Renungan Harian Youth, Senin 04 Maret 2024
Roma 12:1 “ Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati”
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sangat dekat dengan keberagaman dan toleransi sebagai seorang manusia; dan kalau kita perhatikan di lingkungan sekitar kita, Apa pun agama dan kepercayaannya, manusia biasanya memberikan persembahan kepada Pribadi yang disembahnya. Caranya bermacam-ragam sesuai dengan aturan dan ketentuan yang diterima dan disepakati bersama oleh kelompok kepercayaan masing-masing. Persembahan itu bisa berbentuk uang, harta benda, hasil bumi, termasuk di dalamnya waktu dan talenta. Semuanya itu baik kalau dilakukan secara sukarela dan tanpa paksaan. Tetapi, Paulus mengajak warga jemaat di Roma untuk mempersembahkan seluruh tubuh sebagai persembahan yang hidup.
Rekan-rekan youth, setidaknya ada 5 tema besar dalam surat ini, yaitu DOSA, KESELAMATAN, PERTUMBUHAN, KEDAULATAN TUHAN, dan PELAYANAN. Namun saat ini dengan ayat utama kita, kita akan lebih fokus pada 3 tema besar yang pertama yakni DOSA, KESELAMATAN, DAN PERTUMBUHAN. Pertumbuhan (dengan kuasa kasih keselamatan Tuhan, orang percaya disucikan dan dikuduskan dari dosa, DIMAMPUKAN untuk taat dan menjadi serupa dengan Kristus.
Roh Kudus membebaskan kita dari rasa takut akan penghukuman Tuhan sehingga hubungan kita bisa bertumbuh.
Dalam pasal 12 ini Paulus memberikan petunjuk praktis bagaimana kita hidup sebagai umat yang telah ditebus oleh Tuhan. Karena itu kalau kita melihat kembali pasal-pasal sebelumnya, kita akan melihat arah tulisannya lebih kepada menjelaskan posisi manusia yang sudah berdosa, dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri, lalu ada kasih karunia TUHAN bagi kita, yang memberikan pengampunan dan keselamatan bagi manusia yang tidak layak, ada juga bagian yang memberi “perbandingan” konsep keselamatan dalam perjanjian lama (dengan korban bakaran) dan konsep keselamatan dalam perjanjian baru (pembenaran karena iman kepada Yesus Kristus yang telah mati diatas kayu salib).
Karena itu, Surat ROMA ini menunjukkan bahwa Kekristenan bukan hanya sekedar sebuah agama yang menjadi sistem pemikiran, melainkan bertujuan untuk mengatur perilaku dan cara hidup yang benar. Kekristenan tidak dirancang untuk memberitahukan penghukuman kita, tetapi juga untuk memperbaiki hati dan pikiran kita. KEKRISTENAN menjadi seimbang karena tidak hanya menekankan pada kewajiban-kewajiban kita namun mengesampingkan hak istimewa orang percaya, atau lebih menekankan hak istimewa dan melupakan kewajiban sebagai orang percaya. Karena kewajiban-kewajiban kita sebagai orang percaya berasal dari hak istimewa itu sendiri. Dasar kita melakukan nasehat-nasehat praktis tentang Kekristenan, harus diletakkan diatas pengetahuan dan iman Kristen, pertama kita harus tahu bagaimana kita menerima Tuhan dalam hidup kita, dan mengetahui bagaimana kita bisa berjalan bersama Tuhan.
Apa yang dimaksud dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup?
Dalam hukum Taurat, persembahan disajikan dan diletakkan diatas Mezbah. Dalam konsep hukum Taurat, tubuh yang dipersembahkan adalah tubuh binatang-binatang, persembahan dilakukan oleh orang-orang khusus. Banyak aturan-aturan yang harus diikuti ketika dulu umat ingin memberikan persembahan kepada Tuhan. Tapi pada prakteknya, ternyata yang terjadi adalah kecenderungan untuk memberi persembahan ya sudah hanya sebatas itu saja, namun hidupnya tidak diiringi dengan ketaatan kepada Tuhan. Karena itu akhirnya ada pernyataan yang kalau mau diterjemahkan secara bebas, “untuk apa memberikan korban persembahan ini itu, untuk penebusan dosa dbsnya, tapi hatinya tidak melekat pada TUHAN?”
Tubuh ini bisa menjadi sesuatu yang membawa kita kepada dosa, menjadi alat kita juga untuk melakukan dosa. Makannya persembahkanlah tubuhmu kepada Tuhan karena kita sudah ditebus, dan jangan lagi mempersembahkan/memberikannya kepada dosa. I Korintus 6:12-20, berbicara tentang tubuh; Tubuh adalah untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh, artinya Tuhan telah menciptakan Tubuh kita, dan Tubuh ini milik Tuhan yang dipakai untuk kemuliaan Tuhan.
“yang kudus” ini berkaitan juga dengan kalimat sebelumnya. Karena kita mempersembahkan kepada Tuhan kita yang kudus, maka yang kita bawa ini juga harus kudus. Korban-korban yang dibawa kepada Tuhan adalah korban-korban yang kudus dan bisa juga diartikan sebagai korban-korban yang dikhususkan. Artinya kehidupan yang dipersembahkan adalah kehidupan yang kudus, yang dikhususkan untuk Tuhan, dikhususkan untuk melakukan kehendak Tuhan (Roma 6:12-13).
“yang berkenan” KBBI memberi arti “merasa senang, sudi” ; “dengan senang hati” . Artinya kita harus membuat hidup yang kita persembahkan kepada Tuhan ini sebagai sesuatu yang membuat Tuhan merasa senang, membuat Tuhan menerima dengan senang hati. Bagaimana kehidupan yang berkenan itu? Tentu hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kenapa kita merasa senang? Karena hal-hal terjadi/berjalan sesuai dengan harapan kita, nah kurang lebih sama. Bagaimana agar Tuhan merasa senang atas kehidupan kita? Dengan membuat hidup kita berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.
“Ibadah yang sejati” kata sejati memiliki arti murni, asli. Dalam kalimat ini, Rasul Paulus menjelaskan bahwa arti Ibadah itu tidaklah sempit. Ibadah bukan tentang pakaian terbaik yang kita pakai, style yang oke banget, bukan sebatas acara-acara yang heboh, lagu-lagu yang asik, atmosfer yang seru, bukan hanya sebatas datang ke gereja, bernyanyi, bertepuk tangan, memuji Tuhan, mendengar firman, dsbnya. tapi mencakup sikap hati dan sikap hidup kita yang diarahkan kepada Tuhan dan berkenan dihadapan Allah.
Lalu bagaimana kita bisa menjadi persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan? Jawabannya terdapat dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Artinya, untuk menjadi persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan, kita harus menjadi BERBEDA dari dunia ini. Ketika dunia menawarkan banyak kenikmatan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, kita harus berani untuk tidak mengikuti arus dunia ini. Kehidupan yang telah menerima kasih karunia Tuhan haruslah BERBEDA dari cara-cara DUNIA.
Efesus 2:1-2 “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. 2:2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.”
Pikiran dapat diperbarui sehingga pikiran kita harus berpindah dari dosa kepada kekudusan. Pikiran yang jahat dan gelap itu dapat diubah menjadi pikiran yang baik dan terang.
Setelah kita mengenal Dia, menerima kasih karuniaNya, Tuhan menghidupkan kita dan menjadikan kita manusia-manusia baru didalamNya. Manusia yang baru ini hidup bukan lagi untuk dunia ini, namun untuk melakukan panggilan Tuhan. Berubahlah oleh pembaharuan budi, Artinya ada perubahan pola pikir yang kemudian akan menciptakan perubahan cara hidup.
2 Korintus 3:18 kita diubah menjadi serupa dengan gambarNya.
Proses metamorphosis atau proses perubahan ini berjalan terus-menerus secara bertahap, tidak terjadi secara instan atau langsung. Karena itu kehidupan Kekristenan merupakan proses yang berjalan sepanjang hidup kita. Kita manusia tentu terbatas untuk bisa mengubah hidup kita sedemikian rupa, sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, karena itu Tuhan akan terus memproses dan memperbaharui kehidupan kita untuk semakin sesuai dengan kehendakNya, asalkan kita mau membuka hati dan hidup kita untuk kedaulatan Tuhan.
Perubahan/pembaharuan budi akan mengantar kita untuk bisa membedakan kehendak Allah, tetapi bukan hanya sebatas membedakan, melainkan juga memahami dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, apa yang Tuhan minta dan ingin untuk kita lakukan. Dengan kita mampu membedakan, memahami, dan melakukan apa yang Tuhan inginkan, tentu hal ini akan jadi rem yang menahan dan melindungi kita supaya tidak bablas mengikuti apa yang dunia/hawa nafsu kita inginkan.
Ketika kita menundukkan kehendak dibawah otoritas Tuhan, disitulah terjadi proses MEMPERSEMBAHKAN HIDUP KEPADA TUHAN.
DANIEL adalah Salah satu tokoh Alkitab yang dikenal karena sangat konsisten dalam ketaatannya kepada perintah Tuhan. Ketaatan Daniel terlihat dalam tindakan dan keputusannya yang sama sekali tidak berubah walaupun ia menghadapi berbagai macam situasi. Mulai dari menghadapi perapian yang menyala, hingga di gua singa, ketaatan, kepercayaannya kepada Tuhan sama sekali tidak berubah. Ketaatan Daniel ini muncul karena pengenalan akan Allahnya yang besar, yang berkuasa, dan yang mengasihi Dia. Pengenalan yang tepat tentang pribadi Allah membawa Daniel tunduk kepada setiap perintah dan perkataan Tuhan.
Rekan-rekan youth, mari kita mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup. Berarti, kita mengabdikan diri seutuhnya-waktu, tenaga, pikiran, juga harta-kepada Tuhan saja. Dan itu hanya mungkin jika kita mau berubah, yaitu perubahan berdasarkan pembaruan budi. Artinya, setiap saat kita mau berintrospeksi. Berintrospeksi berarti kita mengambil waktu untuk mengevaluasi diri.
Evaluasi diri yang baik akan memampukan kita mengambil langkah selanjutnya. Dengan demikian, kita dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Itulah ibadah yang sejati-yang sungguh diperkenan Allah.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
EYC 020324-YDK