MELEWATI BAYANGAN KETAKUTAN-KETAKUTAN KITA

May 14, 2024 0 Comments

Renungan Harian Youth, 14 Mei 2024

Mazmur 23:4, Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Sumber stres yang paling lazim ialah kehilangan. Setiap saat, kita bisa saja kehilangan pekerjaan, kesehatan, uang, reputasi atau seseorang yang Anda kasihi. Ketika kita menjumlahkan kesulitan-kesulitan lain yang telah Anda alami dalam hidup, itu malah semakin menambah stres.

Ada dua respons manusia ketika mengalami kehilangan, yaitu bersedih dan takut. Bersedih itu baik dan merupakan cara untuk melewati transisi kehidupan. Kesedihan tidak akan menghancurkan Anda apabila Anda mengekspresikannya. Sebaliknya, ketakutan bisa jadi hal yang buruk. Alkitab tidak pernah mengatakan, “Jangan bersedih,” “Jangan berduka,” “Jangan menangis,” atau “Jangan meratapi.” Namun, Alkitab sering mengatakan, “Jangan takut.” Ini adalah suatu jaminan bagi kita yang percaya kepada Tuhan yang sangat mengasihi kita.

Rekan-rekan youth, Menjalani kehidupan ini kita pasti pernah mengalami dan merasakan masa-masa sulit, serasa berada dalam lembah kekelaman, baying-bayang maut dan segala macam ketakutan.  Lembah kekelaman berupa masalah berat dalam rumah tangga, masalah keuangan yang sedang seret, tekanan, penderitaan dan pergumulan berat lainnya.  Sebagai orang percaya kita tak perlu takut atau kuatir, sebab Tuhan adalah Gembala kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita

Dalam Mazmur 23:4, Daud berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Daud sebagai seorang gembala selalu membawa tongkat dan gada untuk melindungi domba-dombanya.   Dalam mazmurnya ini Daud menyebutkan bahwa ada dua benda yang selalu dibawa oleh gembala yaitu gada dan tongkat.  Tongkat berfungsi untuk menepuk-nepuk tubuh domba ketika domba mulai berjalan melenceng arah atau menjauhi kawanannya.  Tongkat ini berbentuk melengkung di bagian pangkalnya seperti gagang payung, agar dapat mengait badan atau leher domba yang jatuh terperosok di lubang atau di jurang.  Sedangkan gada terbuat dari akar pohon dengan panjang tidak lebih dari 40-50 cm.  Ini adalah senjata ampuh untuk melawan hewan-hewan buas yang hendak memangsa domba-dombanya.  Gada ini adalah gambaran tentang jaminan perlindungan dan pembelaan Tuhan dari para musuh.  Kehadiran sang gembala dengan gada dan tongkat di tangan ini menjadi jaminan perlindungan bagi domba-domba.  Terkadang Tuhan harus menggunakan tongkat untuk menegur dan mendidik kita, dengan mengijinkan kita melewati lembah-lembah kekelaman atau bahkan bayang-bayang maut.  Memang sakit dan membuat kita harus mencucurkan air mata, namun memiliki tujuan yang indah, yaitu Tuhan mau kita tetap konsisten berada di jalan-jalan-Nya, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Ia tahu Allah punya kuasa untuk melindunginya. Daud percaya kepada Allah, bahkan di lembah terkelam sekali pun. Bila kita sedang melewati sebuah lembah yang gelap dan berada di bawah tekanan besar, pilihlah untuk percaya kepada Allah.

Tuhan setia bahkan di dalam bayang-bayang maut, di mana hal-hal tampak tidak masuk akal dan seperti sebuah jalan yang tak berujung di dalam lembah.

Pada tahun 1957, Melba Pattillo Beals terpilih menjadi salah satu dari sembilan siswa kulit hitam pertama yang boleh bersekolah di Central High School, sebuah sekolah di Little Rock, Arkansas yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi siswa kulit putih. Dalam memoarnya yang terbit di tahun 2018, I Will Not Fear: My Story of a Lifetime of Building Faith under Fire (Aku Takkan Takut: Perjuangan Hidupku Membangun Iman di Bawah Tekanan), Beals mengungkapkan kisah memilukan tentang perjuangannya menghadapi ketidakadilan dan pelecehan yang ditanggungnya dengan berani setiap hari sebagai siswa berusia lima belas tahun.

Namun, ia juga menulis tentang imannya yang teguh kepada Allah. Di saat-saat tergelapnya, ketika ketakutan nyaris melumpuhkannya, Beals berulang kali mengucapkan ayat-ayat Alkitab yang sudah dipelajarinya sejak kecil dari neneknya. Saat mengucapkannya, Beals diingatkan kembali akan penyertaan Allah, dan Alkitab memberinya keberanian untuk bertahan. Beals sering mengucapkan Mazmur 23 dan sangat terhibur dengan menyatakan bagian ini: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (ay.4). Selain itu, ia juga dikuatkan oleh dorongan semangat dari sang nenek yang selalu meyakinkannya bahwa Allah “sangat dekat denganmu, dan kau hanya perlu berseru kepada-Nya bila membutuhkan pertolongan.”

Rekan-rekan youth, Pernahkah kamu merasakan kehadiran Allah dalam situasi yang menakutkan?  Ada Kabar baik buat kita semua, ketika ingat tentang bayangan besar dan menakutkan, percayalah tidak ada bayangan jika tanpa cahaya. Jika melihat sebuah bayangan, itu berarti ada cahaya yang bersinar di dekat kita. Kunci bagi setiap kita untuk melewati lembah bayang-bayang maut adalah dengan membelakangi bayangan tersebut dan melihat terang cahaya. Saat kita terus menatap Sang Terang Dunia, yakni Tuhan Yesus Kristus, maka bayangan tidak akan membuat kita takut lagi. Sama seperti Daud yang percaya sepenuh hati kepada Allah di tengah lembah gelap, turutilah ucapan doanya, “Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Di jalan yang harus kutempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku” (Mzm. 142:4).

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

RM – DOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *