Renungan Harian Youth, Selasa 15 Juli 2025
Yakobus 1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
Ketika kita berada dalam situasi sulit, tidak selalu mudah untuk tetap tenang atau menahan diri terlalu lama. Kecenderungan alami kita adalah marah dan menggerutu. Namun melalui suratnya, Yakobus mendesak kita untuk tetap tenang dan mendengarkan firman Tuhan daripada membiarkan emosi kita meledak.
Surat Yakobus ditulis kepada orang-orang Kristen ketika mereka tersebar ke mana-mana. Karena tinggal di tengah lingkungan yang tidak percaya Kristus, orang-orang Kristen itu menjadi sulit untuk bersaksi. Melalui ayat ini,
Yakobus menekankan bahwa mendengar dan berbicara seharusnya dapat menjadi kesaksian dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kebudayaan Yahudi, mendengarkan sering dikaitkan dengan kebijaksanaan. Orang Yahudi percaya bahwa mendengarkan adalah tanda kerendahan hati, kesediaan untuk belajar, dan ketundukan kepada kehendak Allah. Kemarahan manusia sering kali dianggap tidak produktif dan malah dapat menyebabkan dosa. Oleh karena itu, Yakobus mendorong jemaat untuk menahan amarah dan mengutamakan damai sejahtera. Dalam konteks historis saat itu banyak anggota jemaat mungkin menghadapi tekanan eksternal yang memicu kemarahan, baik dari penganiayaan maupun diskriminasi sosial. Namun, Yakobus mengingatkan bahwa kemarahan semacam itu tidak membawa pada “kebenaran di hadapan Allah,” yang menekankan pentingnya kedamaian dan kesabaran sebagai buah dari iman yang sejati.
Rekan-rekan youth, Mengapa begitu penting bagi Yakobus agar para pengikut Kristus tidak berperilaku seperti ini? Karena “kemarahan manusia tidak menghasilkan kebenaran yang dikehendaki Allah.” (Yakobus 1:20), jika kita sedikit memperhatiakan nasihat Yakobus ini, kitab isa merefleksikan beberapa kalimat yang digunakan oleh Rasul Yakobus, yaitu:
Cepat mendengar:
Mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian adalah kunci untuk memahami orang lain dan situasi yang dihadapi. Ini juga berarti membuka diri terhadap berbagai perspektif sebelum membentuk opini atau memberikan tanggapan.
Lambat berbicara:
Berpikir sebelum berbicara, menghindari perkataan yang kasar atau gegabah, dan memberikan tanggapan yang bijaksana adalah hal yang ditekankan. Ini membantu mencegah kesalahpahaman dan konflik yang disebabkan oleh ucapan yang tidak tepat.
Lambat marah:
Mengendalikan emosi, terutama amarah, adalah bagian penting dari kehidupan yang saleh. Amarah yang tidak terkendali tidak akan menghasilkan kebenaran atau kebaikan.
Karena emosi dan marah tidak akan menyelesaikan persoalan. Sebab kemarahan tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Jadi, apa yang menghasilkan kehidupan yang benar yang dikehendaki Allah? Firman Allah
Meski mungkin sulit untuk mengerti dan taat ketika kita sedang melewati waktu-waktu yang menantang, Tuhan melimpahkan hikmat-Nya kepada kita saat kita sungguh-sungguh mencari-Nya dan firman-Nya (ayat 5). Dengan merenungkan firman Tuhan—tentang tujuan pencobaan yang kita hadapi, janji-janji yang kita miliki di dalam Tuhan saat kita memilih untuk taat, dan kuasa-Nya untuk mewujudkan semua janji itu—kita dapat merespons dengan cara yang menghasilkan karakter yang benar, karakter yang Tuhan mau ada dalam diri kita; dan tidak lagi sibuk mengkritik atau mengeluh.
Yakobus memberi tahu teman-temannya untuk “membuang segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak dan menerima dengan rendah hati firman yang tertanam di dalam dirimu, yang berkuasa menyelamatkanmu.” (Yakobus 1:21)
Ia berkata bahwa jika mereka memiliki Firman Tuhan dalam diri mereka, dan jika mereka menaatinya, mereka akan diberkati. (Yakobus 1:25)
Dalam tafsirannya, Matthew Henry menulis: “Sepatutnya kita cepat mendengar alasan dan kebenaran dari semua pihak, dan lambat untuk berbicara . . . dan, ketika kita perlu berbicara, seharusnya tidak ada lagi kemarahan dalam perkataan kita.”
Yakobus dengan jelas mengatakan bahwa jika kita ingin menjadi pengikut Tuhan, kita harus mengetahui firman Tuhan dan menaatinya. Itu berarti kita harus meluangkan waktu untuk mendengarkan orang lain, mengatur diri kita sendiri saat berbicara, dan menahan amarah.
Rekan-rekan youth, Yakobus mendorong orang percaya untuk menjadi pendengar yang baik, komunikator yang bijaksana, dan orang yang sabar dalam menghadapi berbagai situasi. Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, orang percaya dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama dan bertumbuh dalam kehidupan rohani.
Tuhan menghendaki kita taat. Ketaatan dinyatakan lewat sikap hati-hati dalam berkata-kata dan berbuat.
Dia juga menghendaki supaya kita menjaga kemurnian dengan tindakan aktif menjaga diri supaya tidak mengucapkan perkataan jahat memang tidak mudah. Kadang kita tak sadar melakukannya. Sebaiknya kita perlu bertanya kepada teman dekat kita, perkataan apa saja yang pernah melukainya? Kita perlu berlatih untuk tidak melukai teman kita dengan perkataan jahat.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – DOT
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan