Elohim Ministry umum Sukacita Tak Berujung

Sukacita Tak Berujung



Renungan Harian Jumat, 01 September 2023

Tema dari kitab Filipi adalah sukacita, yang diikat dalam satu konsep yaitu sukacita di dalam Kristus. Bersukacita adalah penting dalam kekristenan, tetapi tidak dalam bentuk tertawa terbahak-bahak yang merupakan sukacita sesaat yang kemudian akan merasa kering. Sukacita sejati adalah sukacita yang mendalam, berakar, betul-betul menyentuh sampai ke dalam hati, dan reaksi yang muncul adalah Justru malah meneteskan air mata. Sukacita yang sejati akan membuat hidup penuh sukaacita, dan sukacita tersebut akan berpengaruh besar dalam hidup seseorang.

Kalau kita pada akhirnya melihat nilai akhir dari sukacita yaitu, sukacita yang begitu besar karena kita mendapatkan sesuatu yang begitu bernilai, yang kekal, yang mulia, yang begitu mahal, dan apa yang kita dapatkan bukanlah hanya sesaat melainkan sampai ke surga nanti pun tetap merupakan bagian kita. Hal ini yang disebut dengan sukacita axiologis

Hal inilah yang disebut dengan iman sejati, dan penulis kitab Filipi yaitu Paulus terlebih dahulu telah merasakan dan mengalaminya. Paulus sebelumnya adalah orang yang beragama, sangat beriman, orang Yahudi asli, pembela iman yang luar biasa serta menganiaya pengikut jalan Tuhan, orang Farisi yang memiliki pengertian theologis yang luar biasa, dari kecil sudah menjalankan Taurat. Paulus bisa bangga sebagai orang yang beragama, tetapi sebenarnya imannya salah arah. Pada waktu dia mengenal Kristus, dia baru mengetahui bahwa bukanlah aktivitasnya melainkan isi imannya yang membuat dia sadar bahwa dia telah mendapatkan sesuatu yang mulia. Dia juga mengajak jemaat untuk dapat masuk ke sana.

Seorang Theolog Amerika Francis Schaeffer (1912 — 1984) lahir di Philadelphia, Pennsylvania. seringkali mengungkapkan tentang iman percaya yang menempatkan pikiran kristus didalamnya adalah: saya melakukan apa yang saya pikirkan, dan saya memikirkan apa yang saya percaya.

Pikiran kita adalah implementasi dari iman kita.
Pikiran kita dijalankan dalam perbuatan kita.
Maka hidup kita adalah buah dari pikiran dan perasaan kita, yang merupakan hasil dari pengenalan akan Kristus. Iman kepada Kristus yang benar akan menghasilkan pikiran dan perasaan yang benar dan selanjutnya menjadikan hidup kita menjadi benar.
Jikalau urutan ini benar, maka kita akan hidup dalam SUKACITA.

Jadi Paulus mengajak kita untuk bersukacita dengan cara: hidup dalam proses untuk mengembalikan pikiran dan perasaan kita kepada Kristus yaitu dengan beriman kepada Kristus. Pointnya terdapat dalam

Filipi 2:4 yaitu: dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Inilah kunci hidup dalam SUKACITA SESUNGGUHNYA yang disebut dengan sukacita altruistik.

SUKACITA ALTRUISTIK adalah sukacita yang tidak memikirkan kepentingan diri sendiri, melainkan memikirkan kepentingan orang lain. Ketika kita tahu bahwa menolong orang lain akan mendatangkan sukacita, NAMUN kita tetap tidak mau menjalankannya dengan alasan kita tidak berkepentingan untuk menolong orang lain.

Kalau kita sibuk dengan kepentingan kita sendiri, kapan kita bisa bersukacita? Walaupun kita mendapatkan apa yang kita mau, kita tetap tidak bisa bersukacita. Karena Kemauan / keinginan kita tidaklah pernah habis, justru menjadikan kita semakin “tertuntut Dan stres”.

Psikolog humanistik, Abraham Maslow, mengatakan bahwa semua kebutuhan manusia haruslah dipenuhi, kalau tidak terpenuhi akan menjadikan manusia itu tidak beres/ gila. Ada 5 kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia, menurut Maslow, yaitu: kebutuhan fisik (makanan, minuman, pakaian), kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan akan estetika atau keindahan, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Abraham Maslow, menjelaskan bahwa aktualisasi diri adalah proses untuk menjadi segala sesuatu yang seseorang seharusnya mampu menjadi. Selain itu, Maslow juga menjelaskan bahwa aktualisasi diri merupakan puncak dari pemenuhan kebutuhan seseorang

Dunia sekarang ini meneriakkan tentang tujuan utama manusia yaitu aktualisasi diri. Namun pertanyaannya adalah, apakah Orang yang mengejar aktualisasi diri, akan lebih sukacita atau justru semakin stress? Mari kita belajar kepada pribadi Yesus yang tidak mengejar aktualisasi diri, yang rela melepaskan haknya walaupun Dia memiliki kemampuan yang sangat besar. Bagaimana kita belajar terbebas dari bahaya aktualisasi diri ?

Mari kita belajar dari Filipi 2:7-8 yaitu: melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Bagaimana dengan kita?

Kita lihat Filipi 2:3: dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.

Mari kita belajar memikirkan kepentingan orang lain, untuk menjadi berkat bagi orang lain Alangkah indahnya kalau kita bisa melaksanakan semuanya itu, dan kita akan menemukan SUKACITA yang sesungguhnya.

Filipi 2:1: Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Kalau kita merendahkan diri, kita akan mengalami persekutuan kasih, persekutuan Roh, hidup di dalam kasih mesra karena saling memperhatikan.

Cinta dalam Kasih bukanlah sesaat namun merupakan tindakan yang berlangsung terus menerus sampai mati, yang berusaha memberikan yang terbaik untuk yang dikasihi. Mari kita belajar dan berjuang bersama-sama menerapkan pikiran dan perasaan Kristus dalam hidup kita. Serta menemukan SUKACITA yang SESUNGGUHNYA.

Selamat menemukan SUKACITA yang SESUNGGUHNYA

Pdt. Budi Wahono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *