Renungan Harian Youth, Kamis 04 Mei 2023
Mazmur 42:3, Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Rasa haus itu timbul dari kebutuhan hidup. Pemazmur menyadari betapa haus dirinya kepada Allah. Pada saat kesukaran datang dan ia mengalami kegelisahan, semakin rindu ia datang kepada Tuhan. Kerinduan itu bagaikan perasaan haus yang membuatnya terus berjalan mencari Tuhan karena Tuhan adalah Sumber yang benar. Pemazmur percaya bahwa Allah yang berkuasa atas siang maupun malam dan memberikan kelegaan kepada manusia. Oleh sebab itu, pemazmur bersyukur kepada Allah yang memuaskan jiwanya.
Berulang kali Pemazmur mengungkapkan bgmn “jiwanya tertekan”, betapa kegelisahan menguasai dirinya. Mungkin kita pun bisa, pernah, sedang dan msh akan mengalami jiwa yg tertekan, hati yg gundah gelisah. Dan kali ini Pemazmur menggambarkan kehausan manusia akan kehadiran TUHAN sama seperti rusa merindukan air. Seperti rusa yang sangat membutuhkan dan merindukan sungai yang berair, demikian pula kerinduan Daud kepada Tuhan. Artinya hal yang paling Daud butuhkan dan inginkan dalam hidup ini adalah Tuhan.
Bagi Daud Tuhan adalah satu-satunya Pribadi yang dapat memuaskan rasa haus dan lapar jiwanya; satu-satunya sumber kekuatan dan perlindungan.
Pendeta dan penulis Amerika, A.W. Tozer berpendapat, “Salah satu musuh terbesar orang Kristen adalah cepat puas diri secara rohani. Kekristenan telah jatuh dalam keadaannya yang rendah sekarang ini karena kurangnya hasrat akan Allah. Di antara mereka yang mengaku sebagai orang Kristen sangat jarang memperlihatkan rasa haus yang bergairah akan Tuhan.” Fenomena riil saat ini memperlihatkan bahwa tidak banyak orang yang mau membayar harga dan berkorban untuk mengejar pengenalan akan Allah. Umumnya, kita lebih berani berkorban demi mencapai kesuksesan jasmaniah dibandingkan rohaniah, bukan?
Rasa haus dan lapar merupakan tanggapan tubuh sebagai tanda bahwa tubuh kita masih hidup. Demikian juga dalam hal kerohanian. Salah satu indikator kerohanian kita masih hidup dan sehat adalah adanya rasa haus dan lapar akan Tuhan. Berhenti haus dan lapar akan Allah berarti kita sedang mati secara rohani.
Ayat di atas mencerminkan kehidupan rohani Pemazmur. Ia menganalogikan orang percaya dengan rusa yang haus akan air, yang selalu mencari pemuasan dan kepuasan di dalam Tuhan saja. Karena harta kekayaan, kesenangan, hobi, maupun makanan, tak satu pun dapat memuaskan dahaga jiwa kita. Hanya di dalam Tuhan Yesus, kita menemukan kepuasan sejati. Yesus mengundang kita datang kepada-Nya, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh. 6:35).
Kristus adalah makanan yang memelihara kehidupan kerohanian sehingga kita yang percaya kepada-Nya pasti mengalami kepuasan jiwa.
Jangan biarkan perkara duniawi menghambat dan mengurangi kerinduan jiwa kita akan Tuhan. Tidaklah salah menikmati berkat-berkat Tuhan, tapi jangan sampai kita terikat padanya. Itu bukan tujuan hidup, tapi sarana hidup. Ingatlah, tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selamanya. Karena itu, waspadalah terhadap ketamakan, usaha mengejar kesenangan dan kenikmatan dunia yang menghalangi kecintaan kita kepada Tuhan. Berdoalah agar keinginan akan hadirat Tuhan diperkuat, kasih kita akan Tuhan makin bertambah, dan hasrat untuk membaca Alkitab makin bertambah.
Mengenal Kristus dengan baik dapat memuaskan dahaga rohani karena tidak ada orang, harta benda, atau pengalaman yang dapat menghasilkan sukacita rohani yang kita temukan di dalam Dia. Persekutuan dengan Kristus memuaskan tiada bandingnya karena tidak ada kekecewaan yang ditemukan di dalam Dia. Terlebih lagi, kepuasan rohani yang mula-mula An- da dapati di dalam Dia tidak pernah berakhir. Di atas semua- nya, Tuhan yang di dalam-Nya kita temukan kepuasan ini ada- lah jagat kepuasan yang tak terhingga, tempat seseorang dapat membenamkan diri untuk menjelajahi dan menikmatinya tanpa batas. Jadi, tak ada rasa kurang puas dalam pengenalan akan Kristus, tetapi di sisi lain, Tuhan juga tidak merancangkan agar satu pengalaman dengan Kristus mengenyangkan segala hasrat masa depan kita terhadap-Nya.
Kerinduan akan relasi dengan Tuhan melalui doa makin intensif dan komitmen melayani Tuhan makin bertumbuh.
Kadang kala, seseorang yang jiwanya kosong mencari dengan cara yang sedemikian serius atau rohani sehingga membuat orang kristiani berpikir bahwa orang ini haus akan Tuhan. Namun, dunia tidak memiliki rasa haus seperti itu. “Tidak ada yang berbuat baik,” Tuhan mengilhami Raja Daud dan Rasul Paulus untuk menulis, “tidak ada seorang pun yang mencari Allah” (Mzm. 14:1; Rm. 3:11). Sampai dan kecuali Roh Kudus Tuhan menjamah lidah batiniah seseorang yang berjiwa kosong, jiwa tersebut tidak akan pernah memiliki keinginan untuk “mengecap dan melihat betapa baiknya Tuhan itu” (Mzm. 34:8). Hanya karena seseorang mencari sesuatu yang dapat ditemukan di dalam Tuhan, bukan berarti ia men- cari Tuhan.
Seberapa besar kerinduan kita, seberapa haus jiwa kita kepada TUHAN Allah kita?Manusia jasmani membutuhkan air untuk bisa hidup, sedangkan manusia rohani membutuhkan Tuhan. Jika kita berlama-lama tanpa doa, tanpa membaca firman, tanpa bersekutu dengan Tuhan, pasti ada sesuatu yang mati di dalam hati kita. Kita hidup tidak bisa jauh dari Tuhan. Di luar Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mengikut Tuhan harus dari jarak dekat, tidak bisa dari jarak jauh.
Mari mendekat kepada Tuhan karena ada sebuah bagian di dalam jiwa kita yang hanya bisa diisi oleh Yesus.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – SCW