidak mengerti kesucian itu berawal dari dalam hati yang suci. Usaha untuk menampilkan kesucian dari luar akan membuat mereka lelah sendiri. Yesus berkata bahwa mereka bekerja terlalu keras untuk membersihkan “sebelah luarnya”, padahal “sebelah dalamnya” penuh dengan kotoran (bdk. Mat. 23:27).

Orang yang suci hatinya adalah mereka yang mengikuti kekudusan, yang tanpanya tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

Kita tidak dapat secara fisik melihat Tuhan sekarang dengan mata fisik manusia kita, dan karena itu dalam ucapan bahagia ini, Yesus berbicara secara kiasan tentang penglihatan rohani.  Menjadi suci dalam hati berarti tulus, transparan dan tanpa tipu daya. Apa yang kita lihat adalah apa yang kita dapatkan. Tidak ada kepalsuan, tidak ada tipu daya, tidak ada kemunafikan.  Dan Ketika Tuhan menyucikan para pendosa dan menjadikan mereka anak-anak-Nya, Dia melakukan lebih dari sekadar membasuh dosa.  Dia menempatkan di dalam diri mereka hati yang baru yang ingin berfokus sepenuhnya pada Tuhan.

Orang dunia tidak melihat atau samar samar “melihat”Allah sedang orang Kristen dengan alat iman yang menjadikan dia suci memampukan melihat kekayaan keindahan dan keagungan Allah.

Betapa banyak dari kita yang mungkin bersikap mirip seperti para ahli Taurat atau orang Farisi yang sangat menjaga penampilan saja. Marilah kita peka terhadap ajaran firman Tuhan hari ini, yang mengarahkan kita agar tetap menjaga hati tetap suci di hadapan Tuhan Yesus. Di dalam hati yang suci, kita akan memancarkan penampilan luar tanpa kemunafikan. Inilah yang dikehendaki Yesus. Sadarlah bahwa saat kita melakukannya, Tuhan Yesus akan dipermuliakan melalui hidup kita.

HATI YANG SUCI MENGUTAMAKAN KETULUSAN DI DALAM HATI TIDAK ADA KEMUNAFIKAN YANG MEMENTINGKAN PENAMPILAN LUAR SAJA.

Rekan-rekan youth, sudahkah kita memiliki hati yang tulus, suci dan murni dalam menjalani hidup? Apakah kita sudah melayani dengan tulus ikhlas hanya karena Tuhan dan bukan hal-hal yang memegahkan diri kita sendiri? Pemazmur mengatakan “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya” (Mzm. 73:1). Sesungguhnya ada berkat-berkat dan perlindungan yang disediakan Tuhan kepada orang-orang yang tulus dan bersih hati.

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

RM – DOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *