Renungan Harian Jumat, 04 Oktober 2022
“Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas”
~ Daud (dalam ratapannya Mazmur 7:9)
“TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya”
~ Dialog Daud dengan TUHAN (dalam Mazmur 15:1-2)
Di hadapan Tuhan yang maha tahu, ketulusan adalah hal yang mendasar dan sangat bernilai. Jika kita bisa berpura-pura baik dan jujur di mata manusia, namun tidak demikian ketika kita di hadapan Tuhan. Jika manusia mudah dipengaruhi, mudah dibuat terkagum-kagum padahal dikelabui, namun hal tersebut mustahil dapat dilakukan di hadapan Tuhan.
Sebuah lagu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia”
Lagu ini menggambarkan kasih ibu yang tidak ada habisnya kepada anaknya, seorang ibu yang hanya dan akan selalu mengasihi anak-anaknya, kasih yang tulus, yang hanya memberi, tidak mengharapkan balasan.
Tulus berarti tanpa pamrih, tanpa motivasi tersembunyi, serta dilakukan dengan rela, tanpa mengharapkan keuntungan dan balasan.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengasihi dengan tulus.
Roma 12 : 9 mengatakan Hendaklah kasih itu jangan pura-pura …. ,
frasa jangan pura-pura dapat diartikan tulus ikhlas. Jadi, Mengasihi dengan tulus merupakan bentuk persembahan hidup setiap orang percaya yang telah menerima kemerdekaan dalam Tuhan Yesus. Kasih yang tulus kepada sesama manusia seperti Tuhan Yesus mengasihi kita dengan tulus, mengasihi kita dengan murni, hingga rela memberikan nyawanya untuk menebus dosa-dosa kita.
Persembahan Kain yang tidak TULUS
Banyak yang masih bertanya-tanya mengapa persembahan Kain tidak diterima, berbeda dengan persembahan Habel. Padahal keduanya memberikan yang terbaik dari hasil pekerjaan tangan mereka. Dan bukankah wajar jika Kain mempersembahkan hasil tanah karena ia seorang petani dan Habel mempersembahkan ternak yang digembalakannya? Nyatanya, Tuhan lebih berkenan pada persembahan Habel. Kain memilih persembahan menurut keinginannya sendiri.
Ketidaktulusan Kain membuat ibadah dan persembahannya kepada Tuhan menjadi sia-sia….
Tanpa mencari tahu isi hati-Nya dan menemukan apa yang ingin kita lakukan bagi Dia, maka kita sedang memaksa Tuhan menerima persembahan kita dan mengklaim bahwa Dia disenangkan oleh apa yang kita lakukan.
Sudah saatnya kita berhenti bersikap seperti Kain di hadapan Tuhan. Sudah saatnya dan selayaknya, Tuhan menerima persembahan yang tulus dan sepenuhnya bagi kemuliaanNya
Dalam Perjanjian Baru, kita juga dapat melihat contoh kehidupan seorang janda miskin yang dengan ketulusan memberikan persembahannya dalam Bait Allah. Persembahan seorang janda miskin yang tulus
Markus 12:43-44 YESUS memanggil para murid-Nya dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bahwa janda miskin itu telah memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uangnya dalam peti persembahan; karena semua orang telah memasukkan ke dalam peti itu dari kelimpahannya, tetapi ia dari kekurangannya, yaitu semua yang ia miliki, bahkan ia telah memberikan seluruh nafkah hidupnya.”
Tuhan mencari para penyembah yang benar
Dan di antara penyembah-penyembah-Nya, Ia mencari penyembah yang tulus. Seperti Habel, dan Janda yang miskin, mereka memberikan yang terbaik, dan senantiasa mencari tahu apa yang menyenangkan hati Tuhan dan memberikan dengan sepenuhnya.Sikap hati yang telah dibebaskan dan dibersihkan dari maksud dan tujuan hanya untuk mencari kepentingan bagi diri sendiri, akan menikmati berkat Tuhan dengan limpahnya.
“Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.” ~Daud, penyembah yang tulus di hadapan Tuhan (dalam Mazmur 25:21)
Pdt Budi Wahono
Elohim Family Fellowship 03 November 2022