Elohim Ministry umum Lapar dan Dahaga akan Allah

Lapar dan Dahaga akan Allah



Renungan Harian Kamis, 11 Mei 2023

Bacaan : Amsal 27

Ayat Pokok : Amsal 27:7, "Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis."

Shalom… Selamat pagi bapak, ibu dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. 

                Faktor yang menentukan enak dan tidaknya suatu makanan adalah rasa dan selera.  Rasa bicara tentang komposisi dari makanan tersebut dan selera bicara tentang faktor orang yang akan menikmati makanan tersebut. Hal ini berkaitan dengan kesukaan, kegemaran dan keinginan untuk menikmati (lapar atau kenyang).  Setiap kita pasti pernah mengalami, saat ditawarkan makanan yang enak, tetapi kita kurang berselera menikmatinya karena merasa kenyang. Kadang kondisi tersebut bisa berubah jika makanan yang ditawarkan adalah makanan kesukaan kita.

Teks pokok kita hari ini mengangkat dua kondisi berbeda yang berpengaruh juga pada selera seseorang. Bagi orang yang kenyang, madu tidak berarti, namun bagi orang lapar segala yang pahit dirasa manis.  Madu adalah gambaran sesuatu yang manis, yang mengandung berbagai nutrisi yang menyehatkan. Alkitab menggambarkan madu sebagai simbol tentang Firman Tuhan yang sangat berguna bagi kehidupan rohani kita. 

Tuhan Yesus menggambarkan diri-NYA dengan Roti. Hal tersebut DIA katakan dalam Yohanes 6:35 “Akulah roti hidup.”  Dalam Matius 5:6 Yesus menggambarkan sebuah kualitas yang dibutuhkan agar kita bisa menikmati “makanan rohani terbaik” yang telah disediakan-NYA, yaitu: rasa haus dan lapar akan kebenaran.

Namun, meskipun Allah telah menyediakan nutrisi rohani terbaik bagi hidup kita, banyak orang yang justru menganggap remeh Firman Tuhan. Penyebabnya adalah “rasa kenyang”. Apakah penyebab rasa kenyang itu?

Mark Batterson mengungkapkannya dengan pernyataan berikut ini,

Jika Anda tidak merasakan lapar dan dahaga akan Allah, mungkin Anda terlalu kenyang atau penuh dengan diri Anda sendiri”.

Seorang teolog terkenal bernama A.W Tozer berkata bahwa salah satu musuh terbesar kekristenan adalah puas diri secara rohani. Hal ini bermakna bahwa fokus pada kesenangan dan kepuasan diri selain Kristus membuat kita pada akhirnya kehilangan selera rohani kita terhadap Kristus dan kebenaran-Nya.

Proses kehilangan selera makanan rohani itu seringkali tidak terjadi secara langsung, tetapi secara alamiah menyurut secara perlahan.  Hal itu dimulai dari sebuah sikap ketidakbergantungan pada Tuhan dan lebih mengandalkan kemampuan diri sendiri. Disiplin rohani yang tidak lagi dilakukan dan pengabaian waktu untuk membangun relasi dengan Tuhan dan Firman-Nya

Rasa lapar dan haus akan Allah adalah juga bentuk Ketergantungan pada Allah, Rasa lapar dan haus mengingatkan kita tentang ketergantungan kita pada Allah sebagai Pencipta dan Sumber kehidupan. Seperti kebutuhan kita akan makanan dan minuman, kita juga membutuhkan hubungan yang hidup dengan Allah untuk memenuhi kebutuhan kerohanian kita.

Kita menyadari bahwa hanya Allah yang bisa mengisi kekosongan dan dahaga kita, karena itulah marilah kita memberikan hati kita kepada Allah dan memprioritaskan hubungan dengan-Nya, kita merasakan kekayaan rohani yang melampaui segala kenikmatan dunia ini.

Bapak, ibu dan saudara yang terkasih. Marilah kita selalu memiliki rasa “lapar dan haus” akan Tuhan dan kebenaran-Nya  dan senantiasa waspada karena tabiat dosa akan selalu berusaha untuk membawa kita menjauh dari Allah.  Janganlah kita mengandalakan kemampuan diri sendiri  tetapi tetaplah bersandar pada kekuatan Allah.  Amin.

Tuhan Yesus Memberkati

DS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *