Renungan Harian Youth, Rabu 11 Juni 2025
Rasa khawatir sering muncul karena kita lebih mengandalkan apa yang terlihat oleh mata jasmani, daripada mempercayai dengan mata iman. Wajar saja, ketika kita melihat berbagai peristiwa di dunia—seperti bencana alam, kerusakan lingkungan yang semakin parah, peperangan, aksi teror, serta kondisi ekonomi yang tidak stabil—kita merasa takut dan cemas akan masa depan. Akibatnya, kita pun mencoba mengamankan diri dengan kekuatan sendiri. Namun, seberapa besar kemampuan kita sebenarnya?
Yesus mengingatkan bahwa kekhawatiran tidak akan menyelesaikan masalah. Justru, kekhawatiran bisa melemahkan kita, menguras tenaga, bahkan membuat kita mulai meragukan kuasa dan kebaikan Tuhan.
Apa sebenarnya perbedaan antara berjalan dengan mata dan berjalan dengan iman? Berjalan dengan mata berarti kita mengandalkan kemampuan sendiri—logika, kekuatan, dan analisa. Sedangkan berjalan dengan iman berarti kita memilih untuk percaya dan bersandar sepenuhnya pada pimpinan Tuhan, walaupun kita tidak selalu mengerti jalan-Nya.Tuhan mengingatkan kita bahwa Dia Maha Kuasa dan sangat peduli dengan hidup kita, jauh melampaui kepedulian-Nya atas ciptaan yang lain maka kita tidak perlu khawatir lagi.
If we had not taken that first step of obedience, we might never have seen another step in God’s will for our life – and we would have wasted my days on earth, even if we did go to heaven. If God has clearly shown us some step of obedience now, obey Him immediately, lest you miss the will of God for our life.
Dengan menggunakan kacamata iman, kita dapat melihat hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup ini—yaitu mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Artinya, kita mau menerima Allah sebagai Raja dalam hidup kita dan bersedia taat kepada kehendak-Nya. Ketika kita menjadikan kehendak Tuhan sebagai fokus utama, maka Ia akan mencukupkan segala kebutuhan kita.
Apa yang sedang membuatmu khawatir hari ini? Serahkan semuanya kepada Tuhan, dan percaya bahwa Ia sanggup mencukupkan segala yang kita perlukan, tepat pada waktunya. Sekaranglah saatnya untuk membuat komitmen: percaya sepenuhnya pada kuasa Allah dan setia mengerjakan tugas serta pelayanan yang telah Ia percayakan kepada kita. Lihat dan alami sendiri bagaimana Tuhan memelihara hidup kita, sekaligus menjadikan kita berkat bagi orang lain.
If the Lord has determined to anoint you and to give you a ministry, no man can hinder God’s purpose for your life. He Himself will open the right door for you – at the right time. You won’t have to push your way through anywhere and you won’t have to go around asking people
Jika kita perhatikan, dalam Alkitab hampir tidak ada dosa lain yang dibahas Yesus dengan begitu panjang, dalam, dan serius kepada para murid-Nya, selain dosa kekhawatiran terhadap kebutuhan hidup. Yesus bahkan memberikan banyak penjelasan dan perumpamaan tentang hal ini. Mengapa? Karena kekhawatiran menunjukkan bahwa hati dan harta kita terlalu melekat pada hal-hal duniawi. Sikap ini menjadi tanda bahwa kita belum sepenuhnya menyerahkan hidup kepada Allah. Karena itu janganlah kita khawatir akan masa depan, yakin dan percaya saja, Allah sudah sediakan yang terbaik.
In such cases, we must not allow Satan to harass us perpetually, but accept God’s forgiveness and be at rest. God will show us the matters that we need to set right. And when He shows us some matter, He will test us to see whether we will humble ourselves and obey Him immediately – whatever the cost
Larangan yang ditetapkan.
Tuhan Yesus memberikan perintah yang jelas dan tegas: jangan khawatir terhadap hal-hal duniawi. Ia menyampaikannya bukan hanya sebagai Guru yang bijaksana, tetapi sebagai Raja yang berkuasa atas hidup kita, sekaligus sebagai Penghibur yang peduli dan menguatkan hati kita. Apa yang Yesus katakan?
Dalam Matius 6, Ia berulang kali menegaskan:
- “Janganlah khawatir akan hidupmu…” (ayat 25)
- “Janganlah khawatir dan berkata: Apa yang akan kami makan?” (ayat 31)
- “Janganlah kamu khawatir akan hari esok…” (ayat 34)
Tiga kali Ia mengulanginya, bukan karena Yesus bertele-tele, melainkan karena Ia tahu betapa mudahnya hati kita diliputi kekhawatiran. Setiap pengulangan itu memiliki maksud yang kuat—agar kita sungguh-sungguh memahami bahwa kekhawatiran adalah hal yang menghambat iman dan mengganggu fokus kita kepada Allah. Kekhawatiran bukan sekadar perasaan manusiawi; itu adalah beban yang bisa menjauhkan kita dari kepercayaan penuh kepada Allah. Yesus tahu ini, dan karena itu Ia dengan penuh kasih memperingatkan murid-murid-Nya untuk tidak membagi perhatian mereka dengan rasa cemas terhadap kebutuhan hidup. Ia ingin kita hidup dengan penuh kepercayaan, bukan kecemasan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk fokus kepada kehendak Allah dan rencana-Nya, bukan membiarkan diri kita dikendalikan oleh ketakutan akan masa depan. Sebab ketika kita percaya dan taat, Allah yang memelihara hidup kita akan mencukupkan segala sesuatu yang kita perlukan.Jangan sampai kekhawatiran menutupi diri kita, sehingga kita meragukan apa yang Tuhan sudah persiapkan.
Kekhawatiran bisa begitu mengganggu. Ia membuat hati gelisah, pikiran kacau, dan perasaan tak menentu. Kekhawatiran mencuri sukacita kita di dalam Tuhan dan mengaburkan pengharapan yang seharusnya kita miliki. Bahkan, kekhawatiran bisa mengganggu tidur, membuat kita sulit menikmati hidup, merusak hubungan dengan orang terdekat, dan menghalangi kita untuk bersyukur atas segala berkat yang Tuhan sudah berikan. Lebih dari itu, kekhawatiran sering kali menunjukkan keraguan dan ketidakpercayaan kita kepada janji-janji Allah. Padahal, Tuhan sudah berjanji bahwa Ia akan menyediakan segala yang kita butuhkan dalam hidup ini.
Ketakutan akan masa depan dan rasa khawatir tentang kekurangan sering muncul karena kita lupa mempercayai janji-janji-Nya.
Ketika usaha kita tidak membuahkan hasil, jangan diam dan larut dalam kekhawatiran. Datanglah kepada Allah. Berdoalah dan serahkan semua beban kita kepada-Nya. Lewat doa, kita akan menerima kekuatan untuk menghadapi tantangan setiap hari dan perlindungan dari godaan yang bisa menjatuhkan kita. Jangan biarkan kekhawatiran menggoyahkan iman kita. Tetaplah percaya dan bersandar pada Allah, sumber damai dan sukacita sejati.
Untuk masa depan, kita harus menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, dan janganlah cemas. Janganlah kuatir akan hidupmu. Janganlah kamu kuatir akan hari besok, akan masa yang akan datang ada Allah yang selalu menolong.
Tuhan Yesus memberkati
LW – IT
Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan