Renungan Harian Kamis, 03 November 2022
Bacaan : Amsal 3
Ayat Pokok : Amsal 3:3, “Jangankah kiranya kasih dan Setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu.”
Shalom… Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Hari ini kita akan belajar tentang kata “setia”. Kata setia memiliki definisi berpegang teguh [pada janji, pendirian, dsb]; patuh dan taat. Jika melihat definisinya “setia” bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Memerlukan proses yang panjang dalam ketekunan agar seseorang bisa menjadi setia. Salomo menuliskan bahwa; “banyak orsng menyebut dirinya baik, tetapi orang yang setia, siapakah yang menemukannya?” (Amsal 20:6). Dalam pengalamannya sebagai Raja selama 40 tahun, Salomo menemukan fakta bahwa sulit untuk menemukan orang yang setia.
Dalam catatan sejarah negara Amerika, salah satu peristiwa mengerikan bagi rakyat Amerika di samping tragedi WTC di New York adalah peristiwa meledaknya bom pada Minggu pagi di barak marinir di Beirut, pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan pada tanggal 23 Oktober 1983. 307 marinir terbunuh (241 tentara Amerika dan 58 personil militer Prancis) di saat mereka semua sedang pulas tertidur. Mereka yang masih hidup berusahan mengais dan menemukan saudara mereka yang terluka atau mati di dalam puing-puing.
Beberapa hari setelah tragedi komandan Paul X. Kelly mengunjungi para marinir yang selamat meskipun dengan luka-luka di sebuah rumah sakit di Frankfurt, Jerman. Salah satu marinir yang terluka parah dan sedang dalam perawatan adalah Kopral Jeffrey Lee Nashton. Di tubuhnya terdapat banyak selang dan disambungkan dengan berbagai mesin. Ia tidak rupa manusia normal lagi, namun seperti manusia mesin. Ketika Komandan Kelly mendekatinya, Nashton berjuang untuk mendekat sambil menahan kesakitan karena luka-lukanya itu. Ia mendekati secarik kertas dan pulpen. Ia menuliskan sesuatu lalu disodorkannya kepada sang komandan. Di kertas itu tertulis “Semper Fi” – moto marinir dalam bahasa Latin yang berarti “selamanya setia.”
Dengan dua kata sederhana ini Nashton berbicara bagi jutaan orang Amerika bahwa pengorbanan dirinya adalah untuk negaranya.
Bapak, ibu dan saudara yang terkasih, kita kagum dengan kesetiaan dan loyalitas orang-orang yang rela berkorban bahkan nyawanya bagi negaranya. Orang-orang seperti ini tidak memikirkan dirinya lagi. Apa yang dilakukannya semata-mata setia pada tugas dan menyelesaikannya sampai tuntas.
Yang turut menjadi keprihatinan kita bersama di era post modern ini, ada banyak orang-orang Kristen yang rapuh loyalitasnya.
Begitu mudahnya mereka meninggalkan Tuhan hanya karena Tuhan belum menjawab doanya atau karena godaan duniawi di luar sana. Padahal mereka tahu sendiri bahwa Yesus sudah rela mati dan disalibkan bagi mereka. Tidak sedikit orang Kristen yang menangis sampai tersedu-sedu melihat prosesi penyaliban Yesus dalam film ‘Passion of the Christ’, tetapi tetap saja imannya mudah goyang.
Firman Tuhan dalam ayat pokok kita hari ini menasehati dan mengajak kita untuk menjadi orang yang setia. Janganlah kasih dan setia meninggalkan kita.
Zaman sekarang “kesetiaan” adalah “barang” yang langka. Tetapi marilah kita membangun kesetiaan kita melalui hati yang mengasihi DIA. Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita dan membuktikan kesetiaan-NYA sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib.
Marilah kita bersama membangun hidup Kristen yang setia, sampai akhir hidup kita. Amin.
Tuhan Memberkati
DS