Elohim Ministry youth TUJUAN TUHAN MEMBERKATI KITA

TUJUAN TUHAN MEMBERKATI KITA



Renungan Harian Youth, Selasa 04 Juli 2023

– 1 Timotius 6:17,  Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap kepada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

Anda mungkin tahu serial kartun Jepang berjudul Doraemon. Salah satu karakter paling menyebalkan dalam Doraemon adalah bocah bernama Suneo Honekawa. Mengapa menyebalkan? Karena Suneo sebenarnya lemah tetapi sombongnya luar biasa. Mentang-mentang berteman dengan bocah kuat berbadan raksasa bernama Goda Takeshi (diberi julukkan Giant), Suneo suka mencibir dan mengejek Nobita, tokoh utama Doraemon, sehingga sering menjadi korban bully Giant. Ini merupakan salah satu dari banyak contoh kasus betapa ada begitu banyak orang-orang kaya yang memiliki sikap arogan dan tidak memahami untuk apa mereka dipercayakan dan menikmati kelimpahan dalam bentuk harta.

Masih banyak orang yang mengejar kekayaan dunia. Anehnya, semakin kaya tidak menjadikannya semakin pemurah tetapi cenderung pelit.

Kerinduan Tuhan adalah memberkati umat-Nya sebagaimana yang Ia katakan,  “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”  (Yohanes 10:10b).  Dengan berkat yang Ia curahkan Tuhan menghendaki anak-anakNya hidup dalam kebahagiaan, dipenuhi ucapan syukur dan tidak melupakan kebaikan-Nya.  “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!”  (Mazmur 34:9a).  Kata kecaplah  (Ibrani, ta’am) artinya merasakan.  Sedangkan kata lihatlah  (Ibrani, ra’ah)  artinya memperhatikan atau memeriksa.  Daud mengingatkan agar setiap kita senantiasa mengingat dan memperhatikan kebaikan-kebaikan yang telah kita terima dan rasakan.

Bagaimanakah KAYA yang BERKENAN bagi Allah?

MILIKILAH HATI YANG KAYA

Oseola McCarty adalah seorang tukang cuci pakaian di Hattiesburg, Mississippi. Tahun 1995, ia menjadi perhatian dunia setelah diketahui telah menyumbangkan 150.000 dollar kepada The University of Southern Mississippi. Ini adalah jumlah yang mengejutkan mengingat bayaran pekerjaannya yang cukup rendah. Tabungan seumur hidupnya itu ia berikan untuk dana beasiswa bagi siswa-siswa yang membutuhkan bantuan keuangan. Oseola ternyata ingin orang lain memiliki kesempatan pendidikan yang tak pernah ia terima.

Masyarakat kita mungkin menghargai seberapa banyak yang kita miliki, tapi Tuhan menghargai pemberian kita bagi Tuhan dan sesama. Ketika Yesus berada di Bait Allah dan melihat orang-orang memasukkan persembahan disana, Ia memuji janda yang memberi dua peser (Markus 12:41-44). Dalam bacaan Alkitab hari ini, kitapun membaca Rasul Paulus memberi instruksi kepada anak didiknya Timotius untuk mengeluarkan peringatan bagi orang-orang kaya agar mereka jangan tinggi hati dan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan. Peringatkan mereka untuk berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi. Ini adalah peringatan yang seharusnya kita lakukan sebagai antisipasi dari kesedihan atau penyesalan yang akan datang dari sikap mencintai uang. Sebagaimana yang Alkitab nyatakan bahwa kemurahan hati adalah upaya mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya yaitu hidup kekal, hidup yang sejati. Dengan mengetahui firman Tuhan ini, jangan lagi menunda atau menunggu sampai kita punya banyak uang untuk memberi. Sebaliknya,

kita harus mulai mencari kesempatan untuk menggunakan setiap sumber daya yang telah Tuhan percayakan pada kita untuk kepentingan orang lain dan kerajaan Allah.

Firman Tuhan mengajar kita untuk tidak tinggi hati dan tidak berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan. Hanya Tuhan tempat berharap yang paling aman. Ketika kita memiliki kekayaan, sepatutnya kita bersyukur, namun juga menyadari bahwa kekayaan itu bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Hanya orang bodoh yang mengejar dan berharap kepada kekayaan. Tuhan mau kita mengejar sesuatu yang jauh lebih berarti yaitu keadilan, ibadah, kesabaran, dan kelembutan (ay. 11). Kita didorong untuk terus berpegang pada hidup kekal yang diberikan Allah (ay. 12, FAYH). Kekayaan memang penting dan dapat membuat hidup lebih nyaman dan enak, tetapi kekayaan bukanlah segalanya. Saat lahir kita tak membawa apa-apa, saat mati pun sama saja. Kita diundang untuk mengumpulkan harta di surga, dengan berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan berbagi (ay. 19).

Adapun kebaikan Tuhan itu tidak pernah habis dan tak berkesudahan, bahkan  “…selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23). 

Jadi berkat Tuhan adalah untuk dinikmati sehingga kita merasakan bahagia dan sukacita.  “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah.”  (Pengkotbah 5:18).  Namun seringkali harta kekayaan yang melimpah justru menjadi bumerang bagi banyak orang.  Mengapa?  Karena mereka memiliki sikap yang salah dalam  ‘memperlakukan’  harta kekayaan tersebut.  Mereka telah menempatkan harta atau kekayaan sebagai sandaran hidup, mereka  “…percaya akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka…”  (Mazmur 49:7).  Harta kekayaan yang telah mereka jadikan ilah baru menggantikan posisi Tuhan, yang sesungguhnya adalah Sang pemberi berkat.

Alkitab menegaskan bahwa harta kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti dan sewaktu-waktu bisa lenyap.  “Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.”  (Amsal 23:5).

Adalah sia-sia jika seseorang menyandarkan hidupnya kepada harta kekayaan,  “Karena harta benda tidaklah abadi.”  (Amsal 27:24a)  dan tidak dapat menyelamatkan! Kaya  secara  duniawi  memiliki harta uang  dan  tahta, kaya  secara  rohani  memiliki  kasih  Kristus.  Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Semakin banyak Tuhan memberkati kita—entah harta entah kesehatan—biarlah kita semakin rendah hati. Kita dapat belajar memakai berkat Tuhan untuk memberkati sebanyak mungkin orang dan memenangkan pertandingan iman yang benar.

Amin, Tuhan Yesus Memberkati

RM – DOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *