Renungan Harian Youth, Kamis 19 September 2024
Yeremia 29:10, Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.
Pada tahun 2017, film Spiderman dibuat ulang dengan aktor yang berbeda dari sebelumnya. Salah satu hal menarik dari trilogi film Spiderman baru ini, yaitu Homecoming (2017), Far from Home (2019), dan No Way Home (2021) adalah semua judulnya memakai kata “Home”. Ketika ditanya mengapa dibuat dengan judul yang selalu ada kata “home”? Jawabannya, “Ada banyak arti, tetapi kami menikmati memakai judul tersebut.”
Rumah (home) memang tempat terbaik yang seharusnya dinantikan setiap orang. Tempat dimana seseorang akhirnya selalu pulang kembali.
Cerita dalam film ini mengingatkan kita kepada kisah bangsa Israel yang harus mengikuti pendisiplinan dari Tuhan oleh karena konsekuensi dari kehidupan mereka yang selalu mengalami pasang surut kehidupan. Mereka memang pada akhirnya dibuang oleh Allah ke negeri yang jauh, namun Tuhan berjanji akan membawa kembali pulang kepada negeri leluhur mereka.
Dalam Yeremia 29 ini, kita melihat ada perintah (4-7), ada peringatan (8-9), ada janji (10-14), dan juga ada hukuman (15-32). Semua hal tersebut tercantum dalam satu surat yang dikirim oleh Yeremia kepada para tua-tua, imam-imam, nabi-nabi, dan seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan yang pertama .
Surat ini berisikan kepastian dan perintah yang berasal dari Tuhan. Tuhan, melalui surat itu, memastikan bahwa umat yang diangkut dalam pembuangan ke Babel, akan tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama yaitu tujuh puluh tahun ! Untuk itulah Tuhan memerintahkan mereka untuk membangun kehidupan di sana. Tuhan mengingatkan umat untuk berhati-hati terhadap nubuat para nabi palsu dan mimpi-mimpi para juru tenung. Mereka diminta oleh Tuhan untuk lebih taat pada perintah-Nya. Kepada yang taat, Tuhan menjanjikan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan. Di atas semua itu, Tuhan berjanji kepada mereka bahwa mereka akan dikumpulkan kembali untuk dikembalikan ke tempat dari mana Tuhan telah membuang mereka.
Ezra pasal 2 mencatat kepulangan orang Israel kembali ke tanahnya sendiri setelah puluhan tahun berada di negeri orang. Proses kepulangan ini bukan kepulangan biasa. Ada 49.697 orang Israel dan budak, serta lebih dari delapan ribu ternak. Kepulangan ini juga bukan karena usaha mereka, melainkan karena Tuhan yang mengembalikan ke rumah. Tuhan sudah berjanji akan memulangkan mereka kembali dan Dia menepati janji-Nya. Seorang penafsir berkata, “Pasal ini betapa pun kelihatannya tidak menarik, tetapi merupakan monumen pemeliharaan Allah dan sangat vital bagi Israel.” Jika dapat membayangkan perasaan orang Israel saat itu, mungkin penuh rasa haru dan syukur karena akhirnya bisa pulang ke rumah.
Orang-orang Israel yang datang ke Yerusalem dalam bacaan ini bukanlah pemudik tahunan. Mereka kembali setelah dibuang ke negara lain sekian lama. Mereka pulang karena merespons maklumat yang dikeluarkan oleh Raja Koresy. Mereka kembali ke tempat di mana identitas dan martabat mereka sebagai bangsa akan dipulihkan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan mereka.
Ada harapan untuk kehidupan yang lebih baik, tapi pasti terselip juga kecemasan apakah memang kehidupan mereka di kampung halaman akan lebih baik.
Saat itu kondisi Yerusalem pun hanyalah berupa puing-puing. Artinya, ketika mereka kembali ke sana, mereka tidak memiliki tempat tinggal yang pasti dan aman. Hal itu juga berarti mereka harus bersedia mengorbankan segala kenyamanan, keamanan, dan kemakmuran yang mereka nikmati di negeri asing dan memulai kehidupan mereka dari awal. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang memilih untuk tetap tinggal di negeri asing dengan segala kemudahan dan kenyamanan yang ada daripada melakukan apa yang Tuhan perintahkan, yaitu membangun kembali bait Allah. Prioritas mereka tidak lagi pada kehendak Tuhan, melainkan kenyamanan pribadi.
Bagi kita yang hidup pada masa kini, apa yang menjadi prioritas di dalam hidup kita? Apakah kita lebih memilih melakukan kehendak Tuhan ataukah memenuhi kenyamanan pribadi kita? Rumah yang hangat, situasi yang aman, dan terpenuhinya kebutuhan kita bukanlah dosa. Namun, jangan sampai kenyamanan, keamanan, dan kekayaan menghambat kita untuk peka dan melakukan kehendak-Nya.
Ini bukan tentang kepulangan yang sentimental, tetapi mengenai perwujudan rencana Allah. Sekalipun Israel berkali-kali gagal, tetapi Tuhan tidak pernah gagal. Seperti yang disampaikan ayat emas bahwa Tuhan selalu akan menepati janji-Nya dengan mengembalikan mereka ke tempat asal mereka. Ketika orang Israel dipulangkan, itu merupakan bagian dari penggenapan rencana agung Allah atas Sang Mesias yang akan datang untuk menyelamatkan manusia dan memastikan kepulangan umat-Nya ke rumah Bapa.
Kita juga akan pulang ke rumah satu hari nanti. Kepulangan anak-anak Tuhan adalah pasti ke surga karena Tuhan Yesus telah memastikan jalan pulang yang benar ke rumah Bapa. Tidak ada satu pun dari anak-anak Tuhan yang akan nyasar atau salah rumah. Ezra 2 mengajarkan kita tentang kesetiaan dan keagungan rancangan-Nya yang tidak pernah keliru.
Tuhan pasti akan menuntun perjalanan hidup kita sampai pulang ke rumah abadi yang penuh sukacita.
Tuhan Yesus memberkati
RM – SCW