Renungan Harian Kamis, 17 April 2025
Bacaan: Lukas 23:33–38
Nats: Lukas 23:34, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Amazing Grace di Tengah Kegelapan
Tahukah Anda bahwa salah satu lagu rohani yang paling dikenal sepanjang masa, “Amazing Grace” atau dalam versi Indonesia “Ajaib Benar Anugerah” (KJ 40), lahir dari seorang mantan kapten kapal budak bernama John Newton? Ia pernah menjadi orang yang kejam, tidak peduli akan nyawa manusia, dan sangat jauh dari kasih Allah. Namun ketika ia mengalami kasih dan pengampunan dari Tuhan, hidupnya berubah total. Ia menulis lagu itu sebagai ungkapan syukur atas kasih karunia yang luar biasa – sebuah pengampunan yang menyelamatkan orang berdosa sepertinya.
John Newton adalah salah satu contoh nyata bagaimana kasih dan pengampunan dari salib Kristus mampu mengubah hidup seseorang.
Salib: Lambang Kutuk yang Menjadi Lambang Kasih
Pada zaman Yesus, salib adalah simbol kehinaan, kutuk, dan hukuman terkeji. Dalam hukum Yahudi, siapa yang tergantung di kayu salib dianggap terkutuk oleh Allah (bdk. Ulangan 21:23). Salib bukan sekadar alat hukuman mati, tetapi simbol bahwa seseorang ditolak oleh langit dan bumi. Maka tidak heran bila orang yang disalib dipandang sangat hina. Namun di tengah kejamnya salib, Yesus Kristus—yang tidak bersalah, tanpa cacat dan dosa—memilih untuk memikul salib itu. Ia tidak menolak, tidak melawan, dan tidak menyimpan dendam. Justru dari salib, Ia menyatakan kasih dan pengampunan.
Yesus Disalibkan Tanpa Kesalahan
Yesus menjalani proses yang tidak adil: difitnah, dihina, dicemooh, dan dijatuhi hukuman mati. Pontius Pilatus sendiri menyatakan bahwa Ia tidak menemukan kesalahan pada Yesus (Lukas 23:14). Namun tekanan massa dan kebencian para pemimpin agama membuat mereka lebih memilih membebaskan Barabas, seorang kriminal, daripada Yesus—Sang Anak Allah.
Ini menunjukkan kepada kita bahwa dunia sering tidak adil. Namun Yesus tidak menyimpan amarah. Ia tahu, misi-Nya bukan untuk membalas kejahatan, melainkan untuk menanggung dosa manusia demi keselamatan mereka.
Di Tengah Penderitaan, Yesus Mengampuni
Sungguh luar biasa bahwa saat Yesus dipaku, dicambuk, dihina, dan ditinggalkan, Ia tidak mengutuk atau mengancam. Ia tidak berkata, “Tunggu pembalasan-Ku!” Justru Ia berseru, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).
Inilah inti kasih Yesus: pengampunan yang diberikan bukan karena layak, tapi karena cinta.
Bayangkan: dalam kondisi paling sakit secara fisik dan emosional, Yesus tidak fokus pada penderitaan-Nya, tapi pada keselamatan orang-orang yang justru menyakiti-Nya. Inilah kasih tanpa syarat. Inilah kasih yang penuh pengampunan.
Pengampunan yang Membawa Kehidupan
Di antara dua penjahat yang disalibkan bersama-Nya, satu menghina Yesus, tapi yang lain bertobat dan berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk. 23:42). Dan di tengah kesakitan itu, Yesus menjawab, “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ayat 43). Inilah pengampunan yang menyelamatkan jiwa—bahkan di detik-detik terakhir hidup seseorang.
Salib: Tempat Penebusan Dosa Kita
Yesaya 53:4-5 menubuatkan bahwa oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan. Artinya, penderitaan Yesus bukan sia-sia. Ia menanggung murka dan hukuman dosa yang seharusnya kita tanggung. Salib menjadi tempat keadilan dan kasih Allah bertemu.
Seharusnya kitalah yang digantung di sana. Tapi Yesus menggantikan kita.
Tidak mudah mengampuni orang yang melukai kita, apalagi jika lukanya dalam. Tapi Yesus menunjukkan bahwa mengampuni bukan soal rasa, tetapi soal pilihan untuk taat dan melepaskan.
Pengampunan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan orang lain, tetapi melepaskan diri dari belenggu kepahitan.
Kolose 3:13 menasihatkan, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain… sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Kita mengampuni karena kita telah diampuni.
Kita mengasihi karena kita telah dikasihi.
Salib Adalah Kasih dan Pengampunan yang harus ada dalam Hidup kita
Salib bukan sekadar lambang di dinding gereja. Salib adalah nyata—tempat kasih Allah tercurah bagi kita yang berdosa. Salib menunjukkan bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni. Tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk diselamatkan. Jika hari ini Anda bergumul dengan luka, kepahitan, atau perasaan bersalah karena masa lalu—pandanglah Salib Kristus Di sana ada kasih. Di sana ada pengampunan, Di sana ada pengharapan.
Hikmat Hari Ini:
Pengampunan dari salib Kristus bukan hanya membebaskan kita dari hukuman dosa, tapi juga membebaskan kita untuk mengampuni sesama.
Salib adalah bukti kasih yang paling sempurna.
Tuhan Yesus memberkati. ✝️❤️🙏
YNP
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan