Elohim Ministry youth ONE ACCORD — Sehati dan Sepikir dalam Kristus

ONE ACCORD — Sehati dan Sepikir dalam Kristus



Renungan Harian Youth, Senin 27 Oktober 2025

📖 Bacaan: Yohanes 17:20–21

“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

DICIPTAKAN UNTUK TUJUAN ILAHI

Tuhan tidak menciptakan manusia karena Ia membutuhkan sesuatu dari kita. Allah tidak kekurangan apa pun, tidak bergantung pada siapa pun, dan tidak membutuhkan penyembahan untuk menjaga “harga diri-Nya.” Ia tetap sempurna dan penuh kasih tanpa bantuan kita. Namun, Tuhan menciptakan kita karena kasih-Nya, agar kita mengalami persekutuan dengan-Nya dan satu sama lain. Kita diciptakan bukan untuk hidup sendiri, tetapi untuk hidup dalam hubungan — dengan Allah dan dengan sesama.

Kita dipanggil untuk saling melayani, saling mengasihi, dan berjalan bersama dalam satu kasih dan satu tujuan. Sejak awal, Allah berkata, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.” (Kejadian 2:18) Artinya, hidup manusia memang dirancang untuk kebersamaan, bukan kesendirian.

Efesus 2:10 menyatakan: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”

Kita semua adalah maha karya Allah — diciptakan bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk melayani orang lain. Efesus 4:1–6 mengingatkan agar kita hidup dengan rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu dalam kasih, dan memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera.

Kesatuan bukan berarti seragam, tetapi selaras. Seperti orkestra, setiap alat berbeda namun menciptakan harmoni yang indah ketika dimainkan bersama dalam satu tujuan.

DOSA MERUSAK TUJUAN ALLAH

Sayangnya, dosa membuat manusia kehilangan arah. Dunia modern sering mendorong kita untuk fokus pada diri sendiri: “Kebahagiaanmu ada di tanganmu.” Atau “Yang penting aku nyaman.” Atau hanya berfikiri “Aku harus jadi versi terbaik dari diriku, ga peduli kata orang”

Kedengarannya baik, tapi jika kita menyingkirkan Tuhan dari pusat kehidupan, kita sedang meniru pola individualisme dunia — bukan pola kerajaan Allah. Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama.

KEMBALI KEPADA TUJUAN ALLAH (ROMA 12:1–8)

Paulus menasihati agar kita mempersembahkan hidup sebagai “korban yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah.” Ini bukan sekadar slogan, tetapi keputusan pribadi untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan — bukan hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk kehendak-Nya.

Kata “mempersembahkan” berarti penyerahan total. Bila seseorang tidak menyerahkan dirinya kepada Tuhan, maka tanpa sadar ia akan menyerahkan dirinya pada dunia atau pada ego.
Menyerahkan diri berarti siap dipakai Tuhan untuk melayani, mengasihi, dan membangun tubuh Kristus. Paulus juga menasihati: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Roma 12:2)

Perubahan ini bukan perubahan sementara, melainkan pembaruan dari dalam yang dilakukan oleh Roh Kudus, yang mengubah cara kita berpikir, bertindak, dan melihat hidup. Ketika pikiran kita diperbarui, kita tidak lagi berpikir “aku” tapi “kita” — karena kita sadar bahwa hidup dalam Kristus selalu melibatkan tubuh Kristus secara keseluruhan.

KESATUAN DALAM KEBERAGAMAN

Roma 12:4–5 menekankan bahwa kita adalah satu tubuh dengan banyak anggota.
Kita tidak bersaing, tetapi bekerja sama. Karunia yang berbeda-beda diberikan bukan untuk menunjukkan siapa yang hebat, tapi untuk melengkapi dan membangun satu sama lain.

Gereja bukan menara Babel yang dibangun untuk kemuliaan manusia, melainkan tubuh Kristus yang dibangun untuk kemuliaan Tuhan.

Karunia bukan prestasi, tetapi kasih karunia. (Roma 12:6–8)
Kata “karunia” berasal dari charisma, yang berakar pada kata charis — artinya kasih karunia.
Jadi, tidak ada alasan untuk sombong karena semua berasal dari anugerah Tuhan, bukan hasil usaha sendiri.

TANTANGAN: ANTARA KESOMBONGAN DAN MINDER

Kesombongan membuat kita merasa lebih penting dari orang lain, sementara minder membuat kita merasa tidak berguna. Keduanya adalah bentuk ketidakseimbangan yang merusak kesatuan tubuh Kristus.

Filipi 2:2–4 memberikan solusi yang indah: “Hendaklah kamu sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri.” Kesatuan yang sejati hanya terjadi jika kita memiliki kerendahan hati dan kasih yang tulus.

Kita diciptakan bukan untuk bersaing, tetapi untuk melengkapi. Bukan untuk memuliakan diri, tetapi untuk memuliakan Kristus. Mari kita berdoa agar hati dan pikiran kita disatukan oleh Roh Kudus, sehingga dunia melihat Kristus melalui kebersamaan kita.

💭 Hikmat Hari Ini

Kesatuan bukan berarti sama, tapi berbeda yang bergerak dalam satu arah — menuju Kristus. Saat kita sehati dan sepikir di dalam Tuhan, dunia akan melihat kasih-Nya yang nyata melalui kita.

Tuhan Yesus memberkati

EYC 251025 – YDK

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800

Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *