Renungan Harian Youth, Rabu 05 April 2023
Yesaya 53:5, Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
Pada masa kini, salib seringkali dipandang hanya sebagai aksesoris. Salib sekadar penghias anting, hiasan dinding, liontin kalung, ornamen pakaian atau cincin. Salib juga terkadang dikaitkan dengan identitas agama Kristen. Jika seseorang atau sebuah gedung memasang tanda salib maka kita bisa menduga bahwa orang itu atau pemilik gedung itu adalah orang Kristen. Namun pertanyaannya, apakah sebatas itu pemahaman kita tentang salib?
Hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan dosa manusia.
Yaitu melalui seorang manusia yang tidak berdosa yang rela menggantikan manusia berdosa menerima penghukuman. Mungkinkah ada seorang manusia yang tidak berdosa yang rela menanggung dosa orang lain? Mungkin ada orang yang berani mati bagi seseorang yang sangat dikasihinya, bahkan ia rela menanggung dosa kekasihnya di Neraka. Namun, jika ia sendiri juga seorang berdosa, ia tidak layak menjadi penanggung dosa, karena ia sendiri termasuk yang akan dihukum di Neraka. Hukuman yang diterimanya di Neraka itu adalah porsi untuk dirinya, bukan porsi orang lain yang ditanggungnya. Adakah orang yang tak berdosa yang secara sukarela menyerahkan diri menjadi penanggung dosa?
Bagi manusia, hal itu mustahil. Karena ada beberapa syarat yang menghalanginya. Syarat yang pertama, sang Penyelamat harus seorang yang tak berdosa. Syarat kedua, harus dilakukan atas kesukarelaan hatinya. Itu berarti, diperlukan seorang yang maha suci dan juga maha kasih. Dari persyaratan-persyaratan tersebut di atas, jelas sekali hanya Allah saja yang dapat melakukan semua itu. Dan itu semua digenapi oleh Yesus Kristus ketika turun ke dunia ini.
Pemulihan dan kesembuhan kita dari penyakit kronis dosa (yang jauh lebih mengerikan daripada penyakit kanker sekalipun), telah dibayar sangat mahal dengan luka-luka dan bilur-bilur penuh darah Sang Hamba yang menderita, Yesus Kristus.
Rekan-rekan youth, Ada dua makna salib di dalam perenungan kita pada momen paskah yang kita rayakan. Pertama, salib adalah jalan penderitaan. Dalam perikop bacaan disampaikan bagaimana Kristus harus menghadapi berbagai macam penderitaan dan hinaan. Sebelumnya Dia begitu dicari orang, tetapi ketika tuduhan dan fitnahan dituduhkan kepada-Nya maka tidak ada seorang pun yang mau datang kepada-Nya, bahkan menyangkali dan mengkhianati serta menyalibkan Kristus. Inilah panggilan salib yang harus Kristus alami. Dia menderita dan mati di salib bukan karena kesalahan-Nya sendiri. Kita pun terkadang harus memikul salib seperti Kristus, menderita bukan karena kesalahan kita.
Hendaklah kita diingatkan bahwa kita harus tetap bertahan menghadapi penderitaan karena itu adalah panggilan kita sebagai orang Kristen.
Kedua, salib adalah jalan penebusan. Salib menjadi jalan bagaimana Kristus yang tidak berdosa menanggung dosa umat manusia. Ayat 4-6 menjelaskan bagaimana Kristus disalib bukan karena kesalahan-Nya, tetapi karena kesalahan dan dosa umat manusia. Dia disalib untuk menanggung penyakit rohani manusia, yaitu dosa. Dia juga memikul kesengsaraan manusia yang terpisah dari Allah. Intinya? Sejak penciptaan dunia, rencana Tuhan akan keselamatan sudah bergerak maju dengan stabil. Melalui ramalan Nabi Yesaya, Yeremia, dan lainnya, dia telah mengatakan pada dunia tentang rencana, yang akan terpenuhi ketika Yesus datang dalam kemuliaan
Kristus bahkan rela menerima semua penderitaan tersebut demi menebus dan menggantikan kita yang berdosa.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia—pada intinya—menurunkan Anak-Nya yang tunggal ke balik pagar dosa kita, dengan pemberian kasih dan pemulihan bagi dunia kita yang kacau dan jauh dari-Nya (Yoh. 3:16). Nabi Yesaya menubuatkan harga yang harus dibayar dari tindakan kasih Allah itu dalam Yesaya 53:5. Anak itu akan “tertikam oleh pemberontakan kita, . . . diremukkan oleh kejahatan kita.” Bilur-bilur-Nya membawa pengharapan akan pemulihan kekal. Dia menanggung sendiri “kejahatan kita sekalian” (ay.6).
Kita bersyukur sekali karena Dia telah merencanakan dan bahkan telah bertindak untuk menyelamatkan manusia yang jatuh ke dalam dosa.
Tindakan yang Allah lakukan adalah yang tidak akan bertentangan dengan sifat-sifatnya. Sebagai manusia yang berdosa dan memberontak kepada Allah, seharusnya kita terkutuk, pantas mati dan mengalami kebinasaan. Namun, dengan darah Kristus yang tercurah dan tubuh-Nya yang disalibkan, Dia membayar dan menebus kita dari hukuman maut. Syukurilah karena oleh darah-Nya kita disembuhkan dari sakit rohani kita. Maknai kebebasan dari belenggu dosa kita dengan penghargaan tinggi, dengan sikap hormat dan bertanggung jawab atas anugerah keselamatan itu.
Kita, yang hidup sesudah pelaksanaan pengorbanan domba Allah, diperintahkan untuk beriman kepadaNya. Hanya melalui percaya kepadaNya, belajar dan mengerti apa yang diajarkanNya dan melaksanakan perintahNya manusia bisa diselamatkan dari penghukuman. Dia menanggung semua dosa kita. Kita yang mestinya terdakwa dan menjalani semuanya. Berbicara tentang Injil maka Injil adalah kabar baik. Tetapi kabar baik itu diawali oleh kabar buruk yaitu kengerian, hukuman dan kesengsaraan. Mestinya kita yang harus dihukum, mengalami kesengsaraan dan harus disiksa tetapi Kristus menggantikan kita.
KEMATIAN KRISTUS TIDAK PERNAH SIA-SIA, ADA PENEBUSAN YANG DIA BERIKAN KEPADA MANUSIA.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – NDK