Renungan Harian Youth, Jumat 14 April 2023
Mazmur 1:2… tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Setiap orang di dunia ini pasti berharap hidupnya bahagia. Sayangnya, tidak jarang orang mengambil jalan pintas untuk meraihnya. Demi kekayaan rela melakukan korupsi, demi kebahagiaan pasangan mau tinggal bersama sebelum menikah, dan sebagainya. Mereka memang meraih kebahagiaan, tapi hanya sementara.
Mazmur 1 memberi tahu kita, berbahagialah orang yang kesukaannya Taurat Tuhan, yang merenungkannya siang dan malam. Kata “kesukaan” digunakan dalam Perjanjian Lama untuk menyatakan seorang pria menyukai wanita (bdk. Kej. 34:19). Pria itu akan memikirkan terus wanita itu dan mengutamakannya dalam segala hal. Analoginya sama dengan orang yang menyukai firman Tuhan. Ia akan memikirkan terus firman itu dan mengutamakannya di dalam seluruh aspek kehidupannya. Merenungkan firman baginya berarti bercakap-cakap dengan diri sendiri mengenai apa yang terkandung di dalam firman, dengan niat menerapkannya di dalam kehidupan. Firman Tuhan menjadi pedoman hidupnya dan patokan dari segala keputusan yang diambilnya.
Menyukai dan merenungkan Taurat TUHAN siang dan malam menjadi bagian hidup orang percaya. Pemazmur mengajak kita punya pola dan ritme hidup yang menyukai dan merenungkan Taurat TUHAN.
Tidak ada hal lain yang akan diambil dan diteliti dan dipelajari dan dihafalkan. Kehidupan yang telah bertobat dan setiap hari harus bertobat. Merupakan kehidupan yang cinta pada Alkitab, Injil disuarakan setiap saat kepada diri sendiri. Hati dan pikiran yang akan terus dilimpahkan dengan aliran air kehidupan
“Akulah air hidup” kata Yesus, Kristuslah Air kehidupan yang tidak akan memberikan kehausan. Setiap hal yang akan kita rasakan dan nikmati hanya akan tertuju pada Kristus. Ini merupan perjalanan musafir, bersama Sang Firman.
Seorang pria bergumul dengan pekerjaan barunya yang menjanjikan gaji dan fasilitas yang lebih baik. Namun dirinya tidak merasa kerasan, bukan karena pekerjaannya susah melainkan pergaulan di tempat baru yang menurutnya tidak sesuai kebenaran Alkitab. Suatu hari, ia rapat di luar kota. Sore hari selepas rapat, ia diajak rekan-rekan sekerjanya pergi menyewa sebuah villa. Tak lama berselang, masuklah perempuan-perempuan penggoda. Teman-temannya begitu senang, tapi dirinya bergumul hebat. Terlintas firman Tuhan yang pernah direnungkan. Akhirnya, ia memutuskan pulang tanpa pamit kepada mereka. Ia sangat bersyukur atas peringatan Roh Kudus dan tidak tahu apa yang terjadi jika tetap tinggal. Ia bisa bertindak benar karena firman Tuhan menjadi patokan hidupnya.
Aristoteles, seorang filsuf kenamaan dunia, berkata bahwa kebahagiaan adalah arti dan tujuan hidup. Kebahagiaan adalah keseluruhan arah dan cita-cita akhir dari eksistensi manusia. Karena itulah semua orang di dunia ini berlomba-lomba mencari kebahagiaan. Namun, hanya sedikit yang menyadari bahwa sebenarnya kebahagiaan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.
Firman TUHAN mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah kesenangan hidup dalam hadirat TUHAN.
Kesukaan untuk memuji dan menyembah TUHAN dan hidup dalam kebenaran Firman TUHAN. Kebahagiaan adalah hidup dalam kelimpahan berkat TUHAN. Kebahagiaan adalah hidup dalam segala keberhasilan yang diberikan TUHAN. Dan karena hidup melekat pada Sumber Berkat, maka kehidupan yang berbahagia selalu mengalirkan berkat bagi orang lain pula.
Mazmur 1:2 menyatakan bahwa orang yang berbahagia (atau diberkati) itu adalah orang yang merenungkan Taurat siang dan malam. Tentu saja pemazmur bukan sedang mengajarkan dua kali waktu saat teduh dalam sehari. Siang dan malam berarti sehari penuh dan perenungan itu dilakukan setiap hari. Bagaimana kita menjalankan tuntutan ini? Apakah kita harus membawa Alkitab setiap waktu di tangan kita? Apakah kita harus makan siang sambil membaca Alkitab? Jika demikian, maka mungkinkah kita melakukan tuntutan ini?
FIRMAN TUHAN ADALAH PATOKAN HIDUP YANG MEMBAWA ANDA PADA KEBAHAGIAAN.
Sebagai orang Kristen, tentu kita pun ingin meraih kebahagiaan. Kebahagiaan itu dapat kita peroleh dengan merenungkan dan menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidupnya. Bila Anda seorang pelajar, belajarlah dengan baik dan jujur dalam mengerjakan ujian. Bila Anda seorang pedagang, berdaganglah tanpa menipu konsumen. Bila Anda sedang berpacaran, jagalah kekudusan sampai ke jenjang pernikahan.
Semua tindakan dan keputusan hidup Anda diambil berdasar patokan firman.
Rekan-rekan youth, Rasa haus dan lapar terhadap firman Tuhan adalah undangan Tuhan untuk kita lebih dekat kepadaNya, untuk lebih mengenal Dia melalui firman-Nya. Seperti makanan, firman Tuhan perlu “dikunyah” agar setiap nutrisi dan kandungan baik yang ada di makanan, diserap oleh tubuh kita. Merenungkan firman Tuhan berulang kali sama dengan “mengunyah” firman Tuhan, untuk memberkati jiwa, hati dan pikiran kita. Firman Tuhan bukan saja makanan, tetapi juga roh (Yoh/ 6:63). Merenungkan firman Tuhan membuat roh kita menerima berkat-berkat rohani yang Tuhan sediakan, damai sejahtera, sukacita, iman, kasih, kebenaran, wahyu, hikmat dan pengenalan akan Tuhan.
Merenungkan taurat Tuhan siang dan malam seperti mengijinkan benih firman Tuhan berakar di hati kita. Jangan biarkan hati dan pikiran kita menjadi tanah kosong dan ditumbuhi tanaman belukar yang liar, berilah tempat seluas-luasnya bagi firman Tuhan untuk ditabur. Sebab dari hati kehidupan mengalir. Karena itu, marilah membiasakan diri menyukai dan merenungkan Taurat TUHAN agar hidup kita menjadi berkat untuk memberkati orang lain.
Mari jadikan Yesus, firman Allah yang hidup, sebagai pedoman hidup kita.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati