Renungan Harian Youth, Senin 29 Januari 2024
Kejadian 12:1-3, “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat'”
Kejadian 12:1-3 ini mengisahkan tentang panggilan Tuhan kepada Abram untuk meninggalkan apa yang dikasihinya. Abram dipanggil Tuhan untuk meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan rumahnya menuju ke tempat yang belum jelas yang akan ditunjukkan selagi dia taat untuk pergi. Ini tentunya merupakan pergumulan yang berat bagi Abram.
Perintah Tuhan kepada Abram jelas bahwa dia harus pergi meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumahnya. Allah memanggil Abraham keluar dari rumahnya di Haran dan memerintahkannya pergi ke tanah yang akan Ia ungkapkan.
Yang membuat Abraham istimewa ialah bahwa ia menaati Allah. Kejadian 12:4 merekam bahwa, setelah Allah memanggil Abraham, ia pergi “seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.” Penulis kitab Ibrani menggunakan Abraham sebagai teladan iman berulang kali, dan secara khusus membahas tindakan yang mengagumkan ini: “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibrani 11:8).
rekan-rekan youth, Siapa di antara kita yang berani meninggalkan segala yang kita kenal dan pergi tanpa kejelasan tujuan akhir kita?
Penduduk Ur-Kasdim dan Haran menyembah sederet dewa Babel, terutama dewa bulan, Sin, sehingga Allah memanggil Abraham keluar dari kebudayaan berhala itu. Abraham menyadari dan mengenali panggilan Yahweh, TUHAN, dan menaati dengan sukarela, bukan secara terpaksa. Abraham dipanggil untuk mengikuti jalan Tuhan, dan kemanapun tujuannya, Allah mau menuntun Abraham dan juga menguji Abraham apakah dia mau tunduk pada pimpinan Allah.
HIDUP DALAM PIMPINAN ALLAH
AMSAL 3:5-6, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Melalui ayat-ayat ini, kita bias belajar bahwa Ada tiga langkah yang harus diikuti saat kita mengikuti pimpinan Tuhan melalui firman-Nya, sehingga kita dapat menjalani kehidupan yang berhasil:
1. Percaya kepada Tuhan dengan segenap hatimu (ayat 5a)
Percaya kepada Tuhan dengan segenap hati adalah jaminan yang kuat untuk mencapai janji-janji itu.
Dalam bahasa Ibrani, hati secara simbolis tidak terlalu banyak dipakai untuk mengambarkan tempatnya emosi, tetapi lebih sebagai tempatnya akal budi dan kehendak. Dengan kata lain, serahkanlah dirimu yang paling dalam kepada Allah. Jangan berusaha untuk bebas dari Dia (tidak bergantung padaNya).
Ada harga yang harus dibayar dari sebuah nilai ketaatan.
Percaya sungguh kepada Tuhan, membawa kita kepada keputusan untuk bertindak bersama dengan kekuatan Tuhan, dan meluaskan Tuhan untuk bekerja dengan kuasa-Nya ketika kita tidak mampu melangkah lagi.
2. Jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri (ayat 5b)
Allah mau kita mengandalkan Tuhan yang dapat mengatasi kekuatiran dan menggantikannya dengan damai sejahtera (Fil 4:6-7). Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Dan ia dapat menjawab doa dengan cara yang ajaib (Roma 8:26-29; Ef 3:20).
Segala hal yang berkaitan dengan kesombongan dan cara berpikir kita yang berbenturan dengan kehendak Tuhan, harus kita pangkas dalam diri kita sehingga konsep kita mengenai tuntunan Tuhan benar-benar terbukti dan yang muncul dalam hati kita adalah kekaguman kita kepada Tuhan.
3. Akuilah Tuhan dalam segala perjalanan dan kehidupan (ayat 6a)
Mengakui Tuhan berarti tidak pernah melupakan / tidak meninggalkan Tuhan sejenakpun. Dalam setiap hal yang kita lakukan, kita harus melibatkan Tuhan di dalamnya. Bahkan dalam setiap langkah hidup kita, hari lepas hari, kita harus mengakui bahwa Tuhan menyertai kita. Ini berbicara tentang pengandalan akan Allah dalam segala hal.
Tuhan berjanji memberkati dengan “meluruskan jalanmu.” (ayat 6b). Tuhan dapat meluruskan jalan, artinya Ia menunjukkan jalan terbaik dan mengarahkan kita kepada jalan dan rencana Tuhan. Kita tahu bahwa rancangan Tuhan tidak pernah gagal, Ia mempunyai rancangan terbaik atas kehidupan kita yang mengandalkan Tuhan. Jalan Tuhan penuh keberhasilan.
Mari kita andalkan Tuhan sepenuhnya. Jangan mengandalkan diri sendiri, tetapi percaya penuh dan akui Tuhan dalam segala perjalanan kehidupan kita. Itulah perjalanan yang terbaik.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
EYC 27012024-YDK