Renungan Harian Youth, Jumat 31 Maret 2023
Syalom, selamat pagi rekan-rekan youth. Apa kabarnya hari ini? Semoga kita semua sehat selalu dan dalam lindungan Tuhan.
Hari ini kita akan bersama merenungkan Firman Tuhan tentang “MENJAGA RAHASIA”, tentunya dalam pergaulan kita dengan sesama kita pernah dicurhatin sama rekan atau sahabat kita. Dan tentunya harapannya adalah kita menjadi orang yang bisa dipercaya dan menjaga rahasia dari apa yang menjadi kisah cerita mereka. Bagaimana kita “Menjaga RAHASIA” sehingga kita bisa menjadi SAHABAT yang baik bukan hanya menjaga RAHASIA tetapi menjadi sahabat dalam perubahan dan pertumbuhan.
Suatu saat ada sebuah cerita Denny jengkel sekali. Dua hari lalu, ia baru saja menceritakan uneg-unegnya pada salah seorang rekan pelayanan digerejanya. Ia menceritakan perihal masalah dengan orang tuanya terkait dengan pacaranya. Tiba-tiba suatu pagi, teman satu gereja menelepon dan bertanya: “Ada masalah apa dengan ayahmu?” Denny kaget sekaligus kecewa. Kabar soal masalahnya dengan ayahnya ternyata sudah menyebar kepada teman-temannya, rupanya sahabatnya menceritakan masalahnya kepada rekan yang lain dengan alasan “Bantu Doa ya, Denny lagi ada masalah sama papanya terkait pacaranya”. Walau berniat baik tetapi sahabat Denny telah gagal menjaga rahasia.Rekan-rekan cerita diatas adalah hal kecil namun sering terjadi dan menimbulkan kekecewaan karena berhadapan dengan orang yang tak bisa menjaga rahasia.
Membocorkan rahasia berarti mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan seseorang. Walaupun tanpa sengaja, dampaknya tetap merusak.
Amsal mengingatkan, mulut yang mengucapkan apa yang tidak perlu bisa “membinasakan sesama” (Amsal 11:9), bahkan “meruntuhkan kota” (Amsal 11:10). Selanjutnya, ketidakmampuan menyimpan rahasia juga menandakan bahwa orang itu tidak setia dan tidak bisa mengendalikan diri (Amsal 11:12).
Seseorang yang bijak seharusnya tahu kapan saatnya berdiam diri dan kapan saatnya menutupi perkara.
1 Petrus 4:8: Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa (TB)
1 Petrus 4:8: Lebih daripada segala-galanya, hendaklah kalian sungguh-sungguh mengasihi satu sama lain, sebab dengan saling mengasihi kalian akan bersedia juga untuk saling mengampuni. (BIS)
Ketika kita berjumpa dengan situasi yang tidak mudah berhadapan dengan “Dosa” dari sahabat kita, mari kita belajar dari prinsip yang diberikan oleh Petrus bagaimana kita menjadi sahabat yang baik bagi sesama kita.
Ada alasan yang kuat mengapa Rasul Petrus menulis ayat di atas. Petrus sempat menyangkal dan mengutuk Yesus menjelang peristiwa salib. Sesaat setelah Yesus bangkit, Yesus mencari Petrus yang telah kembali ke kehidupan lamanya, yaitu menjadi nelayan. Yesus menemui Petrus bukan untuk menudingnya, melainkan untuk menunjukkan bahwa Dia tetap mengasihi Petrus sekalipun Petrus meninggalkan-Nya.
Kasih yang Yesus berikan kepada Petrus membuat Petrus kembali ke jalan Tuhan dan melayani Tuhan sampai akhir hidupnya.
PRINSIP DASARNYA ADALAH KASIH
1 Korintus 13:7: “Ia menutupi segala sesuatu…”
Kasih yang akan menolong kita untuk bisa mengampuni dan memberikan penerimaan yang utuh bagi sahabat kita. Kita memang tidak setuju dengan perbuatan dosa sahabat kita namun, kita melihat bahwa kasih Allah sanggup untuk mengampuni dan memberikan pemulihan bagi siapapun yang bertobat dan menyadari pelanggarannya.
BERBEDA ANTARA MENUTUPI dan MENUTUP-NUTUPI DOSA
Dalam menjaga Rahasia bukan berarti kita menutupi pelanggaran atau dosa sahabat kita, namun dengan KASIH kita mengingatkan pentingnya pertobatan dan menemaninya untuk mau berubah. Menjadi sahabat ketika dia berproses dalam pertobatannya. KASIH tidak menutup-nutupi dosa, tetapi KASIH yang akan membimbing kita untuk menyatakan PENGAMPUNAN.
KASIH TIDAK BERFOKUS KEPADA KESALAHAN TETAPI PEMULIHAN
Inilah hal yang penting, sebesar apapun kesalahan sahabat kita pribadinya masih jauh lebih berharga. Karena demikianlah kasih Kristus yang Besar bagi orang yang berdosa, demikianlah cara kita memandang sahabat kita yang datang dengan segala pergumulannya.
Kesalahan Petrus menyangkal Yesus menjelang peristiwa penyalibanNya, kemudian ia kembali menjadi nelayan. Namun, kasih Yesus kepada Petrus membuat Petrus kembali ke jalan Tuhan. Kasih Yesus membuatnya tidak fokus kepada dosa, kekurangan, atau kesalahan Petrus, melainkan kepada pribadi dari orangnya. Cara pandang seperti itulah yang membuat kita dapat terus sabar dan setia menuntun seseorang untuk “belajar berdiri” atau “belajar berjalan” di dalam Kristus. Ketika ada sahabat yang datang untuk curhat kepada kita, jadilah sahabat yang baik bagi mereka. Milikilah kasih untuk mendukungnya supaya tetap kuat dan Kembali kepada Tuhan.
Jadilah sahabat yang dapat dipercaya bukan untuk untuk menutup-nutupi kesalahannya tetapi menunjukkan kasih Allah yang menutupi dan memulihkan kita dari dosa.
Kiranya Roh Kudus akan menolong kita menjadi sahabat yang baik bagi sesama kita
Tuhan Yesus memberkati
YNP – TVP