Elohim Ministry youth STILL LIFE

STILL LIFE



Renungan Harian Youth, Rabu 14 Mei 2025

Mazmur 30 : 11

Berjalan, melangkah, terjatuh, lalu bangkit kembali—itulah ritme kehidupan yang harus kita jalani sebagai ciptaan Allah. Semua fase ini adalah tanda bahwa kita masih hidup, tidak hanya secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Namun, ketika kita mulai kehilangan kepekaan dan tidak lagi merasakan makna hidup, ada sesuatu yang perlu dipertanyakan: Apakah aku benar-benar masih hidup? Jangan jalani hidup seperti zombie—tampak hidup, tapi mati di dalam. Tidak ada rasa, tidak ada getaran jiwa. Padahal, Alkitab menggambarkan bahwa bahkan gunung-gunung pun berguncang dalam pujian kepada Tuhan. Jika alam ciptaan-Nya bisa berseru memuliakan Dia, bagaimana mungkin kita, yang diberi nafas kehidupan, justru diam membisu?

Jangan terlena dalam zona nyaman, dan merasa aman hanya karena tidak ada badai. Justru saat kita merasa paling tenang, seringkali itulah saat kita paling rentan. Dalam setiap musim kehidupan—entah dalam keberhasilan maupun kegagalan—mata kita seharusnya tetap tertuju kepada Allah. Kita harus sadar dan dengan rendah hati mengakui: segala keberhasilan yang kita capai bukanlah karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena anugerah dan kebaikan Tuhan. Apakah begitu sulit mengucapkan, “Ini semua karena Tuhan”? Ketika dengan sadar kita mengakui semua pekerjaan Allah, maka itu tandanya kita masih hidup dan bertumbuh baik secara jasmani dan Rohani.

Apakah ada di antara kita yang sedang menderita? Diliputi pergumulan? Alkitab berkata: “Baiklah ia berdoa.” Hidup adalah kesempatan yang Allah anugerahkan. Sekalipun dalam masa-masa gelap, ketika Allah tampak menyembunyikan wajah-Nya dari Daud, Daud tidak pernah berhenti berdoa. Sebab dalam doa, ia tetap bersyukur—bukan karena semuanya baik, melainkan karena Allah tetap setia.

Tetaplah berdoa. Dengan demikian kita tahu bahwa kita masih hidup—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara rohani. Jika dalam kebijaksanaan dan keadilan-Nya Allah memilih untuk berpaling sejenak dari kita, maka adalah kebodohan bila kita ikut berpaling dari-Nya. Itu bukan hanya penolakan terhadap kasih karunia-Nya, melainkan juga bukti bahwa jiwa kita telah mati. Mari belajar untuk berdoa dalam malam tergelap sekalipun. Dalam penderitaan, dalam kebingungan, dalam air mata—tetaplah datang kepada Tuhan. Ingat, debu tidak bisa bersyukur. Debu tidak bisa memuji. Debu tidak bisa memberi kesaksian tentang Allah. Tapi kita bisa, karena kita masih hidup oleh kasih karunia-Nya.

Selama kita masih bernapas, itulah kesempatan untuk berdoa, memuji, melayani, dan menyatakan kebaikan Tuhan. Jangan sia-siakan waktu itu. Jangan diam. Karena segala bentuk pelayanan tidak dapat dilakukan oleh debu. Hanya oleh orang yang hidup—secara jasmani dan rohani—nama Tuhan bisa dimuliakan. Dasar dari setiap doa yang sejati bukanlah keinginan pribadi, melainkan kebenaran Allah. Maka datanglah kepada-Nya bukan hanya dengan permohonan, tapi juga dengan keyakinan bahwa Dia benar, adil, dan penuh kasih. Jadi, kita sudah bersikap benar dan menunjukkan bahwa kita masih hidup dan bernapas, jika kita meminta kehidupan ketika kita dapat menjadi berkat dan melakukan segala pelayanan yang Allah percayakan.

Apa yang hendak kita doakan? Marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan rendah hati, memohon belas kasihan-Nya. Mintalah pengampunan atas segala dosa, serta anugerah dan pertolongan pada saat kita benar-benar membutuhkannya. Ketika kita mampu melakukannya, kita sedang menyatakan satu hal penting: hidup kita bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Ingatlah bahwa kita telah diundang untuk menghampiri takhta anugerah dengan keberanian, bukan karena kebaikan kita, tetapi karena kasih Tuhan yang besar. Di hadapan takhta itulah kita menemukan kasih yang mengampuni, kekuatan yang menopang, dan damai yang memulihkan.

Segala sesuatu terjadi dalam waktu yang tepat menurut kehendak-Nya. Allah tidak pernah terlambat. Dia sanggup menyelamatkan kita dari kesukaran terdalam dan memulihkan hidup yang telah hancur. Doa-doa kita tidak sia-sia. Ratapan kita tidak diabaikan. Ia mengubah air mata menjadi tawa, dan dukacita menjadi sukacita.Semua keberhasilan yang kita raih, akan menunjukkan kepada semua orang bahwa kita masih hidup karena mengandalkan Tuhan.

Tanamkan dalam hati dan pikiran: “Aku masih hidup hanya karena berkat Tuhan.”

Maka jangan pernah sia-siakan kasih karunia yang telah Allah berikan kepadamu. Hiduplah dengan ucapan syukur setiap hari. Jika kita tidak dapat bersukacita—karena merasa kesukaran selalu mengintai dan membuat hati gelisah—maka itu bisa menjadi tanda bahwa kita telah mati secara rohani. Tidak ada sukacita karena tidak ada pengharapan. Tetapi saat kehidupan rohani dan jasmani kita dipulihkan oleh Tuhan, maka kita akan sadar bahwa kita masih diberi kesempatan untuk berjuang, untuk bertahan, dan untuk terus berharap. Kita tidak pernah tahu kapan badai akan reda. Tapi kita tahu kepada siapa kita bisa bersandar. Ubah pola pikirmu—belajarlah untuk selalu mengandalkan Tuhan dan datang kepada-Nya dalam doa, bukan hanya saat tenang, tetapi terutama di tengah badai.

Rasa malu pun patut kita rasakan—mengapa bisa begitu yakin kepada diri sendiri dan lupa bahwa hanya Tuhanlah sumber pertolongan sejati? Keyakinan pada kekuatan pribadi tanpa Allah bukanlah keberanian—itu kebodohan.Karena itu, berserulah kepada-Nya. Hiduplah dalam kesadaran penuh bahwa setiap nafas yang kita hirup adalah anugerah. Jangan hidup dalam kelalaian rohani, tapi dalam kesungguhan untuk terus dipimpin oleh-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

LW – IT

Dapatkan Link renungan Harian dari elohim.id setiap hari dengan bergabung kedalam Grup Renungan Harian kami
Silahkan ketik Nama (spasi) Daerah asal (Spasi) No Hp yang anda daftarkan
Kirim ke 0895-1740-1800
Tuhan Memberkati dan tetap bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *