Elohim Ministry youth Dipanggil untuk Mengasihi: Merdeka dari Ego, Bersatu dalam Kasih

Dipanggil untuk Mengasihi: Merdeka dari Ego, Bersatu dalam Kasih



Renungan harian Youth, Selasa 18 Agustus 2026

Ayat Pokok: Yohanes 13:34, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Apa kabarnya, rekan-rekan youth? Semoga kita semua tetap sehat dan berada dalam lindungan Tuhan.

Mungkin secara negara kita hidup dalam kemerdekaan. Tetapi bagaimana dengan hati kita? Apakah kita sudah merdeka dari ego, gengsi, amarah, iri hati, kebencian, dan keinginan untuk selalu menang sendiri? Anak muda saat ini hidup di tengah dunia yang penuh perbedaan. Kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki karakter, cara berpikir, latar belakang, dan pendapat yang berbeda. Media sosial pun membuat perbedaan itu semakin terlihat. Satu unggahan bisa memunculkan banyak komentar. Ketidaksetujuan dapat berubah menjadi perdebatan, lalu berakhir dengan saling menyerang.

Namun, di tengah dunia yang mudah terpecah, Yesus memberikan perintah yang sangat jelas: “Supaya kamu saling mengasihi.” Kasih yang Yesus ajarkan bukan sekadar perasaan kepada orang-orang yang kita sukai. Kasih adalah pilihan untuk tetap memperlakukan orang lain dengan benar, bahkan ketika ego kita ingin membalas. Melalui kemerdekaan yang kita terima di dalam Kristus, kita dipanggil bukan untuk hidup semaunya sendiri, melainkan untuk belajar merdeka dari ego dan bersatu dalam kasih.

1. Kasih Tidak Menunggu Kita Sepakat

Salah satu tantangan terbesar dalam mengasihi adalah menerima kenyataan bahwa kita tidak selalu setuju dengan orang lain. Di sekolah, kampus, tempat kerja, gereja, bahkan dalam circle pertemanan, perbedaan pendapat pasti ada. Mudah untuk mengasihi orang yang selalu mendukung kita. Mudah untuk dekat dengan orang yang memiliki pemikiran yang sama. Namun, bagaimana ketika kita bertemu seseorang yang membuat kita kesal? Bagaimana jika ada teman yang pernah mengecewakan kita? Bagaimana jika seseorang memiliki pandangan yang sangat berbeda dari kita?

Sering kali, kita berpikir bahwa perbedaan adalah alasan untuk menjauh atau bermusuhan. Padahal Yesus tidak berkata, “Kasihilah orang yang selalu setuju denganmu.” Yesus berkata bahwa kita harus saling mengasihi seperti Dia telah mengasihi kita.  Mengasihi bukan berarti kita harus menyetujui semua hal. Kita tetap boleh memiliki prinsip dan menyatakan bahwa sesuatu itu tidak benar. Namun, kasih menentukan bagaimana kita menyampaikan kebenaran dan bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda dengan kita.

Kita dapat berkata, “Aku tidak setuju,” tanpa menghina. Kita dapat mempertahankan prinsip tanpa merendahkan. Kita dapat berdiskusi tanpa harus menyerang. Kebenaran tanpa kasih dapat melukai, tetapi kasih yang sejati juga tidak harus kehilangan kebenaran. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk belajar memegang keduanya.

2. Kemerdekaan Sejati Berarti Merdeka dari Ego

Banyak orang mengartikan kebebasan sebagai kesempatan untuk melakukan apa pun yang diinginkan. “Ini hidupku, jadi terserah aku.” Namun, kemerdekaan yang kita terima di dalam Kristus memiliki makna yang jauh lebih dalam. Kita bisa saja bebas secara lahiriah, tetapi sebenarnya masih diperbudak oleh ego. Kita merasa harus selalu menang dalam setiap perdebatan. Kita sulit meminta maaf karena gengsi. Kita menyimpan sakit hati karena tidak ingin dianggap kalah. Kita membalas perkataan yang menyakiti karena merasa harga diri kita harus dipertahankan.

Di situlah kita perlu bertanya: Siapa sebenarnya yang sedang menguasai hati kita? Kristus atau ego kita? Kemerdekaan sejati bukan berarti kita bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan sejati berarti kita tidak lagi harus mengikuti setiap dorongan ego dan keinginan yang salah. Di dalam Kristus, kita dimampukan untuk memilih respons yang benar.

Dunia mungkin berkata, “Kalau disakiti, balas.” Namun, Yesus mengajar kita untuk mengampuni. Dunia berkata, “Kalau tidak setuju, serang.” Namun, Yesus berkata, “Kasihilah.” Dunia berkata, “Utamakan dirimu.” Namun, Yesus mengajar kita untuk melayani. Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya: ketika ego tidak lagi menjadi tuan atas hidup kita dan Kristus menjadi pusat dari cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak.

3. Kita Dimerdekakan untuk Menjadi Pembawa Kasih dan Persatuan

Kristus tidak memerdekakan kita supaya kita hanya menikmati kebebasan untuk diri sendiri. Kita dipanggil untuk menjadi saluran kasih-Nya bagi orang-orang di sekitar kita. Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya pintar, kreatif, dan memiliki banyak kemampuan, tetapi juga memiliki karakter yang mencerminkan Kristus. Dunia sudah cukup penuh dengan perpecahan, kebencian, komentar yang menyakitkan, dan orang-orang yang ingin saling menjatuhkan.

Kasih tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kita dapat memulainya dari rumah, melalui cara kita berbicara kepada orang tua dan saudara. Kita dapat memulainya di sekolah atau kampus, melalui cara kita memperlakukan teman. Kita dapat memulainya di tempat kerja dengan menjaga perkataan dan integritas. Kita juga dapat memulainya di media sosial, melalui keputusan untuk tidak ikut menyebarkan kebencian, gosip, atau komentar yang merendahkan orang lain.

Kadang-kadang kita ingin menjadi terang bagi dunia, tetapi lupa bahwa terang itu harus terlebih dahulu terlihat dalam cara kita memperlakukan orang-orang terdekat.

Mari menjadi generasi yang bisa berbeda tanpa membenci, bisa tidak setuju tanpa merendahkan, berani meminta maaf, mau mengampuni, dan memilih kasih daripada ego. Karena Kristus telah lebih dahulu mengasihi dan memerdekakan kita, maka mari gunakan kemerdekaan itu untuk tujuan yang benar: bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk mengasihi.

Refleksi Renungan

Mari kita memeriksa hati kita. Apakah selama ini ada orang yang sulit kita kasihi karena perbedaan pendapat, kekecewaan, atau luka yang pernah terjadi? Mungkin kita masih menyimpan ego, gengsi, sakit hati, atau keinginan untuk selalu menang. Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang yang telah dikasihi dan dimerdekakan oleh Kristus, kita tidak perlu terus hidup di bawah kendali ego dan kebencian.

Hikmat Hari Ini

“Kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan untuk tidak lagi diperbudak oleh ego dan memilih mengasihi seperti Kristus telah mengasihi kita.”

Doa Meresponi Firman Tuhan Hari Ini

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah terlebih dahulu mengasihi dan menerima kami. Ampunilah kami apabila hati kami masih sering dikuasai oleh ego, gengsi, amarah, sakit hati, dan keinginan untuk selalu merasa benar. Ajarlah kami menggunakan kemerdekaan yang kami terima di dalam Kristus bukan untuk hidup bagi diri sendiri, melainkan untuk mengasihi dan melayani sesama. Jadikanlah kami generasi yang membawa persatuan, pengharapan, dan kasih Kristus bagi keluarga, pertemanan, gereja, masyarakat, dan bangsa Indonesia. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

RM – DOT

OIN GRUP RENUNGAN HARIAN

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan
atau Klik tombol dibawah ini :

Anda juga bisa mengikuti saluran Renungan Harian Kristen Elohim.id di WhatsApp dengan klik tautan berikut:
https://whatsapp.com/channel/0029Vb7dcZJL7UVRcABBMw1f

Atau klik tombol dibawah ini >>>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *