Renungan Harian Youth, 29 Mei 2023
Bacaan: 1 Korintus 8:1-13
Sejak Allah menciptakan manusia pertama, Adam dan Hawa, Ia memberi kebebasan pada mereka untuk makan buah apa saja, kecuali buah pengetahuan baik dan jahat. Sangat disayangkan, kebebasan yang Ia beri telah disalahgunakan ke dua sejoli ini. Mereka makan buah yang dilarang Tuhan, padahal selain buah itu, masih banyak buah lainnya yang sebenarnya bisa mereka makan dengan leluasa. Itulah manusia, nggak bertanggung jawab dengan kebebasan yang diberikan.
Dengan adanya kebebasan, kita pun dapat bereskpresi.
Ironisnya nih, banyak kawula muda yang salah menggunakan kebebasan, baik kebebasan yang dari Allah maupun orang tua. Oleh karena itu, Paulus menyimpulkan pengajarannya, “Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.”
Rekan-rekan youth, maksud dari kata “yang kuat” adalah mereka yang memiliki banyak “pengetahuan” tentang iman Kristen. Sebaliknya, mereka “yang lemah” adalah para petobat baru. Mereka “yang lemah” menghadapi pergumulan yang hebat ketika melihat “yang kuat” melakukan hal ini, sehingga iman mereka bukannya dibangun oleh iman “yang kuat” (8:1), malahan didorong untuk kembali pada keberadaan mereka yang lama. Inilah alasan mengapa Paulus berkata bahwa dengan melakukan hal itu, “yang kuat” menyebabkan “yang lemah” berdosa.
Memang makanan itu pada dasarnya tidak mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, namun jikalau makanan itu memberi dampak negatif pada mereka “yang lemah,” maka lebih baik kita tidak makan makanan tersebut.
Ada Tiga Pertimbangan Prinsip dalam mempergunakan kebebasan kita:
- Pertimbangan Motivasi: Kasih sebagai prinsip tertinggi (8:1-3)
Meskipun mereka mengaku telah memiliki “pengetahuan” tetapi tanpa kasih itu tidak cukup. Karena Pengetahuan tanpa kasih akan membuat kita menjadi Sombong. Jika mereka mengaku telah memiliki “pengetahuan,” maka lebih dari itu seharusnya mereka memiliki kasih.
Hanya dengan kesadaran bahwa mereka telah dikasihi Allah dan harus mengasihi saudara mereka yang lain, barulah mereka bisa ingat akan keberadaan saudara “yang lemah.”
- Pertimbangan Alkitabiah: Hanya ada satu Allah (8:4-6)
Paulus membahas pengertian Alkitabiah tentang Allah dan berhala-berhala.
Paulus membuat pernyataan langsung tentang karya penyelamatan Kristus, yaitu bahwa Allah yang mereka sembah di dalam Kristus adalah Allah yang benar, sumber dari segala sesuatu. Allah yang demikianlah yang telah menciptakan mereka, oleh karena itu hidup mereka bergantung penuh pada-Nya. Ia lebih berkuasa daripada allah-allah dan tuhan-tuhan yang lain yang tidak dapat memberikan kehidupan kepada mereka.
Sebenarnya jika persembahan itu dimakan pun, mereka tidak akan dapat dipengaruhi oleh berhala-berhala tersebut karena Allah lebih berkuasa.
- Pertimbangan Praktis: Janganlah kita menyebabkan orang lain tersandung (8:7-13)
Paulus lebih menegaskan hal ini. Dengan menggunakan bentuk imperatif secara tegas Paulus menasihatkan, “Berhati-hatilah!” Mereka “yang kuat” tidak boleh menjadi batu sandungan bagi orang yang baru percaya. Teladan mereka penting bagi yang lemah.
Menurut H. Ridderbos, pemikiran Paulus tentang “hati nurani” umumnya menunjuk pada “pengenalan akan diri orang itu sendiri.” Artinya, hati nurani adalah kesadaran dalam diri m
anusia yang memimpin aktivitas moralnya. Dengan hati nurani ia menimbang tindak-tanduknya menurut ukuran penilaian ilahi. Dari definisi tersebut kita dapat memahami bahwa hati nurani memerlukan suatu proses pertumbuhan. Seseorang yang baru percaya memerlukan waktu untuk dapat memiliki hati nurani yang mampu menilai apakah suatu tindakan adalah sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu para petobat baru tersebut belum dapat melakukan penilaian sebagaimana mereka “yang kuat.”
“Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi yang lemah” (1 Kor. 8:9)
Rekan-rekan youth, Kristus telah memberikan kemerdekaan/kebebasan rohani yang penuh bagi orang percaya. Kita tidak lagi terikat dengan hukum dosa, hukum taurat serta aturan agamawi lainnya (Lihat. Roma 7:1-6, Roma 8:2). Namun di sisi yang lain, Tuhan juga menghendaki agar kita menjadi garam dan terang dunia ini (Mat. 5:13-14). Artinya, kemerdekaan yang kita miliki, harus diimbangi dengan kesaksian hidup kita.
Kita memang memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu, namun kita juga harus ingat bahwa hidup kita juga harus menjadi kesaksian yang baik dan positif.
Amin. Tuhan Yesus Memberkati
EYC 27052023-YDK