Renungan Harian, Sabtu 23 November 2024
Baca: Yohanes 13:31-35
Nats: . Yohanes 13:34-35, Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Syalom bapak ibu saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus . . . . .
Dalam dunia pertemanan sebagian besar orang akan memasang standar kelayakan, misalnya saja harus memiliki karakter yang baik, tidak memiliki catatan yang buruk di masa lalu, bersih dari masalah dan beberapa hal yang memberikan keuntungan sehingga nama baik kita terjaga. Tetapi berbeda dengan teladan yang diberikan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus hadir ke dunia untuk berteman dengan manusia berdosa. Dia begitu sempurna tanpa dosa mau menjadi sahabat orang berdosa, bahkan Ia mau bertaruh nyawa demi keselamatan para pendosa.
Melalui pengorbanan Kristus kiranya menjadi pendorong bagi kita untuk memiliki kasih yang serupa dan mau menerima sesama adalah cara kita memuliakan Allah. Kita tidak akan dapatkah mengasihi sesama jika kita tidak pernah merasakan dan menerima kasih Allah.
Karena keberhasilan pengenalan kita akan Kristus ditandai dengan terjadinya pemulihan hidup manusia baru dalam kekudusan dan pemulihan itu terjadi karena kasihNya yang lebih dulu mendorong kita untuk menerima sesama dengan kasih.
Sebab itu kita harus rela mengorbankan waktu, materi, gengsi, juga perasaan seperti Kristus yang terlebih dahulu berkorban nyawa demi kita.
Setelah Yesus berbicara tentang pengkhianatan, dan setelah Yudas dikuasai sepenuhnya oleh Iblis, Yudas segera melangkahkan kakinya untuk melakukan rencana jahat yang sudah disepakatinya dengan Iblis. Ia lebih memilih untuk mengikuti yang jahat daripada mengikuti nasihat Yesus dan panggilan kasih karunia-Nya. Karena itu, ia kehilangan bagian penting dari pembicaraan Yesus selanjutnya, yaitu tentang saling mengasihi sebagai sesama murid Kristus.
Yesus memandang rencana jahat Yudas untuk menyerahkan-Nya kepada para pemimpin agama Yahudi dan penyaliban yang akan dihadapi-Nya sebagai cara Allah Bapa untuk memuliakan-Nya serta jalan bagi-Nya untuk memuliakan Allah Bapa (31-32).
Selain mengindikasikan keilahian-Nya, panggilan Yesus kepada para murid dengan sebutan “anak-anak-Ku” menunjukkan relasi yang erat dan dekat yang dibangun dan diprakarsai oleh Yesus. Karena Yesus yang memprakarsainya, relasi itu bersifat kekal. Yesus telah, sedang, dan akan terus mengasihi mereka. Karena itu, Dia memberikan perintah supaya mereka saling mengasihi dengan standar yang Yesus berikan. Dan, saling mengasihi itulah yang akan menjadi identitas mereka di tengah-tengah dunia, yaitu cara dunia mengenali mereka (34-35).
Perintah ini berlaku untuk semua orang percaya di sepanjang masa, dalam kata lain kita dan semua orang yang berstatus sebagai anak-anak Allah. Kita yang telah ditebus dengan pengorbanan-Nya dan secara pribadi mengalami kasih Tuhan Yesus diberi kemampuan untuk mengasihi sesama dengan kasih dari surga. Kasih itu tidak hanya kita alami, namun kasih itu akan menjadi bukti bahwa kita adalah murid Tuhan Yesus.
Sudahkah kita mengasihi sesama tanpa memandang bulu seperti Yesus mengasihi kita?
Tuhan Memberkati..
EW
Bacaan Alkitab hari ini : Kitab Mazmur pasal 107-108