Renungan Harian Selasa, 12 Maret 2024
Bacaan : Yeremia 32:1-30
Nats : Yeremia 32:18-19, Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu- ribu orang … besar dalam rancangan-Mu dan agung dalam perbuatan-Mu
Syalom bapak ibu saudara yang terkasih….
Dalam banyak buku dan khotbah, orang-orang kristiani sering kali ditanya apakah iman mereka cukup kuat untuk bertahan di saat-saat yang buruk. Namun, saya mengajukan pertanyaan yang lebih baik pada diri saya sendiri: “Apakah iman saya cukup kuat untuk bertahan di saat-saat menyenangkan?”
Yeremia dipenjarakan atas tuduhan ia tidak berpihak kepada raja (2-5). Ia menubuatkan Raja Zedekia akan jatuh ke tangan musuh. Musuh Israel sebetulnya sudah mendekat dan akan menyerang Israel. Ini sesuai dengan firman Tuhan kepada Yeremia. Tetapi, Raja Zedekia tidak percaya dan menuduh Yeremialah yang sedang bernubuat palsu.
Ketika tidak ada yang percaya, Yeremia justru harus menunjukkan sikap yang sesuai dengan nubuat yang disampaikannya. Yeremia harus membeli tanah Hanameel (6-15). Ia menunjukkan bahwa ketetapan Tuhan pasti akan terjadi dan bangsa Israel akan dihukum Allah. Tetapi, akan datang waktunya, Allah akan memulihkan kembali bangsa itu. Jadi, Yeremia menunjukkan bagaimana seharusnya orang Israel merespons nubuat Tuhan.
Yeremia lantas berdoa kepada Tuhan dan mengingat segala perbuatan-Nya yang menyelamatkan bangsa Israel dari tanah Mesir (16-25). Yeremia ditolak bangsanya sendiri. Ia harus hidup mengikut Tuhan seorang diri. Karena itu, mengingat perbuatan dan janji setia-Nya senantiasa menguatkan dia untuk bertahan.
Pernahkah kita ada dalam posisi seperti Yeremia? Kita seorang diri mempertahankan kebenaran, sementara semua orang mulai berkompromi dan bahkan meninggalkan kita. Apa yang membuat kita bertahan?
Kita terlalu sering menafsirkan berkat-Nya sebagai tanda atas kebaikan kita, bukan kebaikan-Nya. Kita menganggap diri layak mengalami semua kejadian yang menyenangkan. Namun, kita tidak dapat memahami bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui hal-hal baik yang telah diberikan-Nya untuk kita.
Dalam bukunya The Problem of Pain (Hal Penderitaan), C.S. Lewis menulis, “Allah berbisik kepada kita melalui kesenangan-kesenangan kita … tetapi Dia berteriak melalui penderitaan kita.” Jika kita menolak mendengar bisikan-Nya, Dia mungkin akan berteriak untuk mendapatkan perhatian kita. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Meskipun Allah telah memberi mereka “suatu negeri yang berlimpah- limpah susu dan madunya,” tetapi mereka berpaling dari-Nya, sehingga Dia “melimpahkan kepada mereka segala malapetaka ini” (Yeremia 32:22,23).
Di tengah situasi ini kita belajar dari Yeremia. Meski tidak ada yang percaya kepadanya, Yeremia tetap taat kepada Tuhan dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan kebenaran yang diyakininya. Kita harus tetap bertahan dan ditopang oleh doa dengan mengingat perbuatan-perbuatan Allah di masa lalu.
Bertahanlah dalam mengikut Tuhan untuk menyatakan kebenaran, bukan hanya dalam keadaan baik-baik saja, tetapi juga dalam penderitaan.
Di sana Tuhan sendirilah yang sedang bersama dengan kita. Kebaikan Allah menjadi alasan untuk menaati-Nya, dan bukan kesempatan untuk tidak mematuhi-Nya.
Ketika kita sadar akan hal itu, maka hubungan kita dengan Tuhan tidak melemah, bahkan akan semakin dikuatkan, oleh anugerah dan berkat-Nya –Julie Ackerman Link
Tuhan Memberkati
TC
Bacaan Alkitab hari ini : Keluaran pasal 7 dan 8