Renungan Harian Rabu, 12 Juli 2023
Bacaan: Matius 14 : 34 – 36
“Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.” (ay.36)
Dalam bacaan ini Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di Genesaret. Mereka mengenal Yesus sebagai pembuat mujizat. Mungkin mereka sudah mendengar berbagai kabar tentang mujizat Yesus yang tersebar cepat, sehingga mereka berbondong- bondong datang kepada-Nya, banyak orang yang sakit dibawa kepada-Nya (ay 35).
Karena begitu banyak orang, kemungkinan banyak orang yang tidak dapat mendekati dan didoakan secara langsung oleh Yesus. Timbul inisiatif dan iman dari mereka untuk memohon menjamah jumbai jubah-Nya. Mereka percaya bahwa dengan menjamah jumbai jubah-Nya saja mereka pasti sembuh. Ternyata iman mereka tidak sia-sia.
Yang menjadi pertanyaan, dari mana iman ini? Iman menjamah jumbai jubah Yesus
Iman ini mulanya didapati dalam diri seorang perempuan yang sudah 12 tahun sakit pendaharan, dia berusaha menerobos kerumunan dimana Yesus Sang Rabi dan Mesias serta Anak Tuhan berjalan (Matius 9:20-21). Dia tentu sudah mendengar bahwa Yesus bukan hanya bijaksana dalam mengajar namun berkuasa menyembuhkan berbagai sakit penyakit. Dengan keyakinannya dia berlari dan terseok berusaha menggapai jumbai jubah Yesus untuk mendapatkan kesembuhan. Apa yang dilakukannya tidak sia-sia karena Yesus akhirnya menyembuhkan perempuan tersebut. Dari kisah ini, banyak orang sakit yang mendengar tentang kesaksian dari wanita ini berinisiatif memiliki iman yang sama, yaitu iman menjamah jumbai jubah Yesus.
Namun yang menarik untuk kita telaah disamping perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus dan dialami perempuan sakit pendarahan tersebut adalah apa yang dimaksudkan “jumbai jubah Yesus?”
Dari perspektif Yahudi dan Yudaisme itu menunjuk pada benda bernama Tsit-tsit. Apa itu Tsit-tsit? Dalam Bilangan 15:37-41 leluhur Israel diperintahkan untuk membuat “jumbai-jumbai pada punca baju mereka” sebagai simbol untuk mengingat perintah-perintah Tuhan agar dilaksanakan, sebagaimana dikatakan, “TUHAN berfirman kepada Musa: Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN “.
Jumbai ini bagi orang Yahudi melambangkan:
- Pengharapan mereka akan Mesias,
- Ketaatan mereka pada hukum Tuhan, dan
- Penghormatan mereka akan kekudusan Tuhan.
Ketika orang Yahudi berdoa, mereka akan memegang jumbai ini dan meletakkannya di kepala mereka.
Dari sini kita mengerti, sebenarnya perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun itu mengharapkan tiga hal terjadi dalam hidupnya.
- Pertama, sebagai orang najis, ia rindu ditahirkan dan diikat dengan kekudusan Tuhan.
- Kedua, ia tahu jika ada orang yang dapat menyelamatkan dan menyembuhkannya, Dia pasti Mesias.
- Ketiga, kesiapannya untuk menaati perintah Allah dan meninggalkan dosa.
Iman yang benar akan kesembuhan ini yang menarik keluar kuasa Yesus. Yesus tidak perlu berkata, “Aku mau engkau sembuh” atau, “Dosamu sudah diampuni.” Yesus hanya meneguhkan iman perempuan itu (ay. 46).
Apakah kita memiliki dasar iman yang benar seperti perempuan ini? Iman untuk menjamah jumbai jubah Yesus. Jika itu ada dalam kita maka kuasa Yesus akan kita alami dalam setiap pergumulan kita.
Tuhan Yesus Memberkati.
CM