Elohim Ministry youth UMAT KESAYANGAN TUHAN

UMAT KESAYANGAN TUHAN



Renungan Harian Youth, Rabu 09 November 2022

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.
– 2 Petrus 3:9

Kata orang, merpati tak pernah ingkar janji. Entah peribahasa ini benar atau tidak, satu hal yang pasti adalah Tuhan tak pernah ingkar janji.

Keseluruhan Perjanjian Lama menceritakan mengenai bagaimana Tuhan yang penuh kasih setia tetap memegang perjanjian-Nya meski umat-Nya selalu ingkar janji. Perjanjian Lama sangat menekankan sifat Tuhan ini, yaitu kasih setia. Bahkan artifak yang terpenting di Perjanjian Lama, yaitu Tabut Perjanjian juga melambangkan kehadiran Tuhan. Kasih setia-Nya sungguh nyata dan teruji oleh waktu. Seperti yang tercatat di dalam kitab terakhir dalam Perjanjian Lama,

Maleakhi 3:17, Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman Tuhan semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia.

Bagian yang kita baca menutup seluruh kisah Perjanjian Lama. Terlepas bagaimana Tuhan dengan keras menghukum umat-Nya karena kebebalan mereka, Dia tetap sabar terhadap mereka dan tidak pernah meninggalkan mereka. Umat-Nya-lah yang sering kali lupa akan hal tersebut. Itulah mengapa Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk mengingat kembali Taurat yang Dia berikan kepada Musa (Mal. 4:4), yaitu saat dimana Tuhan sendiri akan datang di tengah-tengah mereka dan menggenapi janji-Nya yang segera tiba, dan umat-Nya harus mempersiapkan diri untuk hari tersebut. Sayangnya, kita tahu melalui keempat kitab Injil bahwa lagi-lagi orang Israel masih saja bebal. Padahal, Tuhan Yesus sendiri yang datang ke tengah-tengah mereka.

Kalimat “menjadi milik kesayangan TUHAN” berarti menjadi milik khusus Tuhan. Dan itu berarti karena pemilihan Allah sendiri kepada umat Israel. Kepantasan pemilihan ini adalah berdasarkan hak dan kedaulatan Allah. Ia berdaulat dan berkuasa memilih siapa yang dikehendaki-Nya, sebab segala-galanya adalah kepunyaan-Nya. “Menjadi milik kesayangan-Ku sendiri”, dalam kitab Maleakhi 3:17 dipakai untuk menjelaskan kepastian akan masa depan yang terjamin di dalam kendali Tuhan. 

Setiap orang pasti punya barang atau sesuatu yang sangat disayangi. Bagaimana kita memperlakukan barang kesayangan kita? Tentu saja kita berusaha utuk merawat, menjaga, melindungi, dan memastikannya selalu dalam keadaan baik. Bila misalnya barang kesayangan kita itu adalah mobil, maka kita akan memastikan kondisi mobil kita selalu dalam keadaan prima, bersih dan kinclong luar dan dalam. Kita tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan biaya ekstra untuk merawat dan menjaga kondisi mobil tersebut. Bahkan mungkin juga kita akan menambahkan aksesoris tambahan agar tampak lebih ciamik. Sedikit saja goresan yang menyebabkan kondisinya cacat akan terasa seperti goresan di hati. Alangkah beruntungnya barang yang dijadikan kesayangan oleh pemiliknya. Ia akan selalu dirawat dan mendapatkan yang terbaik. Hanya saja kita perlu ingat bahwa sebagai harta kesayangan Tuhan, kita harus sungguh-sungguh mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada perjanjian-Nya. Ingatlah, bahwa bangsa Israel pun pernah dibuang dari hadapan Tuhan karena ketidaktaatan mereka!

Itu sebabnya kita perlu juga bertanggung jawab atas anugerah yang besar ini. 

Rekan-rekan youth, Janji ini diberikan  kepada orang-orang yang hidup dalam kebenaran, yaitu mereka akan menjadi umat kesayangan Allah, Allah akan mengasihi dan juga menyayangi mereka.  akan tiba harinya, mereka akan melihat perbedaan antara yang melakukan dan hidup dalam kebenaran, yakni orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada Allah, yaitu orang fasik.  Allah akan membuktikan kebenaran itu sendiri, yaitu perbedaan antara orang yang berbuat kebenaran dan yang tidak.  Allah tahu apa saja yang dilakukan oleh setiap orang.

Perlu diingat bahwa orang yang melakukan kejahatan akan menerima konsekuensi perbuatan jahatnya, mereka tidak luput dari hukuman walaupun hukuman itu belum diberikan sekarang.

Di dalamya Perjanjian Baru (1Ptr. 2:9 dan Tit. 2:14), walaupun istilahnya tidak sama persis, namun pemahamannya senada dengan Keluaran 19 dan Maleakhi 3:17 di mana dipakai ungkapan: “Umat kepunyaan Allah sendiri” (1 Ptr. 2:9), “dan untuk menguduskan bagi diri-Nya, suatu umat kepunyan-Nya sendiri” (Tit. 2:14). Artinya, kedua ayat dalam PB ini menekankan status umat yang percaya kepada Allah dalam Yesus Kristus, sebagai umat yang dipilih dan dikhususkan untuk suatu tugas yang turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah bagi dunia.

Allah kita adalah Allah yang tidak pernah ingkar janji.

Kita, umat-Nya, yang sering kali ingkar. Mungkin tidak secara langsung kepada Tuhan tetapi kepada orang lain. Dalam kasus-kasus yang besar seperti melanggar kontrak atau melupakan perjanjian, motivasinya adalah keinginan jahat. Namun, yang sering terjadi adalah dalam kehidupan sehari-hari dan lebih berbahaya bagi relasi pribadi kita dengan orang lain adalah janji-janji yang kita anggap remeh-temeh. Pergi makan malam dengan istri atau suami, mengajak anak jalan-jalan, membantu rekan kerja, pelayanan di gereja, dan lain sebagainya. Yah, mungkin Anda merasa Anda jauh lebih penting daripada hal-hal remeh ini. Namun, marilah kita belajar dari Tuhan yang tak pernah ingkar janji. Kita manusia adalah debu.

Bagaimana jadinya kalau Tuhan mengingkari janji-Nya karena menganggap kita remeh?

Terlepas dari apapun yang kita rasakan dan pikirkan, bagi Tuhan, kita tetap adalah milik kesayangan-Nya, seperti seorang bapa yang menyayangi anaknya. Bahkan sebuah kitab akan ditulis khusus di hadapan-Nya untuk mengingat orang-orang yang menghormati dan menyembah-Nya di dalam  takut akan Dia.

Betapa luar biasanya perhatian Tuhan bagi anak-anak kesayangan-Nya.

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

RM – YDK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *