Elohim Ministry umum HUKUM YANG TERUTAMA

HUKUM YANG TERUTAMA



Renungan Harian Jumat, 02 Oktober 2026

Ayat Pokok: Matius 22:37-40, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Shalom, bapak, ibu, dan saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Dalam kehidupan kekristenan, kita mengenal banyak ajaran, nasihat, dan perintah Tuhan. Kita membaca Alkitab, belajar tentang kehendak Allah, mengikuti ibadah, melayani, berdoa, dan berusaha menjalani kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Namun, pernahkah kita berhenti dan bertanya: Dari begitu banyak perintah Tuhan, apakah yang paling utama? Apa yang menjadi inti dari kehidupan orang percaya? Pertanyaan seperti ini juga pernah diajukan kepada Tuhan Yesus. Seorang ahli Taurat bertanya kepada-Nya mengenai hukum yang terutama. Jawaban Yesus sangat jelas: mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

Matius 22:37-40 menunjukkan bahwa kedua hukum ini bukan sekadar salah satu bagian dari kehidupan iman. Keduanya menjadi dasar yang merangkum kehendak Allah bagi umat-Nya.

1. MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA ADALAH PERINTAH

Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. erhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Kalau kalian merasa ingin mengasihi, kasihilah.” Ia memberikan sebuah perintah. Artinya, kasih dalam Alkitab bukan hanya persoalan perasaan. Kasih bukan sekadar merasa senang kepada seseorang. Kasih bukan hanya mengatakan, “Saya mengasihi Tuhan.” Kasih harus terlihat dalam pikiran, perkataan, keputusan, dan tindakan kita.

Karena itu, kasih membutuhkan ketaatan. Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 14:15 bahwa kasih kepada-Nya dinyatakan melalui ketaatan kepada perintah-Nya. Jadi, seseorang tidak cukup hanya memiliki perasaan rohani yang kuat, rajin beribadah, atau bersemangat dalam pelayanan. Kasih kepada Tuhan harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana kita memperlakukan pasangan?
Bagaimana kita berbicara kepada anak-anak?
Bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat dengan kita?
Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada orang yang melihat?
Bagaimana kita menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab kita?

Di situlah kasih diuji. Kasih bukan hanya apa yang kita rasakan, tetapi juga apa yang kita pikirkan dan lakukan. Kasih kepada Tuhan terlihat melalui ketaatan kepada-Nya, sedangkan kasih kepada sesama terlihat melalui tindakan yang benar, penuh perhatian, dan membangun.

2. KASIH KEPADA ALLAH DAN SESAMA ADALAH DASAR KEHIDUPAN IMAN

Yesus mengatakan bahwa pada kedua hukum tersebut tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Dengan kata lain, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan dasar yang membantu kita memahami perintah-perintah Tuhan.  Perintah-perintah yang mengatur hubungan kita dengan Allah mengajarkan kita untuk menghormati, menyembah, dan mengutamakan Dia. Mengapa? Karena kita mengasihi-Nya. Demikian pula perintah-perintah yang mengatur hubungan kita dengan sesama mengajar kita untuk menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berbuat curang, tidak mencuri, tidak memberikan kesaksian palsu, dan tidak mengingini milik orang lain.

Mengapa kita harus melakukan semua itu? Karena kasih kepada sesama tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan yang benar. Kalau kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan tetapi dengan sengaja terus-menerus menyakiti, menipu, merendahkan, atau merugikan orang lain, ada sesuatu yang tidak selaras dalam kehidupan iman kita.

Kasih kepada Allah seharusnya mengubah cara kita memperlakukan manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya. Namun, kita juga perlu memahami bahwa kemampuan kita untuk mengasihi bukan berasal dari kekuatan kita sendiri. Sebelum Tuhan memberikan perintah kepada Israel, Ia terlebih dahulu mengingatkan mereka tentang tindakan-Nya yang menyelamatkan mereka dari perbudakan Mesir (Keluaran 20:1-2).

Ini menunjukkan sebuah prinsip penting: Allah terlebih dahulu bertindak dalam kasih, kemudian umat-Nya merespons dengan ketaatan. Demikian pula dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Kita tidak mengasihi Tuhan supaya Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita. Kita mengasihi karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.

3. KASIH YANG KITA TERIMA HARUS MENJADI KASIH YANG KITA BAGIKAN

Kasih Allah kepada kita mencapai puncaknya dalam karya keselamatan melalui Kristus. 1 Yohanes 4:10-11 mengingatkan bahwa kasih bukan dimulai dari kita, melainkan dari Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Karena itu, kasih yang kita terima dari Tuhan tidak boleh berhenti hanya di dalam hati kita.

Kasih itu harus mengalir kepada orang lain. Tuhan Yesus memberikan teladan yang sempurna. Dalam Yohanes 13:34, Ia memerintahkan murid-murid-Nya untuk saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi mereka. Ini berarti ukuran kasih Kristen bukan sekadar bagaimana orang lain memperlakukan kita. Dengan demikian, kehidupan Kristen bukan sekadar menjalankan berbagai aturan agama. Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang mengalami kasih Allah dan kemudian menghadirkan kasih itu melalui ketaatan dan tindakan nyata.

Bapak, ibu, dan saudara-saudara yang terkasih, Ketika Yesus ditanya tentang hukum yang terutama, Ia membawa kita kembali kepada inti kehidupan iman: mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kasih kepada Tuhan tidak boleh hanya menjadi perkataan, tetapi harus terlihat melalui ketaatan. Kasih kepada sesama juga tidak cukup hanya menjadi perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kita mungkin tidak dapat mengingat seluruh perintah Tuhan setiap saat, tetapi kita dapat terus mengingat inti yang diajarkan Kristus: kasihilah Tuhan dengan seluruh keberadaan kita dan kasihilah sesama seperti diri kita sendiri.

Kiranya kasih Allah yang telah kita terima melalui Kristus tidak berhenti pada diri kita, tetapi mengalir melalui kehidupan kita sehingga keluarga, gereja, tempat kerja, dan lingkungan di sekitar kita dapat merasakan kasih Kristus.

REFLEKSI Renungan

Kita perlu memeriksa kembali kehidupan kita: apakah kasih kepada Tuhan benar-benar menjadi dasar dari keputusan, perkataan, dan tindakan kita? Kita mungkin rajin beribadah, melayani, dan mengetahui banyak hal tentang Firman Tuhan, tetapi kasih harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, kita mau merespons kasih itu dengan ketaatan dan membagikannya kepada sesama. Kita belajar mengasihi bukan hanya orang yang menyenangkan hati kita, tetapi juga mereka yang berbeda dengan kita, bahkan mereka yang mungkin pernah mengecewakan kita. Dengan demikian, kehidupan kita menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus sungguh bekerja di dalam diri kita.

HIKMAT HARI INI

Kasih kepada Allah adalah sumber ketaatan, dan kasih kepada sesama adalah bukti bahwa kasih Allah sedang bekerja dalam kehidupan kita.

DOA MERESPONI FIRMAN TUHAN HARI INI

Tuhan Yesus, kami bersyukur karena Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami. Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih banyak berbicara tentang kasih daripada sungguh-sungguh melakukannya. Ajarlah kami mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta menundukkan kehidupan kami kepada kehendak-Mu. Mampukan kami mengasihi sesama melalui perkataan yang membangun, tindakan yang benar, kesediaan mengampuni, kesabaran, kepedulian, dan kerelaan untuk menolong. Biarlah kasih yang telah kami terima dari-Mu tidak berhenti dalam diri kami, tetapi menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Budi Wahono

Judul SEO: Hukum yang Terutama: Mengasihi Allah dan Sesama

Focus keyphrase: mengasihi Allah dan sesama

Meta description: Memahami Matius 22:37-40 tentang hukum yang terutama: mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama melalui ketaatan serta tindakan nyata.

1 thought on “HUKUM YANG TERUTAMA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *