Elohim Ministry youth MAKNA KEBAHAGIAAN

MAKNA KEBAHAGIAAN



Renungan Harian Youth, Rabu 29 Januari 2025

Shalom, rekan-rekan youth yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Hari ini, saat dunia merayakan Tahun Baru Imlek, selamat merayakan bagi rekan-rekan yang merayakannya.

Rekan-rekan kita sering mendengar ucapan “Gong Xi Fa Cai”, yang dalam bahasa Mandarin berarti ucapan selamat dan harapan untuk kemakmuran serta kebahagiaan. Dalam budaya Tionghoa, kebahagiaan tidak hanya diukur dari kekayaan materi, tetapi juga dari keharmonisan, kesejahteraan, dan keberuntungan dalam kehidupan.

Namun, sebagai anak-anak Tuhan, kebahagiaan sejati memiliki arti yang lebih dalam. Kebahagiaan sejati bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita memberi. Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 20:35 berkata, “Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Dari sini kita belajar bahwa kebahagiaan yang sejati bukan datang dari apa yang kita terima, melainkan dari hati yang tulus dalam berbagi dan memberi.

Pernahkah kalian merasa bahagia ketika memberi sesuatu kepada orang lain? Baik itu berupa waktu, perhatian, kasih, atau bantuan? Ketika kita memberi dengan tulus, kita sedang berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Ketika kita memberi dengan hati yang rela, kita mencerminkan kasih Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7). Sukacita yang timbul dari memberi adalah kebahagiaan yang mendalam, yang tidak tergantikan oleh hal-hal duniawi.

Femi Otedola (miliarder dari Nigeria) dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, “Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?”

Femi berkata: “Saya telah melalui empat tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati”.

  • Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana. Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.
  • Tahap kedua, saya mengumpulkan barang-barang berharga. Saya menyadari bahwa hal ini bersifat sementara dan kilau barang berharga tidak bertahan lama.
  • Tahap ketiga, tatkala mendapatkan proyek besar. Saat itu saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Sampai di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.
  • Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak. Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda. Teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak.

Saya bersiap dan pergi bersamanya. Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang. “Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot”, ujarnya. “Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya. Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut, tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat. Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: “Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain?” Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia, tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya. Anak ini berkata: “Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’”

Kemurahan hati adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta

2 Korintus 9:7, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Memberi tidak selalu harus berupa uang atau barang. Tindakan sederhana seperti memberikan senyuman, kata-kata semangat, atau waktu untuk mendengarkan orang lain juga adalah bentuk memberi yang sangat berarti.

Sukacita dalam memberi berbeda dengan sukacita karena menerima. Sukacita memberi adalah kebahagiaan yang datang ketika kita melihat orang lain berbahagia karena pemberian kita. Ini adalah kebahagiaan yang bersumber dari kasih Allah di dalam hati kita.
Hari kita diingatkan untuk hidup dengan penuh kasih dan kebahagiaan dalam memberi. Ketika kita melihat kesempatan untuk membantu dan berbagi, lakukanlah dengan sukacita dan penuh kasih. Mungkin bukan nilai yang besar, namun mulailah dari apa yang kita miliki dan bisa kita bagi kepada orang lain.

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menjadi peka dan bisa melihat kebutuhan orang-orang disekitar kita yang kita bisa hadir untuk berbagi. Orang yang diberkati adalah mereka yang bisa menjadi berkat bagi sesamanya

Kebahagiaan sejati bukan hanya tentang menerima, tetapi tentang memberi. Ketika kita memberi dengan hati yang tulus, kita mencerminkan kasih Allah kepada sesama dan mengalami sukacita yang mendalam. Di momen perayaan Imlek ini, mari kita menghidupi kebahagiaan sejati dengan berbagi kasih dan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita.

Tuhan Yesus memberkati! Gong Xi Fa Cai

YNP-IT

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *