Renungan Harian Rabu, 22 November 2023
Bacaan: II Raja-raja 5:1-14
Istilah “Pemimpin yang melayani” pastilah tidak asing lagi di telinga kita semua. Tetapi istilah “Pelayan yang Memimpin” pastilah asing buat kita, Hal itulah yang terjadi dalam perikop kita hari ini ketika ada seorang hamba perempuan yang bekerja sebagai pelayan dan kemudian “memberikan pandangannya dan sarannya” dihadapan seorang Panglima kerajaan Aram: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu …” (ayat 3). Dan bukan hanya berhenti pada peristiwa itu saja, “Pelayan yang memimpin” terjadi lagi ketika para pegawai panglima Romawi itu berkata dalam ayat 13
II Raja-raja 5:13, “Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.”
Semuanya diucapkan oleh seseorang yang menurut ukuran dunia dipandang “lebih rendah” dibandingkan dengan orang yang mendengarkan ucapan itu, mereka hanya hamba dan pegawai yang mengucapkan perkataan itu, kemudian didengar oleh tuannya, atasannya, boss nya dan dilakukan
Hari ini kita ingin melihat hal-hal baik apa yang ada dalam diri tuan dan para pelayannya itu.
Pelayan Yang Memimpin
Apa yang baik dari sisi para pelayan Panglima Romawi ini? Berani berkata sesuatu karena mereka tahu bahwa apa yang mereka katakan adalah kebenaran. Bagi hamba perempuan yang merekomendasikan Naaman untuk bertemu dengan Elisa, penyakit Naaman bisa sembuh bila Naaman mau datang kepada sang nabi, itulah kebenarannya.
Bagi para pegawai Naaman, apa yang mereka ucapkan di ayat 13, itulah kebenarannya, “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.”
Padahal jika dipikir-pikir, resiko yang mereka tanggung ketika berucap itu cukup besar.
Iya kalau idenya itu diterima, kalau tidak? Ide diterima artinya bagus, ide tak diterima bisa menjadi celaka.
Dalam dunia kita sekarang ini, jika pimpinan berhasil karena ide pelayan atau bawahan, yang mendapat nama pasti pimpinan, bukan pelayan yang merekomendasikan ide itu pada pimpinannya. Sayangnya, dalam kehidupan kita sehari-hari kita bisa jadi menemukan dengan mudahnya mereka-mereka yang “berlagak pemimpin” yang tak mau mendengar orang lain yang dipandang “tak selevel” dengannya.
Mari kita menjadi pelayan-pelayan yang berpegang terhadap kebenaran, menyampaikan apa yang benar kepada pemimpin kita, mengingatkan pemimpin kita untuk tetap melakukan yang benar dan mulia. Sekalipun kita akan hadapi resiki demi resiko, namun jika itu kebenaran, jangan takut untuk menghadapinya.
Pemimpin yang Melayani
Ini yang terakhir, apa yang baik yang terlihat jelas dalam tokoh Naaman dalam perikop kita hari ini? Rendah hati dan mau mendengarkan. Bayangkan apabila kita semua memiliki kerendah-hatian yang dimiliki oleh seorang Naaman“mau mendengarkan dengan tidak memandang muka”. Tentu pemimpin yang seperti ini akan dihargai, dihormati oleh bawahan-bawahannya. Ada sesuatu yang bisa kita temukan ketika kita mau mendengarkan dengan tidak memandang muka. Bagi Naaman, sesuatu itu adalah kesembuhan. Bagi kita, tentunya banyak berkat-berkat yang akan kita nikmati jika kita mengikuti Firman Tuhan denan benar.
Tuhan Yesus Memberkati.
CM