Elohim Ministry umum GOD WILLING – Jika Tuhan Menghendaki

GOD WILLING – Jika Tuhan Menghendaki



Renungan Harian Jumat, 13 Februari 2026

Memasuki tahun-tahun ke depan, dunia tidak sedang baik-baik saja. Laporan Global Risks Report 2026 menunjukkan berbagai ancaman global: ketidakpastian ekonomi, konflik antarnegara, dan tekanan geoekonomi yang membuat masa depan terasa makin sulit diprediksi. Dunia berbicara tentang krisis, resesi, perang, dan ketidakstabilan.

Sebagai umat Tuhan, kita juga menghadapi ketidakpastian pribadi: studi, karier, relasi, pelayanan, bahkan masa depan keluarga. Banyak rencana kita terlihat jelas di kepala, tetapi realitanya belum tentu berjalan sesuai harapan. Kita harus tetap melangkah. Namun pertanyaannya: melangkah dengan mengandalkan siapa? Di tengah ketidakpastian, Alkitab mengajarkan satu prinsip sederhana namun dalam: “Jika Tuhan menghendaki.”God Willing.

HARUS MELANGKAH, TETAPI BERSAMA TUHAN

Dalam Keluaran 33:15, Musa berkata: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”

Bangsa Israel sedang berada di padang gurun—tempat yang keras, panas, penuh bahaya, dan tidak pasti. Musa sadar, tanpa penyertaan Tuhan, perjalanan menuju Tanah Perjanjian akan berakhir dalam kehancuran.

Ada dua sikap penting dari Musa:

  1. Ia menyadari pentingnya penyertaan Tuhan.
    Kekuatan Israel bukan pada jumlah tentaranya, tetapi pada hadirat Tuhan.
  2. Ia menolak melangkah tanpa Tuhan.
    Lebih baik diam bersama Tuhan daripada maju tanpa penyertaan-Nya.

Seringkali kita tergoda untuk bergerak cepat: ambil keputusan sendiri, ikut tren, mengejar ambisi. Namun Musa mengajarkan satu prinsip iman:
Jangan melangkah jika Tuhan tidak menyertai.

“JIKA TUHAN MENGHENDAKI” – SIKAP SEORANG HAMBA

Yakobus 4:15 berkata: “Sebenarnya kamu harus berkata: Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

Dalam berbagai bahasa, ungkapan ini dikenal sebagai:

  • Im Yirtzeh Hashem (Ibrani)
  • Insya Allah (Arab)
  • God Willing (Inggris)

Maknanya bukan sekadar ucapan rohani. Itu adalah sikap hati. Orang yang berkata “Jika Tuhan menghendaki” sedang mengakui bahwa hidupnya ada di bawah otoritas Tuhan. Yakobus ingin mengingatkan bahwa kita ini adalah hamba Tuhan, bukan penguasa hidup kita sendiri.

TELADAN KETAATAN: MARIA

Ketika Maria menerima kabar bahwa ia akan mengandung oleh Roh Kudus, ia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” (Lukas 1:38) Maria tidak mengerti seluruh rencana Tuhan. Ia tidak tahu risiko sosial yang akan dihadapi. Namun ia memilih taat.

Inilah inti kehidupan orang percaya: Menjadikan kehendak Allah sebagai kehendak kita.

MENGETAHUI KEHENDAK TUHAN

Yohanes 7:17 berkata: “Barangsiapa mau melakukan kehendak Allah, ia akan tahu…” Menariknya, kata “mau” dan “kehendak” berasal dari akar kata Yunani yang sama. Artinya: Jika kehendak kita adalah untuk taat kepada kehendak Allah, maka kita akan mengerti apa yang menjadi kehendak-Nya. Masalahnya sering bukan pada “Tuhan tidak berbicara”, tetapi pada hati kita yang belum sungguh-sungguh mau taat.

BAGAIMANA MELANGKAH DALAM KEHENDAK TUHAN?

Kita belajar dari kehidupan George Mueller, seorang tokoh iman abad ke-19 yang mengalami ribuan doa yang dijawab Tuhan. Ia hidup sangat dekat dengan Tuhan.

Beberapa prinsip yang bisa kita pelajari:

  1. Menyerahkan kehendak pribadi lebih dulu. Hati harus siap menerima jawaban Tuhan, apa pun itu.
  2. Mengandalkan Firman Tuhan. Roh Kudus tidak akan bertentangan dengan Alkitab.
  3. Berdoa dengan sungguh-sungguh. Meminta Tuhan menyingkapkan kehendak-Nya.
  4. Memperhatikan situasi yang Tuhan izinkan terjadi. Kadang Tuhan berbicara melalui keadaan.
  5. Mencari damai sejahtera dari Tuhan. Keputusan yang berasal dari Tuhan akan disertai damai yang menetap.

Kunci hidup Mueller sederhana: hati nurani yang bersih dan kecintaan pada Kitab Suci.

Janji yang Luar Biasa

1 Yohanes 5:14 berkata: “Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.”

Artinya jelas: Jika doa kita selaras dengan kehendak Tuhan, jawabannya pasti ya. Masalah terbesar bukan apakah Tuhan mau menjawab doa, tetapi apakah kita mau menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya.

Refleksi

Dalam segala perencanaan kita perlu bertanya dengan jujur: apakah semua rencana itu sudah kita letakkan di bawah kehendak Tuhan? Apakah kita sungguh-sungguh mau berkata, “Tuhan, jika Engkau tidak menyertai, kami tidak mau melangkah”? Kita perlu belajar menyerahkan ambisi, masa depan, dan keputusan kita ke dalam tangan Tuhan. Ketika kehendak kita selaras dengan kehendak-Nya, kita tidak lagi berjalan dalam ketakutan, melainkan dalam iman dan damai sejahtera.

Kesimpulan

Ketika kita belajar berkata dan hidup dalam prinsip “Jika Tuhan menghendaki”, kita tidak akan sombong atas rencana kita, dan tidak akan hancur saat rencana berubah. Kita akan berjalan dalam iman, bukan dalam ketakutan.Karena hidup terbaik bukanlah hidup yang mengikuti mimpi kita, tetapi hidup yang mengikuti kehendak Tuhan.

Hikmat Hari Ini

Tuhan Yesus memberkati

Rangkuman EFF – Budi Wahono

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800

Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *