Renungan harian Youth, Jumat 08 November 2024
Syalom rekan-rekan Youth semuanya ….
Apa hal yang paling membahagiakan bagi kamu? Banyak orang mungkin sangat bahagia saat menerima prestasi atau penghargaan, saat impian mereka terwujud, atau ketika berhasil meraih apa yang selama ini mereka upayakan. Semua ini adalah pencapaian yang baik, terutama karena perjuangan yang dibutuhkan untuk meraihnya.
Dalam kisah Lukas 10:17-20, tujuh puluh murid yang diutus Tuhan Yesus mengalami sukacita yang luar biasa setelah kembali dari pelayanan. Mereka diutus untuk melakukan pekerjaan Tuhan—menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan mengabarkan kabar baik di berbagai tempat. Ketika mereka kembali, mereka sangat gembira dan memberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa setan-setan tunduk kepada mereka dalam nama-Nya. Mereka bersukacita karena keberhasilan dan kuasa yang mereka alami dalam pelayanan.
Tetapi Yesus mengingatkan mereka Lukas 10:20 “janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” Ketika Tuhan Yesus menyebutkan bahwa nama mereka “terdaftar di sorga,” Dia sedang berbicara tentang Kitab Kehidupan—buku yang berisi nama-nama orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan dijanjikan kehidupan kekal bersama Allah di Sorga (Wahyu 13:8; 21:27).
TUHAN YESUS MENGINGATKAN KEBENARAN YANG TERPENTING
Tuhan Yesus ingin agar murid-murid-Nya memahami bahwa pencapaian atau kekuatan yang mereka alami di dunia ini tidak lebih penting daripada hubungan kekal yang mereka miliki dengan Allah.
Sukses, kekuatan, atau pujian duniawi bersifat sementara, tetapi nama yang terdaftar di sorga adalah hadiah kekal dari Allah. Sukacita yang paling dalam haruslah datang dari apa yang telah Allah berikan kepada kita, yaitu kehidupan kekal, dan bukan hanya dari apa yang kita lakukan untuk-Nya.
Jadi, jangan sampai kita teralihkan oleh kesuksesan sementara, apa pun bentuknya. Tidak ada yang salah dengan meraih kesuksesan, dan kita memang seharusnya melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Namun, ingatlah bahwa yang terutama adalah nama kita tercatat dalam Kerajaan Sorga. Inilah alasan sejati kita untuk bersukacita.
Sering kali ketika kita berhasil, kita mudah merasa bangga dan bahkan lupa bahwa segala keberhasilan itu pada akhirnya datang dari Tuhan.
Ketika kita merasakan kuasa dan kesuksesan dalam pelayanan, karier, atau prestasi lain, ingatlah bahwa semua itu ada karena Tuhan yang memberi kemampuan kepada kita. Dengan bersyukur karena nama kita tercatat di Buku Kehidupan, kita bisa tetap rendah hati dalam keberhasilan kita di dunia. Seperti yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya, “bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” Hal ini mengingatkan kita bahwa apa yang Tuhan lakukan bagi kita jauh lebih besar daripada apa pun yang dapat kita lakukan untuk-Nya. Jangan sampai kita terlalu fokus pada pencapaian kita hingga melupakan kasih karunia Tuhan yang telah menulis nama kita di Buku Kehidupan.
Praktik Sikap yang Seimbang dalam Bersukacita
Bagaimana kita bisa menjaga agar fokus sukacita kita tetap pada Allah? Salah satu caranya adalah dengan bersikap penuh dengan kesadaran, tidak berlebihan dalam merayakan keberhasilan kita di dunia. Kita boleh bersukacita atas pencapaian dan berterima kasih kepada Tuhan, tetapi jangan sampai sukacita tersebut mengalihkan perhatian kita dari yang terutama—yaitu sukacita karena hubungan kita dengan Tuhan yang memberi kita kehidupan kekal.
“Kegembiraan sejati datang ketika kita mengingat bahwa apa yang Tuhan lakukan bagi kita jauh lebih besar daripada apa pun yang bisa kita lakukan untuk-Nya.”
Keberhasilan dan pencapaian kita, baik dalam pekerjaan, bakat, maupun pelayanan, adalah hal yang baik, tetapi hendaknya kegembiraan atas hal-hal ini tetap di bawah rasa syukur kita karena nama kita tercatat di Sorga. Setiap hari, kita dihadapkan dengan berbagai godaan untuk mengalihkan fokus dari tujuan sejati kita, yaitu hidup dalam kasih dan kehendak Tuhan. Dunia mengajarkan kita untuk mengutamakan pencapaian, status, atau pengakuan sebagai hal utama dalam hidup. Namun, ketika kita ingat bahwa hidup kita memiliki tujuan kekal, kita akan lebih mudah menempatkan sukacita kita pada hal-hal yang bersifat kekal, bukan hanya yang sementara.
Menjaga sukacita dalam Tuhan dan tidak teralihkan oleh kesuksesan dunia juga berarti kita belajar untuk hidup dalam perspektif kekekalan. Kita tahu bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, tetapi kehidupan di Sorga adalah selamanya. Saat kita mengutamakan hubungan kita dengan Tuhan, kita sedang mempersiapkan diri untuk menikmati kekekalan bersama-Nya.
Kehidupan sebagai pengikut Kristus mengajak kita untuk terus mengingat siapa kita di dalam Tuhan. Mari kita hidup dalam sukacita yang tidak tergoyahkan oleh pencapaian duniawi, tetapi berakar dalam hubungan kita dengan Tuhan.
Semoga kita semua selalu ingat bahwa nama kita telah terdaftar dalam Kerajaan Sorga—itu adalah sukacita terbesar yang patut kita syukuri setiap hari.
Tuhan Yesus memberkati
YNP – TVP