Elohim Ministry umum Self-Pardon

Self-Pardon



Renungan Harian Jumat, 23 Mei 2025

Alkitab membahas topik pengampunan dengan cukup detil, namun tidak halnya dengan topik mengampuni diri-sendiri. Pada umumnya, kita berbicara tentang “mengampuni diri” ketika seseorang mengutarakan rasa bersalah terus-menerus atas dosa pribadinya atau atas konsekuensi negatif yang dihasilkan oleh perbuatan sebelumnya. Mungkin disini kita merasa perlu untuk memahami pentingnya pemahaman “pengampunan diri”

Mengampuni diri sendiri / Self-pardon

Definisi dan Makna

  • Self-pardon berarti tindakan atau proses mengampuni diri sendiri atas kesalahan atau tindakan yang salah yang telah dilakukan.
  • Asal Usul (Etymology): Kata “self” berasal dari bahasa Inggris Kuno “seolf,” yang berarti “diri.”
  • Sementara itu, kata “pardon” berasal dari bahasa Prancis Kuno “pardoner,” yang berarti “mengampuni.” Konsep ini kombinasi dari dua elemen yaitu kemampuan untuk mengampuni diri sendiri.

Pengampunan diri pada dasarnya terlebih dahulu harus dimulai dari pemahaman kita tentang pengampunan Allah.

  • Alkitab menjelaskan bahwa semua orang telah berdosa terhadap Allah (Roma 3:23)
  • Dan semua perbuatan salah kita adalah pelanggaran terhadap Allah (Mazmur 51:4; Kejadian 39:9).
  • Jadi, hal utama yang kita butuhkan adalah pengampunan dari Allah, yang tersedia bagi kita melalui pribadi dan karya Yesus Kristus di Kayu Salib.

Semua orang yang beriman pada Yesus sudah sepenuhnya diampuni dari dosanya.

Mereka terhitung sebagai orang benar di hadapan Allah, dan dibenarkan (Roma 5:1-11; Efesus 1:13-14, 2:1-10).
Pengorbanan Yesus cukup bagi semua dosa kita. Oleh karena itu, pengampunan diri sebetulnya berhubungan erat dengan menerima pengampunan Allah.

  • Ketika kita diselamatkan, kita menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12).
  • Kita menerima hadirnya Roh Kudus yang mengubah kita (Filipi 2:12-13).
  • Ia menyertai kita selamanya (Yohanes 14:16-17; Efesus 1:13-14).

Ketika telah menerima pengampunan, kita harus bisa mengampuni sesama kita
Ketika telah menerima pengampunan, kita harus bisa mengampuni diri kita sendiri

Meskipun ini terdengar sebagai konsep yang sederhana, mengampuni diri tidaklah mudah. Kita menyesali pilihan kita yang salah, dan kita merasa bersalah karena telah menyakiti orang lain dan diri kita sendiri. Bahkan terkadang kita berpikir bahwa kita tidak bisa mengampuni diri, seolah-olah “hukuman” yang kita rasakan dapat menebus kesalahan kita.

Perasaan ini bukan pesan Injil.

Sebaliknya, Alkitab mengajar bahwa kita tidak mungkin sanggup menebus dosa kita.
Kita adalah pendosa yang mati dalam pelanggaran kita (Roma 3:23, 6:23; Efesus 2:1-10) dan tanpa Kristus, kita tidak mungkin memiliki harapan (Yohanes 3:16-18,36; Roma 5:6-8).
Injil mengajar bahwa murka Allah atas dosa kita telah ditanggung oleh Yesus; keadilan telah dijalankan.

Oleh sebab itu, jika kita Hidup terus-menerus dalam rasa bersalah dan penghukuman-diri, hal ini adalah penolakan terhadap karya penebusan Kristus.

Kisah menyedihkan yang terjadi dalam hidup Yudas Iskariot

Yudas Iskariot menemui imam-imam kepala untuk mengembalikan uang 30 keping perak dan berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tidak bersalah.”(Matius 27:4)
Imam-imam kepala tidak peduli lagi, dan Yudas Iskariot melemparkan uang ke dalam Bait Suci, kemudian pergi untuk menggantung diri (Matius 27:5).

  • Yudas Iskariot mengalami pergumulan batin yang hebat.
  • Dia menyesali dosanya, tapi tidak mau bertobat.
  • Dia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri/gantung diri.
  • Semua penduduk Yerusalem tahu akhir kisah hidup Yudas Iskariot ini (Kisah Para Rasul 1:19).
  • Kisah hidup Yudas Iskariot berakhir di sini.

Ketidak-percayaannya kepada Kristus yang menjadi masalah utamanya.

Justru penyesalan / kesedihan Yudas yang menuntun Yudas untuk tidak dapat mengampuni dirinya sendiri, hal itu bukanlah kesedihan yang datang dari Allah!
2Kor 7:10 –
“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.”.

Berbeda Halnya dengan PETRUS

Petrus MENYESAL, Petrus Bertobat, dan akhirnya MENGERTI dan MEMAHAMI bahwa Yesus tergantung di Salib untuk menebus dosa manusia, seperti yang Yesus sendiri katakan kepadanya
PETRUS Sudah BERDAMAI Dengan dirinya, Petrus Sudah MENGAMPUNI Dirinya Sendiri dan dia Melayani Tuhan dengan LUARBIASA

Paulus menjadi teladan seorang yang telah mengampuni diri-sendiri.

Sebelumnya, ia adalah penganiaya gereja Tuhan yang kejam. Namun, bukannya hidup dalam rasa bersalah atas aksi masa lampaunya, atau berpikir bahwa Allah tidak mungkin memakainya, Namun ia sebaliknya mengabarkan Injil dengan giat.

Tindakannya bukan demi menghukum diri atau berusaha menebus kesalahan masa lalunya, melainkan dari pengertiannya akan keselamatan Allah sebagai Ucapan Syukur atas Anugerah Tuhan yang tak terhingga yang telah Paulus alami dihidupinya

Paulus menulis, “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin” (1 Timotius 1:15-17).

Paulus menerima pengampunan Allah dengan tangan terbuka dan bersuka-cita di dalamnya.

Budi Wahono

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *