Elohim Ministry umum Batu Sandungan

Batu Sandungan



Renungan Harian Rabu, 19 November 2025

Ayat Pokok : Matius 17:27 (TB)  “Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.”

Syalom… Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Tuhan menciptakan manusia dengan natur sebagai mahluk sosial, maksudnya adalah bahwa manusia membutuhkan orang lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri, dia membutuhkan orang lain. Sehingga dengan demikian maka dibutuhkan kata “saling” dalam membangun hidup di tengah “sosial” kita.

Ada sebuah statement yang mengatakan demikian; “Hidup harus jadi berkat, jika masih belom bisa menjadi berkat minimal hidup jangan jadi batu sandungan bagi orang lain.” Tidak menjadi batu sandungan menjadi bagian yang terkaut dengan prinsip saling dalam hidup bersosial. Terkadang beberapa diantara kita merasa terbatasi dengan prinsip saling karena kita merasa apa yang buat kita bukanlah masalah tetapi buat orang lain hal tersebut adalah masalah.

Sekali peristiwa ketika Tuhan Yesus bersama dengan murid-murid-NYA tiba di Kapernaum, seorang pemungut bea Bait Allah datang kepada Petrus dan berkata; “apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu??” Kemudian Petrus menjawab ; “Memang membayar.” Jawaban Petrus ini sebenarnya telah menjawab apa yang diharapakan oleh pemungut bea Bait Allah tersebut, namun Tuhan Yesus kemudian mengatakan kepada Petrus ; “… supaya  jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.”

Apakah yang dimaksud dengan “jangan menjadi Batu Sandungan” bagi orang lain??? “Jangan jadi batu sandungan” berarti jangan sampai perbuatan, perkataan, atau gaya hidup kita membuat orang lain tersandung secara rohani, jatuh ke dalam dosa, atau kehilangan iman. Dan hal tersebut berkaitan dengan nasihat untuk tidak menggunakan kebebasan pribadi demi kepentingan diri sendiri yang bisa merugikan orang lain, terutama yang imannya lemah. Sebaliknya, kita harus mengutamakan membangun dan menolong sesama agar iman mereka bertumbuh.

Hal ini juga menjadi pesan yang Paulus sampaikan kepada jemaat yang ada di Korintus. Dalam suratnya yang pertama Paulus menasehati demikian ; “Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.” [1 Korintus 8:9] Ketika jemaat yang telah memiliki pengetahuan merasa memiliki kebebasan dalam hal makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, Paulus memberikan nasehat supaya dalam kebebasan mereka sekalipun, mereka harus “Menjaga” agar kebebasan mereka tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Kehidupan Kristen yang dewasa kadang mempunyai kebebasan yang seolah-olah berseberangan dengan iman yang taat dan disiplin. Dalam konteks masa kini, tidak menjadi batu sandungan bisa dihubungkan dengan banyak hal. Beberapa contoh perilaku yang bisa menjadi batu sandungan, diantaranya; memposting kegiatan di media sosial yang bisa dianggap tidak mendatangkan kemuliaan Tuhan. Tidak menghargai perbedaan pandangan atau prinsip orang lain dan melakukan sesuatu yang melanggar prinsip atau hati nurani orang lain.

Kebebasan pribadi kita harus didasari oleh kasih sehingga apa yang kita kerjakan adalah sesuatu yang membangun dan bukan merusak. Kita memerlukan hikmat dan tuntunan Roh Kudus sehingga kita dengan bijak dapat menentukan tindakan yang tepat dan benar yang menghargai dan membangun orang lain sehingga nama Tuhan dimuliakan.

Hari ini kita belajar Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan hanya untuk hidup benar, tetapi juga untuk hidup bijak dan penuh kasih terhadap sesama. Jangan biarkan perkataan atau tindakan kita menjadi batu sandungan yang membuat orang lain menjauh dari Kristus.
Sebaliknya, marilah kita menggunakan kebebasan kita untuk membangun, menguatkan, dan membawa orang lebih dekat kepada Tuhan.

Yesus mengajarkan bahwa kasih jauh lebih penting daripada hak pribadi. Ketika kita rela mengalah demi kebaikan orang lain, kita sedang meneladani hati Kristus yang penuh kasih dan kerendahan hati. Maka, biarlah setiap aspek hidup kita — baik perkataan, sikap, maupun perbuatan — menjadi kesaksian yang memuliakan nama Tuhan.

Kembali kepada Tujuan besar Tuhan atas hidup kita, yaitu hidup yang memuliakan Tuhan. Amin.

Hikmat Hari Ini

“Kebebasan sejati bukan melakukan apa yang kita mau, tetapi melakukan apa yang membangun dan memuliakan Tuhan.”

Tuhan Yesus memberkati.

DS

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedala Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800

Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *