Renungan Harian Youth, Senin 31 Oktober 2022
Syalom rekan-rekan youth, Ada sebuah pepatah lama berbunyi, “Berusahalah untuk mengerti, sebelum berusaha dimengerti.” Alkitab juga berbicara akan hal ini: “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2: 4).
Ini merupakan satu ayat yang kontra dengan budaya dunia. Segala sesuatu yang ada di masyarakat kita mengharuskan kita untuk memikirkan diri kita terlebih dahulu. Kita tidak terbiasa memikirkan orang lain, itu sesuatu yang harus kita pelajari terlebih dulu. Biasanya kita memikirkan kepentingan kita, keinginan kita, tujuan kita, dan ambisi kita. Akibatnya, ada jutaan orang yang terputus sebab mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri, bukan memikirkan kepentingan orang lain.
Dalam Falsafah jawa terdapat sebuah paribahasa Urip Iku Urup artinya “Hidup itu Menyala”. Falsafah ini memiliki makna hidup itu hendaknya dapat memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang kita berikan tentu akan semakin baik bagi kita maupun orang lain. Namun yang terjadi, Baik di dunia bisnis, dalam keluarga, atau bahkan di gereja, alangkah mudahnya kita memandang sesama kita dari segi manfaat apa yang bisa mereka berikan kepada kita. Kita lebih mudah menilai mereka dari apa yang bisa kita peroleh dari mereka daripada memikirkan bagaimana kita, sebagai pengikut Yesus, bisa melayani mereka.
Orang yang menjadikan hidupnya berarti bagi sesama adalah mereka yang membangun hidupnya dengan positif sehingga menghasilkan dampak yang baik.
Bukan kebetulan kalau Paulus menempatkan perintah untuk mengedepankan orang lain (ayat 3b dan 4b) sesudah dia memberikan larangan untuk menghindari keegoisan (ayat 3a dan 4a). Yang harus dilihat lebih dahulu adalah diri sendiri. Yang perlu diperangi dan dibenahi adalah diri sendiri. Pengalaman sehari-hari membuktikan bahwa persoalan terbesar dalam hubungan adalah diri sendiri. Anehnya, banyak orang justru sering menyalahkan orang lain.
Menjadi orang yang memberi arti kepada orang lain seringkali tidak cukup hanya sebatas kata-kata, tetapi sebuah perbuatan pun diperlukan untuk membantu mereka secara nyata. Kerinduan untuk memberi bukanlah tergantung dari seberapa besar harta milik kita, tetapi seberapa besar kepedulian kita terhadap penderitaan orang lain. Dan seringkali tidak perlu jauh-jauh untuk itu, karena disekitar kita pun ada banyak yang orang yang membutuhkan uluran tangan kita.
Bagaimana kita bisa menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri (ayat 3b)? Jawabannya adalah kerendahhatian. Terjemahan ini sebenarnya masih kurang jelas. Kata Yunani digunakan lebih berkaitan dengan pikiran daripada hati. Sebagian versi dengan tepat mengambil terjemahan: “kerendahan pikiran” (“lowliness of mind”; “humility of mind”). Makna ini selaras dengan kata “menganggap” yang secara hurufiah berarti “mempertimbangkan.” Jadi, pertempuran terbesar terletak pada diri sendiri dan terjadi di dalam pikiran. Kebenaran ini bertabrakan dengan sifat alamiah manusia yang sudah tercemar oleh dosa. Kita biasanya baru bisa menghargai orang lain kalau orang lain memiliki sesuatu yang melebihi kita. Kita lebih mudah merendahkan diri di depan mereka yang memiliki keutamaan. Tidak heran, kita sukar untuk bersikap rendah hati di depan semua orang. Prinsip Alkitab tidak seperti itu. Keutamaan orang lain dimulai dari perendahan diri kita sendiri. Secara lebih khusus, kita benar-benar menyadari kerendahan kita.
Semua yang kita miliki kita terima dari Tuhan. Semua adalah anugerah. Tidak ada yang perlu dibanggakan.
Tidak kalah penting juga semangat dan cara pandang kita dalam menyikapi kepentingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri. Jika kita masih terus bersikap egois dan tidak peduli kepada orang lain, bagaimana mungkin orang bisa mengenal pribadi Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita dengan benar? Kerajaan Tuhan tidak akan bisa dinyatakan di dunia tanpa adanya kepedulian dari kita terhadap orang lain. Ketika dunia mengarah kepada bentuk-bentuk individualis dan egoisme, janganlah kita malah terseret ikut di dalam arusnya. Kita harus bisa menunjukkan perbedaan sebagai anak-anak Tuhan dan sahabat-sahabat Kristus, sehingga orang bisa melihat siapa Yesus itu secara benar.
Kasih-Nya adalah kasih terbesar yang pernah ada. — Bill Crowder
Bagaimana kita bisa memperhatikan kepentingan orang lain (ayat 4b)? Dengan menghindari kebalikannya. Kita tidak boleh hanya memperhatikan kepentingan sendiri Maksud Paulus, kita tidak boleh terus-menerus memperhatikan kepentingan diri sendiri. Kata “memperhatikan” di sini bukan sekadar melihat sesuatu. Memperhatikan berarti mengamati atau berfokus pada sesuatu. Pada saat kita mencermati suatu objek, kita tidak akan bisa melihat objek-objek yang lain. Demikian pula jika kita selalu mencermati kepentingan diri sendiri, kita tidak akan mampu melihat kepentingan orang lain. Jadi, kita tidak dilarang untuk melihat kepentingan diri sendiri, tetapi jangan jadikan itu sebagai fokus yang terus-menerus. Kata kunci di sini adalah “fokus” dan “terus-menerus”
Sukacita kita alami ketika kita mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan kita sendiri
Kalau kita merasa diri kita bukan yang paling utama, kalau kita menganggap yang lain lebih utama, itu berarti kita melayani. The idea of Christian servanthood (menghambakan diri) dimulai dengan melihat orang lain lebih utama. Waktu kita melihat orang lain lebih utama, maka kita melayani. Yesus itu yang paling utama daripada semuanya, daripada semua manusia. Tapi waktu Dia berada dalam dunia, Dia menganggap orang berdosa lebih utama daripada diri-Nya, oleh sebab itu itu Dia mati di atas kayu salib. Dia menyerahkan diri-Nya, karena Dia menganggap orang lain lebih utama daripada kesetaraan diri-Nya dengan Allah; Dia tidak menganggap kesetaraan itu sebagai sesuatu yang harus Dia pertahankan.
Dari perspektif Yesus, kita orang berdosa ini lebih utama. Yesus mempunyai kerendahan hati seperti itu, maka Dia melayani kita sampai mati di atas kayu salib.
Oleh karena perbuatan dan pekerjaan Yesus yang menunjukkan nilai-nilai kerendahan hati dan sampai mengosongkan diri-Nya dan mati mati di kayu salib, inilah yang menghantarkan kita memiliki rasa keberhargaan diri dan menjadi berari. Ya, hidup Yesus, dan pengajaran rasul-rasul-Nya telah memberikan suatu dampak yang luar biasa sehingga membuat hidup kita berarti. Bagaimana dengan kita? Kita yang adalah murid Yesus yang juga dipanggil untuk dapat menjalani hidup yang memberi arti bagi sesame kita.
Amin. Tuhan Yesus Memberkati
EYC 29102022-LP