Renungan Harian Rabu, 19 Juli 2023
Bacaan: Markus 2:1-5
Banyak kisah kepahlawanan yang dapat kita jumpai di dalam Alkitab yang membuat kita termotivasi untuk meneladani apa yang telah mereka lakukan. Misalnya, Abraham, Musa, Yosua, Daud, serta kisah raja-raja Israel yang dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa. Mungkin kita berpikir, apa saya bisa dipakai Tuhan seperti mereka?
Dalam bacaan kita hari ini, kita mendapati ada 3 (tiga) tokoh sentral di sana , yakni: 4 orang penggotong/pengusung orang lumpuh, orang lumpuh, dan Tuhan Yesus. Mari kita merenungkan bersama-sama mengenai 4 (empat) orang yang menggotong orang lumpuh, bagaimana mereka telah dipakai Tuhan secara luar biasa untuk menjadi berkat bagi orang lumpuh yang mereka bawa.
Ada 3 hal yang dapat kita pelajari dari keempat orang tersebut:
Memiliki hati yang berbelas kasihan kepada orang lain
Alkitab tidak memberikan penjelasan lebih lanjut kepada kita tentang ada hubungan apa antara si keempat orang penggotong itu dengan si lumpuh yang mereka gotong. Adik? Kakak? Kerabat? Sahabat? Atau Teman Sekampung?. Tetapi keempat orang tersebut memiliki hati bagi orang lain, yang mereka tahu sangat membutuhkan jamahan Tuhan Yesus.
Orang lumpuh adalah gambaran dari keadaan orang-orang di sekitar kita. Secara Fisik mungkin mereka tidak mengalami kelumpuhan, tapi berapa banyak orang-orang di sekitar kita, bahkan mungkin orang yang memiliki kedekatan dengan kita sesungguhnya sedang mengalami “kelumpuhan” di dalam kehidupan mereka. Entah itu kelumpuhan secara rohani, kelumpuhan secara jiwani, kelumpuhan secara materi, dan lain-lain, di mana mereka sesungguhnya sangat membutuhkan jamahan dari Tuhan Yesus.
Membawa orang lain berjumpa Yesus
Memiliki hati yang berbelas kasihan kepada orang lain tentunya akan mendorong kita untuk melakukan tindakan nyata agar mereka dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus sehingga mengalami pemulihan dan kesembuhan atas kelumpuhan mereka. Empat orang yang menjadi bahan perenungan kita pada kesempatan hari ini melakukan tindakan nyata. Mereka mengupayakan agar si lumpuh dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus.
Sekalipun mereka mengalami rintangan/hambatan, tapi mereka tidak mudah menyerah, mereka terus mengupayakan agar si lumpuh dapat berjumpa dengan Tuhan Yesus. Mereka membawa orang lumpuh tersebut menaiki atap, membongkar atap rumah, serta menurunkan tilam di mana orang lumpuh itu berbaring tepat dihadapan Tuhan Yesus. Haleluya!
Seberapa sungguh hati berbelaskasihan kepada orang lain menentukan seberapa keras kita mengupayakan orang itu untuk dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus.
Mungkin kita tidak memiliki kekuatan untuk menggotong orang secara fisik, tapi kita bisa ‘menggotong’ mereka melalui doa-doa kita. Untuk itu jangan pernah menyerah, dan jangan pernah berhenti berdoa bagi mereka yang membutuhkan perjumpaan dengan Tuhan Yesus.
Memiliki iman yang nyata
Satu perkataan yang sangat menarik dari ayat yang kita baca di atas adalah: “…Ketika Yesus melihat iman mereka…”. Haleluya! Ada iman yang terlihat nyata melalui tindakan nyata dan upaya kita yang tidak kenal menyerah agar orang lain mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Apa dampak dari iman tersebut? Orang lumpuh itu mengalami kesembuhan dari Tuhan Yesus dan semua orang yang hadir di sana memuliakan Allah karena mujizat yang Tuhan Yesus lakukan bagi orang lumpuh tersebut.
Ketika Tuhan Yesus melihat iman yang nyata melalui upaya dan doa kita untuk membawa orang lain berjumpa dengan Tuhan Yesus, ada saatnya sesuai dengan kairos Tuhan, si lumpuh yang kita gotong kepada Tuhan Yesus akan mengalami jamahan dan mujizat Tuhan Yesus dan orang-orang di sekitar kita akan memuliakan Tuhan.
Tetaplah berdoa bagi jiwa-jiwa yang membutuhkan perjumpaan dengan Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus Memberkati.
CM