Elohim Ministry umum Janji Manis-NYA

Janji Manis-NYA



Renungan Harian Jumat, 08 Desember 2023

Ulangan 7:9, “Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan.”

Ada banyak sekali janji-janji Allah di dalam Alkitab. ~ Tuhan Tidak Lalai Menepati Janji-Nya

Janji Tuhan dalam Alkitab berjumlah ribuan. Ada sumber yang menyatakan jumlahnya 3573, 5467, bahkan lebih dari 7000. Berapa pun angka sebenarnya, Petrus mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah lalai menepati semua janji-Nya. Sangat mudah bagi manusia untuk berjanji, tetapi bukanlah hal yang mudah untuk menepatinya. Bahkan sejumlah orang mungkin pernah mengalami janji palsu yang dilakukan oleh seseorang, hingga menimbulkan perasaan sedih, kecewa, dan marah.

Janji palsu dapat diartikan sebagai sebuah janji yang dibuat seseorang, namun sebenarnya dia tak bersungguh-sungguh menepatinya. Ketika kita sering  dikecewakan  dengan  janji-janji  palsu manusia, terkadang kita menjadi sulit untuk mempercayai janji, termasuk mempercayai janji janji Tuhan.

“Seorang anak kecil yang dari sejak pendidikan tingkat dasar hingga dewasa, seringkali berhadapan dengan janji yang tidak ditepati, walaupun dia selalu berhasil memenuhi syarat pra-syarat yang di ajukan oleh kedua orang tuanya. Pada akhirnya anak kecil ini tumbuh dewasa dengan pola berfikir tidak mudah percaya kepada orang lain, dan dia memiliki keraguan untuk meminta dalam doa doanya kepada Tuhan”

Kita sering lupa bahwa janji Tuhan itu sangat berbeda dengan janji manusia

Dia adalah pribadi yang sempurna, demikian juga dengan setiap perkataan- Nya adalah benar dan setiap Firman yang keluar dari mulut-Nya adalah kebenaran (Yes. 55:11).

Janjinya adalah janji yang murni dan telah teruji, dan Tuhan pantas dipercayai (Mzm. 12:6-7).

Dia tidak pernah melupakan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada kita

Bagaimana Menanggapi janji-janji Allah

Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. (Ibrani 11:11)

Sara menanggapi janji-janji Allah dengan sikap yang benar.

Memang pada awalnya ia berusaha memenuhi sendiri janji Allah dengan caranya sendiri. “Berkatalah Sara kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” dan Abram mendengarkan perkataan Sarai” (Kejadian 16:2). Memang benar Sara pernah menertawakan janji yang menurutnya mustahil bisa dilaksanakan. Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya… Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?” (Kejadian 18:10, 12).

Namun demikian, pada akhirnya Sara memberikan tanggapan yang benar terhadap janji Allah. “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu.”

Sikap yang benar dalam menanggapi janji-janji Allah adalah dengan PERCAYA.

Sara percaya kepada janji Allah akan seorang anak, dan Tuhan membuat Sara dapat mengandung dan kemudian melahirkan anak tersebut. “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat.

Ishak dilahirkan walaupun sebenarnya Sara tidak memiliki kemampuan secara biologis untuk bisa memiliki keturunan. Ishak lahir karena Sarah memiliki iman percaya kepada janji Allah. Perlu dicatat bahwa iman Sarah bukanlah sekedar sebuah kehendak kuat manusia, seperti “kekuatan pikiran positif.” Iman Sarah didasarkan kepada kesetiaan Allah. “Karena ia (Sarah) menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.” “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? (Bilangan 23:19).

Percaya perlu diuji Dengan waktu dan Keadaan/ situasi

Pdt. Budi Wahono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *