Renungan Harian Youth, Selasa 01 Oktober 2024
Mazmur 23:4, Sekalipun aku berjalan dalam kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Di Israel, di jalanan dari Yerusalem menuju Yerikho, ada sebuah lembah yang disebut Lembah Kekelaman. Di zamannya, Raja Daud mungkin telah melalui jalanan ini berkali-kali. Beberapa lembah di sepanjang jalan Yerikho menyempit di bagian dasar, dalamnya sekitar 243 meter. Satu-satunya waktu di mana kita bisa melihat sinar matahari ialah di waktu siang hari dan ketika matahari berada tepat di atas kepala.
Di dalam Alkitab, lembah seringkali dijadikan sebagai metafora untuk masa-masa sulit, masa kegelapan, keputusasaan, kekalahan, atau ketidakberdayaan. Mazmur 23: 4 mengatakan, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya Manusia akan merasa bahagia kalau ada orang yang menemani dan mendukungnya tatkala mengalami kegagalan. Namun, jujur kita akui, jarang ada orang yang peduli dan mau menemani kita tatkala menderita. Mungkin ada orang yang mau tertawa bersama tatkala kita tertawa, tetapi sedikit sekali orang yang mau menangis bersama tatkala kita menangis.
Melewati masa sulit adalah bagian hidup yang tidak dapat kita hindari.
Sama seperti yang ditunjukkan oleh keadaan alam, di mana ada pegunungan, di situ pasti ada lembah. Artinya , untuk mencapai puncak tertinggi, kita mau tidak mau harus berjuang melewati lembah. Jadi secara rohani, kita harus menyadari bahwa untuk mencapai tempat seperti yang Tuhan kehendaki, terkadang kita harus melewati situasi sulit atau lembah kelam.
Ada hal-hal tentang Allah yang hanya dapat kita lihat saat kita berjalan dalam masa sulit atau suram. Dalam situasi sulit, kita bisa belajar tentang karakter Tuhan, kebenaran dari janji-janjiNya, bahkan menemukan kelemahan kita sendiri yang belum sesuai dengan kehendakNya, sehingga kita dapat segera mengoreksi dan memperbaikinya.
Daud tidak gentar sekalipun harus melewati lembah kelam atau masa sulit, sebab ia sudah diperlengkapi dengan pengetahuan yang benar akan FirmanNya dan keyakinan yang kuat tentang Allah sebagai Gembala yang baik, yang selalu menyertaiNya; bahkan kekuatan dan kuasaNya disiapkan sebagai penghiburan bagi umat-umatNya.
Walaupun demikian, sebagai orang-orang percaya, kita harus menyadari bahwa kita tidak sendirian. Ada gembala yang baik, yaitu Yesus Kristus, menyediakan seluruh kebutuhan kita. Dia memberikan keamanan. Dia siap menolong setiap domba dari segala ancaman musuh. Dia bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya agar domba-domba-Nya selamat (bdk. Yoh. 10:11-15).
Karena kesetiaan-Nya ini, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap Sang Gembala?
Pertama, percaya penuh Yesus pelihara kita. Seharusnya, kita sebagai domba, tidak boleh ragu terhadap Sang Gembala. Sang Gembala sudah berjanji akan menyediakan segala yang dibutuhkan oleh dombanya (ay. 1). Karena itu, sang domba harus percaya bahwa besok akan ada makanan buatnya. Ada keamanan tatkala binatang buas mengancam. Ada tempat perlindungan yang hangat tatkala malam tiba.
Kedua, taat kepada Yesus. Selain percaya, kita pun harus taat kepada-Nya. Kalau kita percaya penuh kepada Tuhan sebagai gembala kita yang baik, maka kita harus taat kepada-Nya. Berkat Tuhan hadir dalam hidup orang-orang yang taat kepada-Nya. Domba akan hidup baik selama ia taat kepada Sang Gembala. Kisah domba yang hilang (Luk. 15:1-7) mengajarkan kepada kita bahwa ketika domba mencari jalannya sendiri, justru ia mengalami kesulitan, jatuh dalam jurang, dan terkena semak duri. Sebaliknya, domba yang taat, tetap hidup dalam pemeliharaan Sang Gembala.
Berdasarkan hal ini, kita dapat melihat bahwa Firman Tuhan merupakan salah satu perlengkapan rohani yang Tuhan sediakan kepada orang percaya untuk melewati masa sulit. Itulah sebabnya, kita diajarkan untuk menyimpan kebenaran FirmanNya ke dalam hati kita.
Orang percaya yang tidak memiliki perbendaharaan Firman dalam hatinya, akan mudah goyah dan panik ketika berjalan di lembah kesukaran.
Rekan-rekan youth, Janganlah berpikir kita akan diberkati jika berada di luar Tuhan. Jangan beranggapan bahwa dengan mengikuti jalan dunia, kita bisa memiliki sukacita sejati. Dunia menawarkan kesenangan sesaat, tetapi setelah itu ada kesusahan sebagai buah dari cara hidup dunia yang berdosa dan tidak berkenan kepada Allah. Karena itu,
Mendekatlah selalu kepada Sang Gembala yang baik. Percayalah, Dia tidak pernah meninggalkan kita.
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. ada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
Ini menunjukkan bahwa dalam saat-saat sulit, manusia dapat mengandalkan Allah untuk memberikan perlindungan, dukungan, dan kekuatan. Kehadiran dan kekuatan-Nya akan memberikan ketenangan dan keyakinan.
BERSAMA TUHAN KITA TENANG, KARENA DIA ADALAH GEMBALA YANG BAIK.
Amin, Tuhan Yesus Memberkati
RM – DOT