Renungan Harian Senin, 14 Juli 2025
Ayat Pokok: Yohanes 13:34-35, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Syalom Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Di akhir hidup-Nya di dunia, Yesus menyampaikan sebuah pesan penting kepada para murid-Nya—pesan yang oleh banyak Alkitab, termasuk LAI (Lembaga Alkitab Indonesia), diberi judul “Perintah Baru.” Ketika para murid-Nya menanyakan tanda kedatangan-Nya dan akhir zaman, Yesus menubuatkan bahwa kasih banyak orang akan menjadi dingin. Dan di tengah masa penuh kegelapan dan pengkhianatan itu, Ia mengucapkan kalimat yang sederhana, tetapi revolusioner: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu: supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”
Namun, apakah perintah ini benar-benar baru? Bukankah Musa juga telah menyampaikan hal serupa dalam Shema Israel (Ulangan 6:4-5), yaitu perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan? Benar, namun Yesus tidak sedang mengulang atau menggandakan hukum lama. Ia juga bukan sedang membuat ajaran baru terpisah dari hukum Taurat. Sebaliknya, Yesus datang untuk menggenapi hukum itu dalam wujud yang paling murni dan sempurna, sebagaimana tertulis dalam Matius 5:17–19. Dalam Kristus, perintah lama diperbarui bukan secara isi, tetapi secara esensi, kekuatan, dan teladan nyata—mengasihi seperti Dia mengasihi.
APA YANG MEMBUAT PERINTAH INI “BARU”?
Yesus menggunakan istilah “baru” bukan karena isi perintahnya belum pernah ada, melainkan karena pengalaman dan standar kasih itu kini mengalami pembaruan yang radikal. Seperti melihat matahari terbit setiap hari—meski bentuk dan cahayanya sama, keindahannya tetap baru setiap kali kita menikmatinya. Demikian pula kasih Kristus, selalu segar, hidup, dan penuh kuasa. Dia tidak sekadar memerintahkan, tetapi menjadi contoh yang hidup tentang kasih yang aktif, konsisten, dan rela berkorban.
MENGASIHI: SEBUAH PERINTAH, BUKAN PILIHAN
Perintah untuk saling mengasihi bukanlah himbauan atau saran, tetapi kewajiban rohani. Kasih bukanlah perasaan sesaat, melainkan keputusan untuk bertindak. Dalam 1 Korintus 13:4–7, kasih dijabarkan dalam bentuk kata kerja aktif: sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, dan seterusnya. Artinya, mengasihi itu harus diupayakan. Ia bukan reaksi spontan terhadap kondisi ideal, melainkan pilihan yang tetap bahkan saat situasi tidak menyenangkan.
Sebagaimana orang tua merawat anak-anak mereka karena kasih, bukan karena terpaksa, demikian juga kita mengasihi karena telah menerima kasih Kristus lebih dulu. Kasih sejati bersumber dari hati yang terlebih dahulu disentuh oleh salib.
MENGASIHI DENGAN STANDAR KRISTUS
Yesus tidak hanya memerintahkan untuk saling mengasihi, tetapi juga menetapkan standar baru: “seperti Aku telah mengasihi kamu.” Ini bukan kasih yang abstrak, tapi kasih yang telah ditunjukkan Yesus secara konkret. Dalam Yohanes 13, kasih-Nya tampak jelas ketika Ia mencuci kaki murid-murid-Nya—termasuk kaki Yudas yang akan mengkhianati-Nya dan Petrus yang akan menyangkal-Nya. Yesus mengasihi sampai akhir, tidak tergoyahkan oleh pengkhianatan maupun kegagalan mereka.
Inilah tantangan terbesar: mengasihi orang-orang yang kita tahu suatu saat akan mengecewakan kita. Mengasihi bukan karena layak dikasihi, tapi karena kita memutuskan untuk mencintai seperti Kristus telah terlebih dahulu mengasihi kita. Bahkan, dalam Yohanes 15:13, Yesus menyatakan kasih terbesar itu adalah ketika seseorang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.
TUJUAN DARI PERINTAH INI: TANDA IDENTITAS MURID
Mengapa kasih begitu penting? Karena kasih adalah tanda pengenal utama murid-murid Kristus. Yesus tahu bahwa tubuh-Nya secara fisik akan terangkat dan tidak lagi berjalan bersama para murid. Maka Ia menetapkan kasih sebagai ciri yang membedakan mereka dari dunia. “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku.”
Bapa Gereja Tertulianus mencatat bagaimana kasih menjadi kekuatan yang membuat orang-orang di luar kekristenan takjub. Ia berkata, “Lihat, betapa mereka saling mengasihi dan bahkan rela mati bagi satu sama lain!” Kasih seperti ini hanya mungkin terjadi jika Kristus adalah sumbernya. Dunia mengenali kita bukan dari salib yang kita pakai, bukan dari pelayanan yang kita pimpin, tetapi dari cara kita saling mengasihi.
Refleksi Diri
- Sudahkah kasih Kristus mengalir dalam hidup saya, tidak hanya kepada yang menyenangkan, tetapi juga kepada yang menyakitkan?
- Apakah saya sudah menunjukkan kasih sebagai bukti nyata bahwa saya adalah murid Kristus?
- Apakah saya melihat kasih sebagai kewajiban penuh sukacita, bukan sekadar pilihan saat nyaman?
🙏 Pokok Doa
Tuhan Yesus, ajari aku untuk mengasihi seperti Engkau mengasihi. Bukan hanya dalam kata, tapi juga dalam perbuatan. Tolong aku untuk mengampuni, melayani, dan merangkul, bahkan mereka yang mengecewakanku. Biarlah hidupku menjadi kesaksian nyata bahwa Engkau hidup di dalamku. Dalam nama Yesus aku berdoa, Amin.
Hikmat Hari Ini
Kasih bukan pilihan, tapi perintah. Dan kasih Kristus menjadi standar dan kekuatan untuk kita mengasihi orang lain, bahkan ketika itu menyakitkan.
Mari hidup sebagai murid Kristus yang dikenali bukan hanya dari kata-kata, tapi dari kasih yang nyata. 💖✝️
Rangkuman Khotbah
Budi Wahono
Link Khotbah
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan