Renungan harian Youth, Kamis 27 Juli 2023
Syalom salam semangat buat rekan-rekan youth semuanya. … kiranya hari ini menjadi hari yang diberkati dan disertai oleh Tuhan… Amen
Dalam Kisah Para Rasul 20:35, ada sebuah kutipan yang mengatakan, “Lebih berbahagia memberi daripada menerima.”
Pernahkah kamu merasa senang dan bahagia ketika memberikan sesuatu kepada orang lain? Rasanya luar biasa, bukan? Itulah kebahagiaan dalam memberi. Ketika kita memberikan sesuatu, baik itu bantuan, kasih sayang, atau waktu kita, kita ikut berbagi sukacita dengan orang lain.
Waktu kita memberi kita sedang berbagi sukacita dan dengan ketulusan hati maka tidak ada penyesalan didalamnya sebalikanya adalah ucapan syukur karena masih bisa berbagi dengan sesama.
Memberi bukan hanya tentang memberikan barang atau uang, tetapi juga tentang memberikan perhatian dan kepedulian kepada sesama. Ketika kita menolong seseorang yang membutuhkan, memberikan senyum atau kata-kata semangat, itu semua adalah bentuk memberi yang berharga.
Saya sangat terinspirasi dengan cerita kisah dan pengalaman hidup dari Femi Otedola (miliarder dari Nigeria) dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, “Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?Femi berkata: “Saya telah melalui empat tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati”.

Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana. Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.
Tahap kedua, saya mengumpulkan barang-barang berharga. Saya menyadari bahwa hal ini bersifat sementara dan kilau barang berharga tidak bertahan lama.
Tahap ketiga, tatkala mendapatkan proyek besar. Saat itu saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Sampai di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.
Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak.
Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda. Teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak. Saya bersiap dan pergi bersamanya. Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang. “Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot”, ujarnya. “Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya. Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut, tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat.
“Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: “Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain?” “Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia, tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya. Anak ini berkata: “Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’”
Kemurahan hati adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta
Ada perasaan yang istimewa ketika kita melihat senyum di wajah orang yang kita bantu. Itu adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Saat kita berbagi dengan sukarela dan tulus, kita mengalami kebahagiaan yang mendalam di dalam hati kita. Tetapi ingatlah bahwa memberi bukan tentang mencari pujian atau imbalan. Tujuan kita memberi adalah karena kita ingin berbagi kasih dan kebaikan kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.
I Korintus 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
Hari kita diingatkan untuk hidup dengan penuh kasih dan kebahagiaan dalam memberi. Ketika kita melihat kesempatan untuk membantu dan berbagi, lakukanlah dengan sukacita dan penuh kasih. Mungkin bukan nilai yang besar, namun mulailah dari apa yang kita miliki dan bisa kita bagi kepada orang lain.
Sukacita dalam memberi, berbeda dengan sukacita karena kita mendapatkan sesuatu, sukacita didalam memberi adalah kebahagiaan karena ada orang lain yang berbahagia.
Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menjadi peka dan bisa melihat kebutuhan orang-orang disekitar kita yang kita bisa hadir untuk berbagi. Orang yang diberkati adalah mereka yang bisa menjadi berkat bagi sesamanya
Tuhan Yesus memberkati
YNP – SCW