Renungan Harian Rabu, 05 April 2023
Bacaan: Matius 26:14-16
Alkitab menceritakan Yudas Iskariot berkhianat dengan menyerahkan Tuhan Yesus Kristus kepada imam-imam seharga 30 keping perak. Para imam telah sepakat memberi Yudas 30 keping perak jika dia mengkhianati Yesus. Yudas pun membawa para imam kepala dan orang-orang Farisi untuk mencari Yesus. Mereka juga membawa sepasukan prajurit Romawi yang bersenjata dan seorang komandan.
Apa yang memotifasi Yudas mengkhianati Yesus? Perikop kita hari ini diberikan judul oleh LAI, “Yudas mengkhianati Yesus”. Banyak penafsir di masa kini yang memikirkan ulang tentang rencana pengkhianatan Yudas.
Ada beberapa penafsiran tentang motifasi Yudas
Menurut para penafsir, mereka menyatakan bahwa alasan Yudas mengkhianati Yesus adalah karena merasa sakit hati ketika Yesus menegur dia waktu ia mencela perempuan yang mengurapi Yesus.
Penafsir yang lain lagi berpikir bahwa Yudas melakukan hal itu karena tamak akan uang yang ditawarkan oleh musuh-musuh Yesus. Lukas dan Yohanes hanya mengatakan bahwa Iblis yang mendorong perbuatan Yudas (Luk. 22:3; Yoh. 13:27).
Tetapi di waktu kemudian, ada beberapa penafsir pula yang melihat fakta bahwa ketika Yesus disalib dan mati, Yudas datang menghampiri para imam kepala Yahudi itu seperti yang di kisahkan oleh Rasul Matius dalam pasal 27:3-6.
Hal ini didukung dengan fakta bahwa Yudas Iskariot sebelum menjadi murid Kristus adalah seorang pembela kemerdekaan Israel dari tangan orang Romawi yang tergabung dalam kelompok Zelot. Belum lagi ditambah dengan beberapa penafsir yang mengaitkan nama Iskariot dengan “Orang dari Sicarius” (sicarius artinya pembuat pedang). Dan sekali lagi, orang Sicari memang adalah garis keras yang memperjuangkan kemerdekaan Israel dari penjajahan Romawi.
Jadi, menurut para penafsir yang baru ini, Yudas sebenarnya bukan sedang ingin mengkhianati Yesus secara harafiah. Yang Yudas inginkan adalah Yesus mulai bergerak untuk melawan orang Romawi dan berperang demi kemerdekaan Israel.
Ketika Yesus memilih jalan salib, itulah yang membuat Yudas menyesal sungguh, karena apa yang direncanakannya yaitu bahwa ketika Yesus dihampiri oleh para tentara Romawi di taman Getsemani, diharapkan Yesus mulai tergerak untuk mengusung senjata dan melawan Romawi, Matius 26:50-52, ternyata Yudas salah.
Apa yang dapat kita pelajari dari Tafsiran-tafsiran itu:
Bila yang satu mengatakan bahwa Yudas memang “gila harta” dengan menjual Yesus dengan hanya seharga 30 keping uang perak. Hari ini godaan orang percaya bahkan lebih mahal lagi bukan? Harga yang mahal telah tersedia bagi siapa saja orang percaya yang mau sekali lagi menjual Yesus di hari ini, ada yang menjual Yesus karena harta, karena pasangan hidup, karena pangkat, dan lain sebagainya.
Sedangkan dalam tafsir terakhir, kesalahan utama Yudas adalah keinginannya untuk menentukan jalan yang harus ditempuh oleh Yesus. Yesus harus memimpin Israel untuk memberontak, Yesus sudah punya semuanya yang perlu untuk itu (kuasa, karisma, kumpulan besar orang yang siap berperang). Itu yang menjadi masalah Yudas, sebab Yesus datang ke dunia bukan untuk menjadi raja Israel, melainkan untuk menebus dosa manusia di kayu salib. Mencoba menyetir jalan dan rencana Tuhan, pun masih sering terjadi bukan?
Mari kita belajar dari renungan kita hari ini, jangan jual Tuhan Yesus dengan alasan apapun. Ijinkan Tuhan Yesus yang mengatur segala sesuatu dalam hidup kita, sehingga Dia dipermuliakan dalam hidup kita.
Tuhan Yesus memberkati.
CM