Renungan Harian Youth, Jumat 20 Oktober 2023
Setiap kita tentunya rindu untuk hidup kita terus bertumbuh dan semakin diperbaharui didalam kebenaran Firman Tuhan, setiap kita akan berproses agar hidup kita semakin disesuai dengan Firman Tuhan. – seperti Pujian yang kita naikkan bahwa hanya Firman Tuhan yang sanggup untuk mengubahkan sikap hati. Ada satu tema yang akan kita lihat bersama-sama, Dalam Injil Matius pasal 5-7 mengenai khotbah Yesus dibukit ada bagian yang Yesus ingatkan tentang sikap Hati dan Matius mencatatnya berurutan yaitu Jangan Kamu Kuatir dan Jangan Menghakimi – sebuah sikap hati yang terus menjadi awasan agar kita menjaga hati kita dengan nilai yang benar dalam diri kita (Hal kekuatiran) dan terhadap orang lain (Hal Menghakimi)
Sejujurnya … Seringkah kita lebih mudah untuk melihat kesalahan orang lain ketimbang kesalahan diri kita sendiri.
Hal ini dikarenakan kesalahan dan kekurangan pada diri orang lain seringkali pandang sebagai hal besar yang “menarik” untuk digunjingkan. Sebaliknya kekurangan pada diri sendiri kita berusaha untuk menutupnya serapat Mungkin
Matius 7:1-5 … Tuhan Yesus dengan Gamblang memberikan peringatan ini bagi kita semuanya … JANGANLAH MENGHAKIMI SUPAYA KAMU TIDAK DIHAKIMI … Seolah-olah Tuhan Yesus sedang memberikan sebuah tolak ukur dan standar supaya kita tidak jatuh dalam dosa menghakimi orang lain.
Jika kita melihat konteks dan kata dari Menghakimi kata yang digunakan untuk “menghakimi” adalah “κρίνετε” (krinete) yang memiliki makna tindakan menilai, mengkritik atau bahkan menghukum orang lain atas tindakan atau perilaku seseorang secara subjektif/sepihak, bukan atas dasar pertimbangan hukum/kebenaran. Kebenaran pribadi “Si penilai dan pengamat” yang menjadi tolak ukur …
Kita akan belajar kebenaran Firman Tuhan tentang Hal Menghakimi
- MENGHAKIMI SEDANG MENUNJUKKAN KUALITAS HATI KITA.
Kualitas hati yang tidak benar dihadapan Tuhan, penuh dengan kesombongan dan kepentingan diri sendiri. Orang yang menghakimi cenderung melihat kekurangan dan kesalahan orang lain dan akhirnya sulit untuk memperbaiki diri sendiri karena merasa benar dan telah lebih sibuk untuk mengurusi kehidupan orang lain.
Karena itulah untuk memperjelas makna yang ada Tuhan Yesus memakai gambaran Selumbar dan Balok, dua kontras yang mewakili hal menghakimi. Orang yang menghakimi seperti sedang mencari selumbar (ranting jerami yang kecil) tetapi tidak menyadari bahwa ada balok (Potongan kayu besar) dalam kehidupan kita
- PENAWARNYA – MENGUBAH CARA UNTUK MEMANDANG DAN MENILAI
Ayat 2, Sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur/menilai/ menghakimi orang lain akan diukurkan kepada kita.
Dengan kata lain jika kita menyadari ukuran yang sudah diukurkan kepada kita, maka kitapun akan memakai ukuran itu bagi orang lain. Karena itu Ukuran apa yang kita pakai untuk mengukur diri kita? MARI kita mengukurnya dari sudut pandangan KASIH KARUNIA ALLAH.
Setiap orang yang semakin menyadari dan menilai dirinya dengan sudut pandangan kasih karunia Allah maka ukuran yang sama yang akan diberikan kepada orang lain.
“judge” It is the violation of the law of love
Menghakimi adalah PELANGGARAN terhadap hukum kasih.
Perhatikan Nasehat dari Rasul Paulus :
2 Korintus 5:16 -18 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
Memandang dari sudut pandang kasih karunia akan menuntun kita untuk memandang orang lain sama seperti Yesus memandang.
Ada sebuah Ilustrasi suatu saat ada sepasang suami istri yang sederhana, hidup dari menjual Gula merah atau gula batok yang Bulat dan menjualnya per 1 kilogram. Mereka menjualnya kepada pedagang di pasar, dan beberapa kali mereka menukarkan gula mereka dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari seperti beras, minyak dll. Selang beberapa waktu betapa terkejutnya sang pedagang ketika dia tidak sengaja menimbang gula merah dari sepasang suami istri tadi ternyata hanya 900 gram dan dia berpikir sudah berapa banyak kerugian yang ia terima. Tidak tunggu waktu lama si pedagang pergi ke rumah penjual gula merah, dan dia begitu marah menyebut bapak ini sebagai seorang yang tidak jujur dan penipu. Dengan ketakutan bapak ini meminta maaf dan menjawab, bapak saya meminta maaf, kami adalah keluarga yang sederhana, kami tidak punya timbangan untuk mengukur gula merah setiap kilonya. Kami mengukurnya memakai timbangan beras satu kilo yang saya beli dari toko bapak. Pedagang ini kaget dan dengan tertunduk malu dia meninggalkan keluarga ini.
Ingatlah ukuran yang kita pakai sedang diukurkan juga dalam kehidupan kita. Mari hari ini kita belajar untuk … menyadari diri kita dalam kasih karunia Allah dan menilai orang lain juga dalam sudut pandang kasih karunia Allah.
Memang terkadang terkesan “menjadi lebih baik, lebih benar” ketika menghakimi orang lain. Namun menghakimi adalah tindakan yang dikecam oleh Tuhan Yesus. Mari kita menjadi semakin mawas diri dan menyadari keberadaan diri kita sendiri.
Nasehat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi
Filipi 4:8 (FAYH) Saudara sekalian yang saya kasihi, pada akhir surat ini saya ingin mengatakan satu hal lagi. Arahkanlah pikiran Saudara kepada hal-hal yang benar, yang baik, dan yang adil. Renungkanlah hal-hal yang murni dan indah, serta kebaikan dan keindahan di dalam diri orang lain. Ingatlah akan hal-hal yang menyebabkan Saudara memuji Allah dan bersukacita.
Kiranya Roh Kudus akan senantiasa menolong dan memampukan kita untuk menjadi pelaku Firman Tuhan
YNP – TVP