Elohim Ministry umum Menghidupi Kebebasan

Menghidupi Kebebasan



Renungan Harian Rabu, 31 Mei 2023

Bacaan: 1 Korintus 8:1-13

Ada dua hal penting dari pembacaan kita hari ini:

  • “daging yang dipersembahkan kepada berhala-berhala.”
  • identitas orang “yang kuat” dan “yang lemah.”

Daging

eidôlothutos mengacu pada “makanan yang dipersembahkan di kuil berhala.”

Richard Oster : Berdasarkan penyelidikan arkeologis ia mengemukakan, “Meskipun tidak ada pemikiran untuk memakan makanan ‘nonreligius’ di kuil-kuil penyembah berhala, namun harus diingat bahwa ruang makan di kuil juga digunakan untuk upacara-upacara lain selain dari upacara penyembahan berhala yang resmi.” Menurut Oster, data arkeologis yang ada di kuil Asclepius, dan Demeter dan Kore yang terletak di kota Korintus menunjukkan bahwa kuil-kuil tersebut memiliki banyak fasilitas ruang makan. Ruang-ruang makan tersebut dapat pula digunakan untuk acara-acara sosial dan budaya masyarakat kota Korintus. Orang-orang Kristen dapat diundang untuk datang pada acara tersebut, yang belum tentu melibatkan mereka dalam kultus penyembahan berhalanya.

“Yang kuat” dan “Yang lemah”

“yang kuat” adalah mereka yang memiliki banyak “pengetahuan” tentang iman Kristen. Sebaliknya, mereka “yang lemah” adalah para petobat baru. Mereka “yang lemah” menghadapi pergumulan yang hebat ketika melihat “yang kuat” melakukan hal ini, sehingga iman mereka bukannya dibangun oleh iman “yang kuat” (8:1), malahan didorong untuk kembali pada keberadaan mereka yang lama. Inilah alasan mengapa Paulus berkata bahwa dengan melakukan hal itu, “yang kuat” menyebabkan “yang lemah” berdosa.

Memang makanan itu pada dasarnya tidak mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, namun jikalau makanan itu memberi dampak negatif pada mereka “yang lemah,” maka lebih baik kita tidak makan makanan tersebut.

Ada Tiga Pertimbangan Prinsip dalam mempergunakan kebebasan kita:

Pertimbangan Motivasi: Kasih sebagai prinsip tertinggi (8:1-3)

Meskipun mereka mengaku telah memiliki “pengetahuan” tetapi tanpa kasih itu tidak cukup. Karena Pengetahuan tanpa kasih akan membuat kita menjadi Sombong. Jika mereka mengaku telah memiliki “pengetahuan,” maka lebih dari itu seharusnya mereka memiliki kasih. Hanya dengan kesadaran bahwa mereka telah dikasihi Allah dan harus mengasihi saudara mereka yang lain, barulah mereka bisa ingat akan keberadaan saudara “yang lemah.”

Pertimbangan Alkitabiah: Hanya ada satu Allah (8:4-6)

Paulus membahas pengertian Alkitabiah tentang Allah dan berhala-berhala.

Paulus membuat pernyataan langsung tentang karya penyelamatan Kristus, yaitu bahwa Allah yang mereka sembah di dalam Kristus adalah Allah yang benar, sumber dari segala sesuatu. Allah yang demikianlah yang telah menciptakan mereka, oleh karena itu hidup mereka bergantung penuh pada-Nya. Ia lebih berkuasa daripada allah-allah dan tuhan-tuhan yang lain yang tidak dapat memberikan kehidupan kepada mereka. Sebenarnya jika persembahan itu dimakan pun, mereka tidak akan dapat dipengaruhi oleh berhala-berhala tersebut karena Allah lebih berkuasa.

Pertimbangan Praktis: Janganlah kita menyebabkan orang lain tersandung (8:7-13)

Paulus lebih menegaskan hal ini. Dengan menggunakan bentuk imperatif secara tegas Paulus menasihatkan, “Berhati-hatilah!” Mereka “yang kuat” tidak boleh menjadi batu sandungan bagi orang yang baru percaya. Teladan mereka penting bagi yang lemah.

Menurut H. Ridderbos, pemikiran Paulus tentang “hati nurani” umumnya menunjuk pada “pengenalan akan diri orang itu sendiri.” Artinya, hati nurani adalah kesadaran dalam diri manusia yang memimpin aktivitas moralnya. Dengan hati nurani ia menimbang tindak-tanduknya menurut ukuran penilaian ilahi. Dari definisi tersebut kita dapat memahami bahwa hati nurani memerlukan suatu proses pertumbuhan. Seseorang yang baru percaya memerlukan waktu untuk dapat memiliki hati nurani yang mampu menilai apakah suatu tindakan adalah sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu para petobat baru tersebut belum dapat melakukan penilaian sebagaimana mereka “yang kuat.”

Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi yang lemah” (1 Kor. 8:9)

CM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *