Renungan harian Jumat, 30 Juni 2023
Bahan Bacaan : I Samuel 9:2
Syalom … kiranya berkat dan pertolongan Tuhan menyertai kehidupan kita semuanya.
Pagi ini kita mau belajar firman Tuhan lewat satu tokoh Alkitab yaitu: Saul. Mari kita baca dalam I Samuel 9:2,”Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun diantara orang Israel yang lebih elok dari padanya dari bahu ke atas, ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.”
Saul adalah seorang yang sangat ganteng bukan? Alkitab sendiri menuliskannya. Ketika Saul diangkat menjadi raja, dia memulainya dengan rendah hati, dengan mengatakan bahwa dirinya tidak layak, karena berasal dari suku terkecil di Israel (ayat21). Saul juga memperlihatkan kemampuannya dengan menyelamatkan satu kota yang dikuasai bani Amon. Hal ini membuat posisinya sebagai raja Israel, semakin diakui oleh rakyatnya.
Tak lama kemudian bangsa Israel harus berperang lagi menghadapi orang Filistin. Sebelum berperang, mereka harus mempersembahkan korban binatang kepaa Allah, serta menaikan doa-doa keberhasilan perang. Tetapi apa yang dilakukan Saul? Karena ketidaksabarannya, ia langsung mempersembahkan korban tanpa menunggu Samuel.
Dimulai dari sini dapat kita lihat tindakan/ perbuatan Saul yang membuat ia semakin jauh dari Allah dan Saul mengeraskan hatinya untuk menerima kebenaran Firman Tuhan.
Pertama, Saul lebih takut kepada manusia dari pada kepada Tuhan (I Sam. 13:11-12). Saul lebih mengutamakan kehormatan dirinya dari pada perintah Tuhan.
Kedua, Saul tidak taat akan perintah Tuhan. Saul mengklaim kalau dia memenuhi arahan Tuhan (I Sam. 15:13). Bahkan Saul mengalihkan tanggung jawab kesalahannya tersebut kepada prajuritnya. Ketika Samuel mendesak lebih jauh, Saul tetap bersikukuh kalau prajuritnyalah yang tidak taat. Dalam dua kejadian ini saja, kita menemukan suatu kecacatan karakter yang konsisten dalam kepribadiannya. Ia taat kepada rakyat dari pada kepada Allah. Samuel menyatakan sebuah prinsip yang sesuai dengan situasi apapun yaitu: “Mendengar lebih baik dari pada korban sembelihan”. Mentaati apa yang diperintahkan Allah jauh lebih penting dari pada pelayanan atau persembahan.
Ketiga, Saul menjadi sombong (I Sam 15:30), perhatiannya bukanlah dosanya, tetapi bagaimana ia tampil dihadapan rakyat. Ia ingin Samuel kembali bersamanya dan berpura-pura mempersembahkan korban dan persembahan, sehingga rakyat tidak tahu apa yang terjadi. Kehormatan public, citra, dan gengsi telah merusak Saul, sehingga kehormatannya melampaui kehormatan Allah. Saul mengatakan bahwa “aku telah berdosa” tetapi ia tidak bertobat dari dosanya. Dosa Saul yang berupa kesombongan, dan kurangnya penyesalan membuatnya jatuh.
Bapak/Ibu disini dapat kita lihat bagaimana kehidupan Saul. Saul bukannya tidak mendapat teguran dari Samuel, tetapi Saul mengeraskan hati terhadap teguran demi teguran dan nasehat Tuhan yang datang dalam kehidupannya. Belajar dari kehidupan Saul, hati yang mengeras, tidak akan punya tempat bagi pertobatan, pengampunan, dan pertumbuhan.
Saul memulai dengan baik, tetapi kemudian Saul diliputi kesombongan, ketidaktaatan dan kekerasan hati; dan akhir hidupnya, ia jatuh oleh panah orang Filistin dan pedangnya sendiri, tubuhnya diangkut dan dipaku ditembok kota Bet-Sean.
Ketika kita sudah memulai sesuatu yang baik, mari kita melakukan dan mengakhirinya dengan baik. Mari kita menjaga hati kita supaya tetap remuk dan hancur dihadapan Allah. Seperti pengganti Saul, yaitu Daud yang berdoa dalam penyesalannya yang sejati,
”Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk tidak Kau pandang hina ya, Allah.” (Mazmur 51:18-15).
Hari ini kita belajar kiranya kita memiliki kelembutan hati untuk mau senantiasa bercermin kepada Firman Allah dan mau untuk ditegur dengan kerendahan hati menerimanya. Sehingga kita menjadi sadar dan mau untuk bertobat, Kembali kepada jalan yang sebenarnya.
Kiranya Roh Kudus akan menolong kita melakukan kebenaran senantiasa, membentuk hati kita semakin berkenan kepada Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati
Amin.